Tittle                                    : Love Is…

 

Author                                : TurtleShfly

 

Twitter/FB                         : @Shfly_3421 / Choi Year

 

Blog                                       : http://ImELFChoiYera.wordpress.com

 

Genre                                  : AU! Gaje, romance, sad

 

Lenght                                : 1 of ?

 

Words                                 : 2,848

 

Cast                                     : Park Hyo Ra ; Cho Kyuhyun ; Lee Donghae

 

Disclaimer                          : FF ini milikku yang ke-8, All Cast milik Tuhan YME,  DAN KIM JONG WOON MILIK CHOI YERA, CHOI YERA MILIK KIM JONG WOON (sudah di daftarkan ke KUA)

 

 

 

Masalahnya tidak semudah itu…

Ini terlalu sakit untuk dirasa…

 

 

 

 

 

Gadis itu bergelut dengan selimut yang menutup seluruh tubuhnya. Menangis tertahan. Merasakan hatinya terus teriris. Merasakan ruang sesak dalam hatinya. Rindu yang tak berujung. Rindu yang kehilangan arah. Rindu yang tak mengenal waktu. Haruskah rindu seperti ini?? Inilah dia jika rindu sudah mendera. Tangisan yang mewakili. Tak bisa menjamah orang yang dirindukan. Tak bisa menyentuh orang itu. Wajarkah rasa itu?? Ya Tuhan berikan jawaban dari apa yang dipikirkan gadis itu.

 

 

Ia teringat ketika namjachingu-nya itu diusir oleh ayahnya. Sungguh demi apapun yang ada di bumi ini, ia terluka melihatnya. Terluka melihat cintanya yang tak kunjung direstui. Terluka karena orang yang dicintai terusir oleh ayahnya di depan mata kepalanya sendiri. Ia dilema, antara ayahnya atau kekasihnya. Ia tak ingin jika menjadi anak durhaka, tapi ia juga tak ingin melepaskan kekasih yang amat ia cinta. Kekasih yang selalu menemaninya selama 3 tahun terakhir. 3 tahun?? Bukankah waktu 3 tahun itu sangat lama?? Waktu yang mempunyai banyak kenangan. Haruskah terhapus begitu saja?? Haruskah terlupakan begitu saja?? Ini yang membuat gadis itu seperti kehilangan separuh nyawanya. Separuh oksigen dalam hidupnya.

 

 

Gadis itu membuka setengah selimutnya. Memandang langit-langit kamarnya. Matanya sembab kentara sekali kalau ia seperti menangis semalaman. Menangis karena rindu?? Oh…apa itu terdengar berlebihan??

 

 

Gadis itu duduk di tepian bed. Memandang lurus ke sebuah benda yang terpasang indah di dinding kamarnya. Sebuah foto dirinya dengan kekasihnya, lantas gadis itu tersenyum gamang. Park Hyo Ra – nama gadis itu – beranjak menuju kamar mandi. Membasuh wajahnya agar tidak terlalu terlihat sembab. Pasalnya hari ini ia mesti berangkat ke kampus. Hari pertama ia menjadi mahasiswa. Tidak etis bukan, jika ia berangkat ke kampus dengan mata sembab?? Apalagi jika ayahnya mengetahui hal ini, akan menjadi nilai tambah untuk alasan menjauhkan Lee Donghae dari hidupnya.

 

 

 

 

Lee Donghae dengan kadar ketampanan yang…err…seperti pangeran ini, sungguh sangat mencintai Hyo Ra dengan tulus. Lee Donghae seorang pria yang tidak disukai oleh ayahnya karena pria itu pecandu narkoba. Tuan Park beralasan kalau ia takut jika anaknya terjerumus ke benda bernama narkoba. Ia takut jika Donghae membawa dampak buruk pada Hyo Ra. Padahal jauh di dasar hati Donghae, pria itu tidak akan menjerumuskan Hyo Ra. Membiarkan dirinya saja yang masuk lebih dalam.

 

Itulah alasan yang membuat Hyo Ra juga mematuhi perintah ayahnya. Mematuhi untuk kebaikan Donghae. Padahal gadis itu jelas-jelas sudah meminta Donghae untuk berubah. Meninggalkan kehidupannya yang bergantung dengan narkoba.

 

“Chagi…kau sudah bangun??” suara ibu Hyo Ra memecah lamunannya. Dengan perasaan masih campur aduk, Hyo Ra menghapus air matanya yang mungkin masih tersisa lantas membuka pintunya. Tersenyum…kecut.

 

“Ne, eomma…tetapi aku akan pergi mandi sebentar..” ucapnya dengan suara yang sengaja ditegarkan.

 

“Kalau sudah eomma tunggu di bawah…” mengerti akan maksud kedatangan ibunya itu, Hyo Ra mengangguk dan tersenyum.

 

Hyo Ra mengguyur dirinya dengan air dingin berniat untuk mendinginkan pikirannya. Entahlah perasaannya terlalu hambar untuk sekarang. Gadis itu lantas mematut dirinya di depan cermin. Masih memakai kimono, ia mencoba menyamarkan matanya yang sembab. Ia berjalan menuju lemari pakaian dan tangannya terulur ke sebuah dress berwarna soft pink yang pernah diberikan oleh Donghae. Hyo Ra terdiam untuk sesaat, lantas ia menggelengkan kepalanya dan beralih ke sebuah dress selutut bermotif bunga-bunga. Mengambil high heels dan langsung berjalan keluar kamarnya. Terlihat Tuan Park sedang menyiapkan sarapan berupa roti untuk Hyo Ra.

 

“Chagi…ini untukmu.” Astaga…bagaimana mungkin Hyo Ra membenci sosok ayah seperti itu?? Seharusnya ia yang menyiapkan sarapan untuk ayahnya itu, kenapa harus sang ayah?? Hyo Ra mendekati sang ayah dan mencium pipi ayahnya itu. Kali ini ia memamerkan senyum tulusnya.

 

“Kau lupakan saja jika tetap ingin memasuki Inha University  bersama dengan pria itu.” Hyo Ra diam. Menikmati sarapannya yang sejatinya sangat tidak enak…di hati.

 

“Kau harus mematuhi ayah.” Hyo Ra tetap diam. Menahan genangan air mata di pelupuk matanya.

 

‘Mematuhi’?? Kata yang sangat sensitif di gendang telinganya. Ia bahkan menjauhi Donghae demi ayahnya itu, dan ia juga harus mematuhi ayahnya untuk melanjutkan study-nya di Kyunghee University…membiarkan harapannya untuk melanjutkan ke Inha University bersama dengan Donghae pupus sudah.

 

 

“Ayah…ibu…mianhaeyo…aku harus cepat ke kampus. Sudah hampir terlambat.,” ujarnya sembari menaruh roti yang baru digigit setengah ke piring dan membiarkan orang tuanya menatap bingung. Sebenarnya itu usaha gadis itu untuk menghindar dari setiap omongan Tuan Park yang mungkin akan membuat hatinya kembali tercabik.

 

 

 

 

 

=========

 

 

 

 

“Hyo-ya…” Hyo Ra berhenti. Wajahnya menegang. Ia takut untuk memutar tubuhnya. Ia sangat takut jika suara yang ia dengar hanya ilusinya saja. Suara yang mungkin akan menambah rasa rindunya. Suara dari Lee Donghae. Hyo Ra menghela lantas kembali melanjutkan langkahnya sampai sebuah tangan mencengkram pergelangan tangannya. Hyo Ra terperanjat ketika tangan itu memutar tubuhnya. Hampir saja Hyo Ra memeluk pria di hadapannya kalau ia tidak ingat janjinya dengan sang ayah.

 

Donghae mematung, ia menyadari perubahan yang diperlihatkan oleh Hyo Ra. Ia mencoba tersenyum ‘sewajarnya’ pada gadis itu.

 

“Mianhae, aku sudah sangat terlambat,” ujar Hyo Ra dengan nada sedikit gemetar sembari melepaskan cengkraman tangan Donghae yang sedikit kendur, namun Donghae tetap sigap mencengkram tangan Hyo Ra.

 

“Aku ingin kita kembali seperti dulu.” Hyo Ra terdiam. Menatap lemah manic mata Donghae yang terlihat memerah. Menatap miris tubuh Donghae yang semakin hari semakin kurus karena narkoba. Ingin sekali Hyo Ra memukul Donghae seperti dulu jika pria itu menyiksa dirinya terus menerus. Tapi saat ini berbeda…Donghae bukanlah miliknya lagi.

 

“Aku akan kembali padamu jika kau menjauh dari narkoba. Jika kau berubah Donghae-ssi.” Donghae terhenyak dengan embel-embel –ssi untuknya. Begitu cepatkah gadis itu melupakannya??

 

“Aku tidak bisa, Hyo-ya…jeongmal mianhae.” Cengkraman Donghae mengendur dengan sendirinya.

 

“Walaupun demi aku, kau tetap tidak bisa?? Kau tidak ingin memasuki panti rehabilitasi?? Tidak ingin sembuh?? Kau tidak mencintaiku, oppa??” pertahanan Hyo Ra jebol, gadis itu menangis. Lagi. Lantas lebih memilih pergi meninggalkan Donghae yang menunduk.

 

“Aku tetap mencintaimu, Hyo Ra-ya!!!” pekik Donghae ketika gadis itu sedikit jauh dari jaraknya berdiri.

 

 

 

 

=================

 

 

 

“Hyo-ya, kau tak apa??” sapa Hye Jin – sahabat – Hyo Ra. Gadis yang memakai dress selutut berwarna soft pink itu hanya melempar senyuman pada Hye Jin dan detik kemudian ia berhambur ke pelukan Hye Jin. Menumpahkan seluruh tangisnya. Hye Jin mengusap punggung Hyo Ra. Mebiarkan Hyo Ra menaangis. Mungkin dengan tangisan Hyo Ra bisa sedikit tenang.

 

“Kau mau bercerita??” tanya Hye Jin ketika Hyo Ra mengusap air matanya. Menghentikan tangisnya.

 

“Jika kau tidak ingin bercerita…tidak apa.” Tambahnya sembari mencengkram lembut punggung Hyo Ra.

 

“Donghae oppa…dia…dia menemuiku..” ujar Hyo Ra di sela tangisnya. Hye Jin membelalakan matanya. Terkejut. Karena gadis itu tahu permasalahan yang dialami oleh Hyo Ra.

 

“Lalu??”

 

“Dia tetap seperti dulu. Dia tidak ingin berubah, Hye Jin-ah… dia tidak mencintaiku.” Hyo Ra kembali tersedu. Ingatannya tentang Donghae kembali berputar dalam otaknya seperti kemidi putar. Membuatnya sakit dan terluka.

 

“Aku tidak tahu harus berbicara apa, Hyo-ya. Aku tidak bisa merasakan apa yang kau rasa, namun aku mengerti bagaimana rasa itu. aku juga tidak tahu aku harus melakukan apa untukmu. Yang kutahu sekarang, aku membiarkanmu menangis dan akan melarangmu jika kau menangis lagi karena pria bodoh itu. Pria yang menyia-nyiakanmu. Kau harus kuat Hyo-ya.. jika Donghae memang benar mencintaimu, dia akan bisa berubah untukmu. Sesulit apapun kata perubahan itu untuk dilaksanakan, jika sudah menyangkut cinta, kata itu tidak bermakna lebih lagi. Kau jangan terpuruk seperti itu.”

 

“Menangislah jika kau ingin menangis. Tapi, menangislah untuk orang yang tepat. 3 tahun itu memang lama…sangat lama bahkan. Tapi, 3 tahun itu tidak ada artinya jika Donghae tetap seperti itu. Jalani hidupmu. Lupakan Donghae. Aku mengerti maksud dari perkataan ayahmu itu. Aku tak ingin membebankanmu dengan ucapanku ini. Jalani sesuai kata hatimu. Mianhae jika aku terlalu ikut campur.” Hyo Ra terdiam mendengar penuturan dari Hye Jin. Gadis itu berusaha untuk mencerna kembali dari tiap kata Hye Jin lantas kembali memeluk Hye Jin.

 

 

 

 

 

======================

 

 

 

 

Donghae melajukan ducati merahnya dengan begitu cepat. Sengaja ingin melupakan setiap perlakuan dan omongan dari Hyo Ra. Ia tahu ia memang tidak berguna menjadi kekasih dari Hyo Ra, tapi ia tak ingin jika ia dianggap tidak mencintai gadis itu. Sungguh demi apapun, ia benar-benar mencintai Hyo Ra. Gadis pertama dan yang akan menjadi pelabuhan terakhir dalam cintanya.

 

Tes

 

Donghae menangis. Mengingat semua kenangan bersama gadis itu.

 

“Mianhae, Hyo-ya… mianhae, karena aku tidak bisa berubah untukmu. Mainhae jeongmal mianhae…” ujar Donghae dengan suara serak dari balik helm yang dipakainya. Melajukan lebih lagi menuju sebuah club malam. Membiarkan jiwanya bebas lagi dengan narkoba dan alcohol.

 

 

 

 

 

==================

 

 

 

 

Seorang pria berprawakan tinggi, berkulit putih dan terlihat sedikit dingin berjalan dengan tangan dimasukkan ke salah satu kantung jeans-nya sembari membenarkaan letak kacamata hitamnya. Wajah tampannya membuat sebagian mahasiswi yang melihat terpana, bahkan sampai ada yang mengenyampingkan rasa malunya mendekati pria itu. mencari perhatian pria itu dan berakhir tragis. Sang pria tidak secuilpun menaruh perhatian pada para gadis dan tetap melanjutkan jalannya.

 

 

“Hye Jin-ah…” sapa pria itu pada Hye Jin ketika ia memasuki sebuah ruangan. Hye Jin terperanjat medengar suara kakak sepupunya itu. Ia kemudian menoleh dan membiarkan Hyo Ra menghapus air matanya.

 

“Oppa…kapan kau kembali??” tanya Hye Jin. Cho Kyuhyun – pria itu tersenyum hangat padanya. Berbeda sekali dengan Kyuhyun saat berjalan di koridor kampus. Pria itu seperti mempunyai dua kepribadian yang akan cepat berubah.

 

“Aku kembali, baru saja.” Hye Jin mengernyit lantas menoleh kembali pada Hyo Ra yang masih menghapus air matanya sembari menundukkan kepalanya. Hyo Ra mendongak lantas tersenyum pada Hye Jin kemudian gadis itu beranjak hendak pergi. Kyuhyun yang berada di depan ruangan itu menatap dingin mata Hyo Ra yang berbalas menatapnya tanpa ekspresi.

 

Hye Jin pu mendekati Kyuhyun, menepuk pundak Kyuhyun ketika pria itu meanatap punggung Hyo Ra yang semakin menjauh.

 

“Kau menyukainya??” Kyuhyun terperanjat lantas menggeleng kuat dan meninggalkan Hye Jin. Meninggalkan?? Bukankah pria itu datang untuk menemui Hye Jin??

 

“Yak!! Kau mau kemana, oppa?? Bukankah kau ingin menemuiku??” sungut Hye Jin kesal sembari berlari kecil mengikuti langkah Kyuhyun yang cepat.

 

“Sudah tidak berminat,” ujar Kyuhyun tanpa menoleh sedikitpun pada Hye Jin. Hye Jin mengerucutkan bibirnya kemudian hendak memukul kepala Kyuhyun yang tinggi pria itu tidak terlalu terpaut jauh dengannya danterhenti di udara ketika itu berbalik menatapnya tajam.

 

“Apa yang ingin kau lakukan??” tanya Kyuhyun tajam, Hye Jin hanya menggeleng dibarengi cengiran dengan wajah tanpa dosa. Kyuhyun kembali melanjutkan langkahnya, memasang headset menghindari kasak-kusuk gadis-gadis lain yang sengaja mencari perhatiannya.

 

Hye Jin mendengus dan menyamai langkah Kyuhyun, menatap saudara sepupunya itu dengan kesal.

 

“Kau kesini bersama Chae Ri eon??” pertanyaan Hye Jin itu menghentikan langkah Kyuhyun. Menatap gadis itu tajam kemudian menghela nafas kasar.

 

“Bisakah tidak menyinggung Chae Ri??” Hye Jin mengernyit lantas menepuk dahinya keras. Ia seperti menyadari sesuatu. Kalimatnya barusan menyinggung perasaan Kyuhyun. Membuka luka hati sepupunya itu.

 

“Mianhae…”

 

 

 

 

 

==================

 

 

 

 

Hyo Ra duduk di sebuah kursi yang terletak di sebuah café. Kenangannya bersama Donghae. Mata gadis itu menerawang kembali kenangannya bersama Donghae dulu. Ada sebuah rasa yang menyesakkan dadanya.

 

“Tidak bisakah kau berkorban untukku sekali saja??” lirih Hyo Ra dengan air mata yang menetes di pipinya. Hati Hyo Ra bergemuruh hebat saat telinganya mendengar sayup-sayup lagunya bersama Donghae dulu.

 

Jigum wason malhal suga obso

 (Ku tak bisa katakan ini sekarang)


Noye gijok gu modun ge hwansang gata

(Kau keajaiban, semuanya ini seperti sebuah ilusi)


Majimak ni mosup sok

(Gambaran terakhir darimu)


Sosohi giok sogeman Jamgyojyo ganun gotman gata
(Perlahan-lahan menyelam kedalam pikiranku)

 

Odinga eso nal bogo issulkka
(Apa kau melihatku dari suatu tempat?)
Huhwe haedo nujo boryo bol su obso
(Jika kau menyesalinya, ini sudah terlambat, kau tak bisa melihatku)
Chuoge gurimjae
(Bayangan kenangan indah)
Chok chokhan nae nunmul dullo gu jaril jikyobogo isso
(Ku menangis seraya memperhatikan atas tempat itu)

Gu mal mot hae jongmal mot hae
(Ku tak bisa mengatakannya, benar-benar tak bisa)
Niga nae yope issul ttaemankum mianhade guge andwae
( Ketika kau ada disisiku, aku minta maaf, tapi ku tak bisa)
Ijen modun ge ttollyowa
(Segalanya datang padaku gemetaran)

 

Jogum do gidarida
(Ku takut bila ku menunggu sedikit lebih lama)
Kkum sogul hemaeida
(Dan mengembara dalam mimpiku)
Gyolguk ni aneso nunul gamulkka bwa
(Aku kan menutup mataku untuk dirimu)

 

Gojima do gojima
(Jangan pergi, jangan pergi lagi)
Nae gyote issojul sunun omni
(Tak bisakah kau tetap disisiku?)
Gojitmal da gotjimal
(Bohong, semuanya bohong)
Jonhyo dullijiga anha
(Ku tak bisa mendengar apapun)
Saranghae nol saranghae
(Aku mencintaimu, aku mencintaimu)
Han madi boyojul sunun omni
(Tak bisakah kau tunjukanku satu kata itu?)

Saranghae nol saranghae
(Aku mencintaimu, aku mencintaimu)

Tto dashi saranghae jugenni
(Akankah kau mencintaiku lagi?)

 

Bolsso irokedo jina wasso
(Sudah berlalu seperti ini)

Noye hunjok chajabwado jiwo jyosso
(Bila ku lihat jejakmu, ku tak bisa menemukannya karena itu sudah terhapus)

Majimak ni giokdo
(Kenangan terakhirku darimu)

Nunmure teyop soguro jamgyojyo ganun gotman gata
(Tenggelam dalam pusaran airmataku)

 

Iman kkutnae narul kkutnae
(Sekarang berakhir, ku selesaikan)

Niga nae yope itji antamyon
(Jika kau tak disisiku)

Mianhande iman galge
(Maaf, aku pergi)

Ije noye girul ttara
(Sekarang ikuti jalanmu)

Kkut omnun girul ttara
(Ikuti jalan yang tiada akhir)

Nol chaja he meida gyolguk norul irkoso sulponam halkka bwa
(Ku takut kehilanganmu setelah berkelana, mencarimu dan akhirnya menemukanmu)

 

Gojima do gojima
(Jangan pergi, jangan pergi lagi)

Nae gyote issojul sunun omni
(Tak bisakah kau tetap disisiku?)

Gojitmal da gotjimal
(Bohong, semuanya bohong)

Jonhyo dullijiga anha
(Ku tak bisa mendengar apapun)

Saranghae nol saranghae
(Aku mencintaimu, aku mencintaimu)

Han madi boyojul sunun omni
(Tak bisakah kau tunjukanku satu kata itu?)

Saranghae nol saranghae
(Aku mencintaimu, aku mencintaimu)

Tto dashi saranghae jugenni
(Akankah kau mencintaiku lagi?)

 

Gajima gajima issojul su inni
(Jangan pergi, jangan pergi, tak bisakah kau tetap tinggal?)

Gojitmal gojitmal dullijiga anha
(Bohong, bohong, ku tak bisa mendengar kebohongan)

Saranghae saranghae boyojul su inni
(Ku mencintaimu, ku mencintaimu, tak bisakah kau tunjukan padaku?)

Saranghae saranghae saranghae jugenni
(Akankah kau cinta cinta cinta padaku?)

 

Gajima gajima issojul su inni
(Jangan pergi, jangan pergi, tak bisakah kau tetap tinggal?)

Gojitmal gojitmal dullijiga anha

( Bohong, bohong, ku tak bisa mendengar kebohongan)

Saranghae saranghae saranghae jugenni
(Akankah kau cinta cinta cinta padaku?)

Jebal dorawajwo
(Tolong aku)

 

Gojima do gojima
( Jangan pergi, jangan pergi lagi)

Nae gyote issojul sunun omni
(Tak bisakah kau tetap disisiku?)

Gojitmal da gotjimal
(Bohong, semuanya bohong)

Jonhyo dullijiga anha
( Ku tak mau dengar apapun)

Saranghae nol saranghae
(Aku mencintaimu, aku mencintaimu)

Han madi boyojul sunun omni
(Tak bisakah kau tunjukanku satu kata itu?)

Saranghae nol saranghae
(Aku mencintaimu, aku mencintaimu)

Tto dashi saranghae jugenni
(Akankah kau mencintaiku lagi?)

 

 

Air mata Hyo Ra tumpah ruah. Gadis itu menangkupkan kedua tangannya guna menutup wajahnya dan meredam isak tangisnya yang mungkin akan terdengar keras. Ia tidak kuat lagi. Rasa cintanya pada Donghae membuatnya tak bisa meninggalkan pria itu. Membuatnya terlihat menyedihkan. Mengharapkan sesuatu yang tak akan pernah terjadi. Donghae sudah terlalu jauh untuk ia tarik kembali. Donghae sudah tak bisa ia miliki.

 

“Haruskah kau menangis di tempat umum seperti ini?? Dasar wanita. Menyusahkan saja!!” ujar seorang pria dengan dinginnya sembari mengulurkan tangan guna memberikan sebuah sapu tangan pada Hyo Ra. Hyo Ra terdiam.  Ia mengusap air matanya dengan kesal. Merasa terhina oleh ucapan pria itu. Hyo Ra mendongak dan ia terkejut setelah melihat wajah pria itu.

 

“Rupanya kau yang menangis. Tidak puaskah kau menangis di kelas tadi pagi??” cibir Kyuhyun sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.

 

“Apa hakmu menginterupsi aku?” Hyo Ra hendak beranjak sampai tangan Kyuhyun menahannya.

 

“Jika kau mau pergi, hapus air matamu yang masih tersisa atau pergilah ke toilet. Basuh wajahmu agar tidak terlihat lengket,” ujar Kyuhyun dengan nada sedikit lembut. Hyo Ra terdiam di tempatnya. Lantas gadis itu mengambil sapu tangan yang diberikan Kyuhyun dan berjalan menuju toilet. Sepergian gadis itu, Kyuhyun tersenyum dengan pandangan yang tak bisa terartikan.

 

 

 

========================

 

 

 

 

“Kalau boleh tahu, kenapa kau menangis??” tanya Kyuhyun pada Hyo Ra ketika mereka berada di mobil. Ya, Kyuhyun berniat untuk mengantar gadis itu…

 

“Kita belum saling mengenal, kurasa ini masih belum bisa kuceritakan,” ucap Hyo Ra sembari memandang keluar jendela. Tidak berniat untuk melihat wajah Kyuhyun. Kyuhyun mendengus.

 

“Kurasa kita akan satu kelas, nona. Namaku Cho Kyuhyun..” Hyo Ra menoleh ke arah Kyuhyun dan membuang mukanya kembali.

 

“Aku Park Hyo Ra…terima kasih atas tumpangannya. Kurasa kau turunkan aku saja di Halte depan…aku akan naik bus,” ucapnya masih dengan nada dingin. Kyuhyun geram, ini pertama kalinya ia diperintah seperti itu oleh seorang wanita.

 

“Katakan di mana rumahmu, setelah itu aku akan mengantarmu. Aku bukan lelaki pecundang yang tidak bertanggung jawab atas keselamatan dari seorang gadis. Apalagi gadis itu sahabat baik dari sepupuku…” ucap Kyuhyun sembari terus menginjak gas sampai kecepatan penuh membuat Hyo Ra yang semula hanya diam berteriak ketakutan.

 

“Yak!! Yak!! Kau mau membunuhku, eoh??” mendengar ocehan Hyo Ra, Kyuhyun  semakin menambah kecepatannya. Entahlah ia seperti merasakan sesuatu yang berbeda semenjak berkenalan dengan Park Hyo Ra.

 

 

 

 

========================

 

 

“Jika kau ingin menangis…lihatlah ke langit atau pandanglah wajahmu sendiri dalam genangan air. Menangislah dan lihatlah wajah bodohmu itu Nona Park!!” ucap Kyuhyun ketika mereka telah sampai di depaan sebuah rumah bercat ungu. Hyo Ra mendengus, merasakan dirinya dipermainkan oleh pria itu. Hyo Ra tidak memperdulikannya, ia hendak membuka pintu sampai Kyuhyun bersuara lagi.

 

“Jangan menangis hanya karena seseorang yang tidak menghargai usaha dan pengorbananmu…” seperti tersambar petir, Hyo Ra menoleh pada Kyuhyun dan menatap pria itu aneh.. bagaimana ia bisa tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.

 

“Terima kasih atas perhatianmu, Tuan Cho. Tapi kurasa ini bukan daerah kekuasaanmu. Kau tidak berhak menginterupsiku…” ucap Hyo Ra dingin dan a beringsut keluar dari mobil Kyuhyun dan tergelak ketika melihat seseorang menunggunya di depan pagar rumahnya.