Tittle                                    : Symphony of Love

 

Author                                : TurtleShfly

 

Twitter/FB                         : @Shfly_3421 / Nurul FatikhahSaranghaeJinyong

 

Blog                                       : http://ImELFChoiYera.wordpress.com

Genre                                  : AU! Gaje, romance

 

Lenght                                : Multichapter

 

Words                                 : 3,353

 

Cast                                     : Lee Donghae ; Choi Hyun Hwa

 

Support Cast                      : Kim Jong Woon ; Choi Ye Ra

Disclaimer                          : FF ini milikku yang ke-7, All Cast milik Tuhan YME,  DAN KIM JONG WOON MILIK CHOI YERA, CHOI YERA MILIK KIM JONG WOON (sudah di daftarkan ke KUA)

 

 

 

 

 

 

 

Gwangjin-gu Seoul, 10.00 PM

September, 3rd 2012

 

 

 

Bunyi gemericik air dari sebuah kenikmatan Tuhan berupa air hujan membuat seorang gadis tersenyum menatap setiap air yang terjatuh ke tanah membentuk sebuah bunga. Angin yang berhembus menyapu anak rambut gadis yang bersandar pada jendela kamarnya itu. Ia memejamkan matanya, seolah mengizinkan angin tersebut membelai lembut kulitnya yang seputih susu.

Membiarkan angin tersebut masuk ke relung tulang-tulangnya. Seolah itu semua menjadi keindahan yang menggantikan bintang-bintang yang menghiasi malam. Menarik nafas panjang guna mencium harum tanah yang terbasahi air hujan. Gadis itu menajamkan pendengarannya ketika telinganya sayup-sayup mendengar sebuah suara merdu dan lembut yang belakangan ini menjadi candunya setiap hari. Kembali tersenyum manis saat lirik lagu yang ia dengar itu terasa ditujukan padanya. Padanya?? Gadis itu tertawa kecil. Percaya diri sekali untuknya. Ahhh…masa bodo lah, yang terpenting baginya, Lagu ini memang terasa ditujukan padanya.

“Eonni-ya…kau sedang apa??” tanya sebuah suara dari gadis lain yang usianya lebih muda dari gadis yang dipanggil eonni itu. Gadis itu menoleh lantas tersenyum hangat.

“Ada apa, Ye Ra-ya??” Ye Ra membalas senyuman Hyun Hwa – nama gadis itu – lantas menghampirinya.

“Kau belum tidur??” tanya Ye Ra sembari mendudukan dirinya di tepi bed dan membenarkan kacamata minus-nya.

“Belum mengantuk,” jawab Hyun Hwa singkat dan kembali melihat luar jendela.. memfokuskan pada air hujan. Ye Ra menghela lantas berbaring di bed Hyun Hwa, membiarkan gadis itu bercengkrama dengan dunianya.

“Kau mendengarnya??” tanya Hyun Hwa sembari kembali memejamkan matanya. Ye Ra mengerutkan keningnya. Tidak tahu apa yang dimaksud oleh Hyun Hwa.

“Mwo??”

“Suara seorang pria yang menyanyikan sebuah lagu…” jawabnya. Ye Ra kembali duduk, mencoba menajamkan pendengarannya.

“Aku tidak mendengar apapun selain suara air hujan.” Hyun Hwa tersentak. Menatap tak percaya pada Ye Ra. Ye Ra tidak mendengarnya?? Padahal dengan jelasnya ia bisa mendengar suara itu.

“Kau sedang tidak terganggu pendengarannya bukan??” Ye Ra merengut karena ucapan Hyun Hwa. Tak ayal gadis itu melempar sebuah bantal ke wajah Hyun Hwa.

“Yak!! Kau saja yang terganggu pendengarannya. Kalau tidak percaya silahkan tanya ahjumma samping apartement kita!!” sungut Ye Ra tidak terima. Kemudian ia pergi dari kamar Hyun Hwa.

Choi Hyun Hwa dan Choi Ye Ra adalah anak dari Choi Seung Hyun, seorang pengusaha dibidang real estate yang kemajuan bisnisnya sangatlah pesat. Mereka memutuskan untuk tinggal di sebuah apartement sederhana berusaha unuk tidak terpaku pada kekayaan Seung Hyun. Mereka juga melanjutkan studi-nya di universitas yang sama. Hyun Hwa di Fakultas Sastra dan Budaya Korea dengan alasan ia menyukai semua yang menyangkut Korea. Alasan lain adalah ia ingin menjadi seorang sastrawan Korea yang memperkenalkan pada seluruh dunia tentang Budaya dan Sastra Korea.

Sedangkan Ye Ra di Fakultas Ekonomi Manajemen. Ia beralasan karena ia sangat menyukai ayahnya ketika bekerja dengan beberapa dokumen. Bagi gadis itu, itu terlihat sangat keren. Maka dari itu, Ye Ra memutuskan untuk ikut terjun di dunia bisnis bersama sang ayah sembari ia berkuliah.

Hyun Hwa membanting tubuhnya di bed. Mencoba melupakan segala pikiran buruk tentang suara itu. Ingin sekali ia percaya pada Ye Ra, tapi hati kecilnya mengatakan jangan dan percaya pada suara itu. suara yang sudah menjadi candunya. Seperti symphony yang menggetarkan jiwanya. Symphony yang lebih mendalam. Seperti sebuah bisikan akan kata cinta. Seolah suara itu sebagai penghantar tidurnya malam ini.

==========================

Mokpo, September 3rd 2012

 

 

 

Seorang pria berpakaian t-shirt berwarna hijau muda terduduk di sebuah bangku kayu di depan rumahnya. Pria berwajah tampan dan manis itu merebahkan dirinya di bangku tersebut sembari menyenandungkan sebuah lagu. Matanya terpejam, menikmati hembusan angin malam yang sejuk. Menyapu kulitnya yang putih lembut.

 

 

neol bomyeon (nan) useumman (nawa)

 sujubeun misokkajido Yeah
nal boneun ne nunbicheun

seulpeun geol hoksi ibyeoreul

 malharyeogo hani Baby

 

Mata pria itu terbuka dan langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah. Ia merasakan seseorang yang memperhatikannya. Memperhatikannya dengan manic mata lembut, pandangan yang teduh. Tapi di mana?? Tak satupun matanya menemukan sosok seseorang yang dimaksud. Ia menggedigan bahunya lantas kembali melanjutkan nyanyiannya yang sempat terhenti.

“Siapapun kau yang ada di mimpiku selama ini…. Aku menyukaimu… mungkin ini terlihat bodoh. Tapi apa aku salah jika aku memang menyukaimu?? Kau seperti hidup yang telah ditakdirkan Tuhan padaku.” Pria itu lantas terbangun menatap langit yang mulai memendung. Berjalan memasuki rumahnya yang bergaya tradisional.

“Donghae-ya??” pria yang bernama Donghae itu menoleh ketika tangannya sudah mencapai knop pintu.

“Oh…hyung, waeyo??” Donghae lantas berjalan menghampiri pria yang berpakaian t-shirt dan celana pendek juga lengkap dengan kacamata yang masih berdiri di luar pagar rumahnya.

“Jong Woon hyung..kkajja masuk.” Ajak Donghae sembari mengalungkan tangannya di pundak Jong Woon. Jong Woon menurut. Ia mengikuti arah langkah Donghae. Kim Jong Woon adalah salah seorang sepupu Lee Donghae. Ia datang ke Mokpo hanya untuk menemui Donghae dan menyampaikan pada pria itu tentang keterlibatannya dalam menjalankan sebuah perusahaan peninggalan almarhum ayahnya. Awalnya Donghae tidak ingin menjalankan perusahaan tersebut, ia lebih menginginkan untuk tinggal di Mokpo merintis usaha sendiri.

“Kembalilah ke Seoul temui ibumu.” Donghae terdiam. Memutar kenangannya kembali bersama sang ibu yang hubungannya bersama sang ibu terbilang tidak baik.  Bagaimana tidak?? Sang ibu meninggalkan dirinya dan ayahnya hanya karena mengejar karier-nya di dunia music. Dan karena sang ibu lah, ayahnya meninggal dunia disaat dirinya berusia masih 17 tahun. Meninggalkan dirinya sebatang kara sampai kakak sepupu dari ayahnya tersebut – Kim Ji Hoo – ayah dari Kim Jong Woon – merawatnya hingga dewasa dan menjalankan bisnis keluarga Lee sesuai wasiat yang di tulis ole Lee Hyun Ki – ayah Donghae – dan akan diserahkan kembali pada Donghae ketika pria itu sudah dewasa.

“Hyung….” Jong Woon menggeleng ketika dirasa Donghae mengeluarkan jurus aegyo-nya.

“Hentikan Hae-ya!! Kau itu sudah dewasa bukan anak kecil lagi yang selalu minta dimanja olehku.”

“Arraseo hyung…tapi aku tidak ingin bertemu dengan wanita itu,” ujar Donghae sambil mengambilkan minuman untuk Jong Woon.

“Tapi dia adalah ibumu, Hae-ya…” Jong Woon menyandarkan punggungnya di bantalan kursi.

“Dia bukan ibuku semenjak ia meninggalkanku sendiri bersama appa.”

“Lee Donghae!!!” Jong Woon menghembuskan napas kasar. Ia tak tahu lagi harus bagaimana untuk berbicara dengan Donghae.  Pria di sampingnya ini terlalu keras untuk urusan ‘ibu’.

“Ya…dia bukan ibumu. Tapi, kau juga tidak menutup kenyataan kalau dalam tubuhmu itu mengalir darahnya!!! Dan tanpa kau sadari, bakat menyanyimu terturun dari ibumu!!!”

“Nde hyung!! Dan aku menyesal karena itu!!!”

“Donghae-ya!!!”

“Sudahlah hyung, jika kau kemari hanya untuk menasehatiku, lebih baik kau pulang saja. Karena sampai kapanpun aku tidak akan menemui wanita itu. Lukaku belum mengering walau waktu tetap berjalan. Soal perusahaan appa, biar Kim appa saja yang menjalankannya atau bahkan biar kau saja yang melanjutkannya. Aku tidak berminat untuk itu semua. Hidupku sudah tertakdir di Mokpo. Kota kelahiran appa. Mianhae hyung….” Donghae menghela lantas berjalan menuju kamarnya meninggalkan Jong Woon yang menatapnya iba.

“Kau pasti akan ke Seoul. Takdirmu menunggumu di sana, Hae-ya…” gumam Jong Woon sembari mengikuti langkah Donghae. Beristirahat di kamar pria itu.

================================

Gwangjin-gu, September 04th 2012

08.45 AM

 

 

Seorang gadis memakai blus berwarna soft pink dipadu dengan bawahan rok warna putih sedang mematut dirinya di depan cermin di meja riasnya. Ia mengoleskan bedak tipis natural dilanjut dengan mascara yang tidak terlalu tebal. Terakhir, gadis itu memoles bibir tipisnya dengan lip gloss berwarna pink sedikit cerah. Ia mengangkat tangannya, mencoba mengumpulkan rambut sedikit curly dan mengikatnya. Mengedarkan pandangannya ke segala isi kamarnya sampai bibirnya melukis senyuman tatkala melihat sebuah tas berwarna putih. Ia berjalan mengambil tas tersebut lantas berhenti di sebuah lemari yang berisi koleksi high heels-nya. Mengambil high heels dengan tinggi 5cm berwarna senada dengan blus yang dipakai.  Melangkah menimbulkan sebuah bunyi ketukan. Kaki panjangnya membuat gadis itu terlihat sangat cantik.

“Ra-ya…” panggil gadis itu pada gadis lain yang memakai jumpsuit warna coklat dan bross mawar. Gadis itu terlihat manis dengan hiasan bando di rambutnya yang sedikit curly dan tergerai indah. Kaki yang putih panjangnya dihias dengan sebuah high heels warna senada dengan tinggi 5cm.

Gadis itu menoleh lantas tersenyum pada gadis yang memanggilnya.

“Ye Ra-ya….kau mau kemana??” tanya Hyun Hwa – gadis yang memanggil Ye Ra – sembari meneliti penampilan Ye Ra dari ujung kaki hingga ujung rambut.

“Ish!! Hentikan tatapanmu itu, eonni!!” Ye Ra mencibir dan segera membawa cangkir itu ke dapur.

Hyun Hwa terkekeh. Merasa usahanya membalas dendam pada adiknya itu berhasil. Adiknya yang setiap hari menjahilinya tanpa mengenal waktu.

Hyun Hwa kemudian berjalan menuju dapur, mengambil buah dan susu yang berada di kulkas.

“Eonni bertanya padamu, kau mau kemana??” tanyanya sekali lagi pada Ye Ra ketika gadis itu hendak meninggalkan dapur.

Ye Ra menghentikan langkahnya. Menatap langit-langit dapur. Menggerakkan mulutnya sembari mengetukkan jarinya di pipi kanannya. Mencoba berpikir.

“Aku mau…rahasia. Hahahhaha…” Ye Ra langsung berlari sembari tertawa menghindari Hyun Hwa yang ia yakini akan mencipratinya dengan air.

“Yak!!! Little Evil!!! Jawab pertanyaan eonni-mu ini!!” pekik Hyun Hwa dengan mulut penuh dengan gigitan buah apel.

===========================================

 

 

Mokpo, September 04th 2012

 

 

 

 

“Kau tetap tidak ingin ikut??” tanya Jong Woon memastikan sembari mengikat sepatunya.

“Kau sudah tahu jawabanku, hyung,” jawab Donghae malas sembari menatap lurus hamparan rerumputan di depannya. Jong Woon menatap tajam Donghae yang duduk di sampingnya.

“Kau akan menyesal suatu saat nanti jika takdirmu yang akan memintamu ke Seoul,” ujar Jong Woon penuh misteri. Donghae menoleh dan bergidig ngeri ketika merasakan aura Jong Woon yang hitam.

“Jangan menatapku seperti itu, hyung!! Menjijikan!!” cibir Donghae yang langsung disambut oleh jitakan Jong Woon. Donghae mendelik tidak terima. Bermaksud membalas jitakan Jong Woon, tapi ia segera berdiri kembali masuk ke rumahnya.

“Yak!! Kakakmu ini akan kembali ke Seoul dan kau tidak mengantarku??” sungut Jong Woon kesal. Donghae hanya bergumam tidak jelas sembari melambaikan tangannya.

“Hati-hati di jalan, hyung…. Aku mencintaimu…” ucapnya sembari menutup pintu rumahnya. Jong Woon mencibir. Demi apa, ia mempunyai adik sepupu seperti Lee Donghae.

========================================

Seoul University

Build of Managemen

September, 04th 2012

01. 00 PM

 

 

 

 

Ye Ra berjalan tergesa-gesa di koridor gedung fakultasnya sembari membawa tumpukan buku bisnis yang ia pinjam dari perpustakaan. Setelah sebelumnya gadis itu mengganti pakaiannya menjadi lebih rapi dan sopan. Sebuah tanktop hitam dirangkap dengan blazer berwarna merah dipadu bawahan rok sepan berwarna senada dengan blazer. Gadis itu terlihat sangat dewasa dengan tambahan high heels 5cm.

Gadis itu terus berjalan sembari sesekali berlari kecil menyusri tiap koridor terkadang ia menyumpahi kelasnya yang berada di ujung gedung dan berada di lantai 2 sehingga ia harus menuruni tangga karena sialnya lift yang disediakan mengalami kerusakan. Gadis itu sepertinya haruss bersyukur karena udara segar di musim gugur ini membuatnya tidak sampai mengeluarkan banyak keringat ketika ia harus berlari kecil. Sebentar-sebentar gadis itu melihat jam Terburu-buru oleh waktu, karena setengah jam lagi ia harus menghadiri rapat pemegang saham di perusahaan ayahnya dan dilanjut dengan rapat dari calon partner bisnisnya untuk menjalankan proyek resort. Mata Ye Ra tak terfokus pada jalan sehingga membuat gadis itu jatuh terduduk menabrak seorang pria berpakaian setelan jas.

“Mianhamnida…” ucap Ye Ra menyesal sembari memunguti beberapa bukunya yang terjatuh. Pria itu pun tak tinggal diam, ia segera membantu memunguti buku Ye Ra. Ye Ra berdiri sembari membungkukkan badannya berkali-kali.

“Adaw….” Pria itu meringis ketika didapati tangannya yang masih memungut salah satu buku Ye Ra terinjak oleh kaki Ye Ra ketika gadis itu hendak melangkah. Ye Ra segera mengangkat kakinya, berjongkok dan reflek memegang tangan pria itu dan mengusap-usapkannya.

“Maaf, aku tidak bermaksud,” ucap Ye Ra sembari terus mengusap tangan pria itu. Jong Woon – nama pria itu – hanya tertawa kecil tanpa suara melihat kepolosan Ye Ra.

Usai mengusap-usap tangan pria itu Ye Ra menengadahkan kepalanya. Tertegun melihat mata pria itu yang tajam tapi meneduhkan tanpa melepaskan tangannya yang masih memegang pria itu. Jong Woon sama, ia tertegun melihat wajah Ye Ra yang manis. Mereka kompak berdiri tanpa melepaskan tautan pandangan mereka. Sadar akan situasi itu, Jong Woon dan Ye Ra sama-sama melepaskan tangan mereka dan menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal.

“Maaf…” ucap mereka berbarengan sambil membungkukkan badannya sehingga membuat mereka terbentur satu sama lain.

Baik Jong Woon maupun Ye Ra, mereka sama-sama meringis dan mengusap dahi masing-masing. Detik kemudian mereka tertawa bersama menyadari kebodohan mereka.

“Oh nde, maaf…. Aku terburu-buru jadi tidak melihat Anda,” ujar Ye Ra sopan sembari membungkukkan badannya dan segera berlari membiarkan Jong Woon hanya menatap geli punggung Ye Ra yang sudah sedikit menjauh.

Lantas Jong Woon baru menyadari bahwa sebuah buku dengan bersampul biru dan dengan sebuah hiasan pasir putih membentuk sebuah huruf hangul ‘Ye’ masih dipegangnya dan ia lupa untuk memberikannya pada gadis tadi. Jong Woon menggidikan bahunya dan ia kembali berjalan ke tujuannya semula.

=============================================

Hyun Hwa bergegas untuk kembali ke apartement-nya setelah beberapa jam yang lalu ia ditugaskan oleh Kang ssongsaenim  untuk mengabdi di sebuah sekolah dasar yang terletak di wilayah Mokpo. Tugas untuk memenuhi prakteknya dalam studi semester akhirnya.

Gadis itu menghentikan sebuah taksi yang melewat di depan universitasnya itu. Sungguh terkadang ia ingin sekali mencekik Kang ssaem karena dengan seenaknya saja memberikan tugas tanpa memberikan jeda waktu pun. Jika tugas itu diberikan hari ini, maka hari ini pula harus diselesaikan. Termasuk dengan keberangkatannya menuju Mokpo.

Hyun Hwa mengambil ponselnya yang berada di tas putih kesayangannya itu, menyentuh beberapa digit angka. Bermaksud menghubungi seseorang. Lama Hyun Hwa menempelkan ponselnya itu di telinga kanannya. Ia menggigit bibirnya kesal, karena sambungan itu terhubung pada mailbox.

“Yak!! Choi Ye Ra!! Kemana dirimu, huh??” ucapnya kesal sembari memegang kesal tasnya. Gemas. Menurut Hyun Hwa, jika adiknya itu berada di apartement, ia dengan sangat senang hati meminta bantuan Ye Ra untuk mengemasi barang-barangnya dan ia hanya memesan tiket dan membooking penginapan di sana. Tapi sekarang?? Jika saja ia sudah berada di apartement dan menemukan adik ajaibnya itu sedang berada dalam mimpinya sehingga tidak mengangkat teleponnya itu, ia akan menendang kaki Ye Ra. Adiknya yang gemar tidur.

Sungguh aneh sebenarnya dengan kebiasaan buruk adiknya itu. dia bahkan bis tidur lebih dari 2 jam jika siang hari. Tidak takut jika tubuhnya menjadi gemuk. Karena memang gadis itu tak bisa gemuk, segimanapun ia makan banyaknya.

Hyun Hwa menekan tombol password pintu apartement-nya. Gadis itu berjalan menuju kamar Ye Ra. Dibukanya pintu kamar Ye Ra yang bernuansa biru muda itu. mengedarkan pandangannya mencari sosok adiknya itu. Ia mendesah saat tak satupun matanya menemukan Ye Ra, lantas ia berbalik berniat menuju kamarnya yang berada tepat di samping kamar Ye Ra.

Hyun Hwa merebahkan tubuhnya di bed. Bermaksud untuk merelaksasikan tubuhnya sebelum ia mengemasi barang-barangnya. Setelah beberapa menit Hyun Hwa beristirahat, gadis itu melepaskan high heels-nya dan langsung menuju lemari. Mengambil kopor kesayangannya yang berwarna soft pink dan diletakkan di atas bed. Membuka kembali lemari pakaiannya dan mengambil beberapa pakaian yang ia perlukan dan beberapa buku yang harus ia bawa. Usai mengemasi pakaiannya itu, Hyun Hwa mengambil baguette bag berwarna ungu muda untuk mengemasi beberapa make-up yang dirasa diperlukan. Lagipula make-up itu hal yang wajib yang harus dibawa bagi seorang gadis, bukan??

Hyun Hwa meregangkan tubuhnya. Menyambar handuk untuknya dibawa ke kamar mandi. Berniat membersihkan dirinya agar terlihat lebih fresh.

===============================================

Donghae menghela memikirkan kembali ucapan Jong Woon tadi malam. Pria yang kini berada di sebuah taman sembari terduduk di atas rerumputan itu melihat beberapa anak-anak yang bermain di taman itu. Sebenarnya pandangannya itu tidak terfokus pada anak-anak yang bermain, melainkan entah kemana.

Donghae menunduk saat dirasa dua bulir air mata jatuh bebas di keduaa pipinya. Sebenarnya ia sangat merindukan ibunya itu. Memang benar kata orang. Sebenci-bencinya seorang anak pada sosok ibu yang tealah melahirkannya, dalam hati anak itu tidak akan pernah bisa. Itu juga yang dialami oleh Donghae. Pria itu gusar.

“Hyung…bisakah tolong ambilkan bola yang berada di kakimu itu??” ujar seorang anak laki-laki menyentak Donghae yang sedaang melamun.  Donghae tersenyum , lantas ia mengambil bola putih itu dan menendangnya pelan.

“Apakah hyung bisa ikut bermain??” Anak kecil itu mengangguk dan Donghae tersenyum sumringah. Lantas mereka bergabung dengan anak-anak yang lain. Donghae tertawa lepas ketika bermain bola. Seolah kegusaran hatinya menguap dengan sendirinya.

“Hyung kau ada masalah??” tanya anak laki-laki itu ketika mereka merebahkan diri di rerumputan.

Donghe menoleh dan tersenyum. Mengacak rambut anak laki-laki itu. Gemas.

“Kau masih kecil.” Anak laki-laki itu memonyongkan bibirnya. Kesal.

“Hyung, aku sudah 10 tahun!! Aku sudah besar!! Jangan panggil aku anak kecil lagi!!” Donghae terkekeh. Ia beranjak untuk duduk dan menghela.

“Jikapun ada masalah, kau tak akan bisa memahaminya.” Anak itu pun ikut duduk.  Menyanggahkan tangannya di dagu.

“Dan justru karena aku tidak memahami masalahmu, kau dengan leluasa untuk bercerita. Lagipula orang bercerita tentang suatu masalahnya itu bukan hanya untuk meminta saran dari lawan bicaranya, melainkan ingin menumpahkan segala curahan yang ada di hatinya. Yah…setidaknya kau bisa membagi bebanmu dengan orang lain, hyung.” Donghae terperangah mendengar penuturan anak laki-laki itu. Kalimat yang dilontarkannya terbilang cukup dewasa untuk ukuran anak berusa 10 tahun.

“Bagaimana, hyung??” Donghae menimbang. Lantas ia mengangguk.

“Baiklah, aku akan bercerita sesuatu denganmu.” Anak laki-laki itu menarik kedua sudut bibirnya membentuk seulas senyuman. Lantas ia dengan antusiasnya mengubah posisi duduknya di hadapan Donghae.

“Aku merindukan ibuku…” anak laki-laki itu tersentak, tapi tak ayal untuk tetap diam. Ia seperti tahu bahwa ucapan Donghae belumlah selesai.

“Dia meninggalkanku. Meninggalkanku tanpa kata bersama ayahku. Aku sungguh sangat merindukannya,” ucap Donghae sembari tersenyum miris.

“Jika kau merindukannya kenapa kau tidak menemuinya??” Donghae menoleh pada anakitu dan tetap tersenyum.

“Aku tidak bisa…”

“Berarti kau tidak merindukannya, hyung. Seorang anak, jika sudah merindukan orang tuanya, ia akan menemui mereka. Sejauh apapun jarak itu… karena pada takdirnya, seorang anak sangat tulus mencintai ibunya. Merindukan pahlawan yang membuatnya bisa menghirup udara. Berjuang mati-matian…” ucap anak itu sembari menundukan wajahnya. Ada bulir air mata yang merembes. Donghae terhenyak. Diusapnya rambut anak laki-laki itu.

“Kau juga merindukan ibumu??” anak itu mengangguk lantas tersenyum kecut.

“Aku bahkan tidak tahu ibuku, hyung. Dia meninggalkanku sendiri di panti asuhan.”

“Eoh?? Maafakan aku…”

“Gwenchana, hyung… aku yakin suatu saat nanti aku bisa bertemu dengannya lagi. Ayo hyung, kita lanjutkan main bolanya.” Donghae menatap punggung anak itu iba. Ada segelintir perasaan yang menyeruak di hatinya. Anak kecil itu bahkan tidak membenci ibunya saat ia tahu ibunya meninggalkan dia sendiri dip anti asuhan.

=========================================

Ye Ra berjalan dengan diikuti beberapa pemegang saham yang berada di belakangnya. Sesuai jadwal yang diingatkan oleh sekretaris Kim padanya bahwa ia harus mengikuti rapat untuk bertemu dengan calon partner bisnisnya. Di sela rapat pertamanya tadi, Ye Ra mencuri waktu ketika presdir – ayahnya itu – sedang memimpin rapat.

Ia mendesah kesal saat dibuka pintu ruangan itu yang sudah menampakkan beberapa dewan direksi.

“Sial!!” umpatnya dalam hati ketika dewan direksi menatapnya aneh. Hei, bukankah ia tidak terlambat?? Ye Ra menjadi salah tingkah dan ia dengan cepat berjalan menuju kursinya. Ia menghela napas sebelum membuka rapat pertamanya ketika menjadi direktur perencanaan.

“Annyeong haseyo… maaf jika kiranya aku terlambat. Aku Choi Ye Ra manager perencanaan dari Choi Coorporation yang ditunjuk oleh Choi Seunghyun selaku presiden direktur grup, akan memberikan beberapa gambaran tentang project yang akan kita jalankan.” Ye Ra menghela. Ia cukup gugup untuk memimpin rapat ini.

“Nona Lee,” perintah Ye Ra pada sekertarisnya. Wanita yang terlihat lebih tua dari Ye Ra itu mengangguk mengerti lantas membagikan beberapa lembar berkas pada dewan yang menghadiri rapat itu. Ye Ra berbalik menghadap ke sebuah papan putih dan menampilkan foto desain dari resort tersebut.

“Seperti yang kalian pahami di berkas tersebut. Wilayah Jinan yang dengan lokasi yang terletak di kawasan dekat pantai dan luas tanah tersebut  1500  hm. Akan saya bangun sebuah resort yang berdesign sederhana di depan, tetapi terlihat mewaah ketika kita berada di dalamnya. Tolong buka lembaran setelahnya.”