Cinta itu hanya satu orang…

Terapaut dalam satu hati…

Bermakna lebih dari sekedar kata…

 

(TurtleShfly)

 

 

 

 

Mokpo, August 3rd 1993

 

Gadis kecil itu berlari menyusuri tangga sembari membawa sepasang gantungan boneka teddy dengan model pengantin.

Gadis itu membuka kasar pintu rumahnya dan segera berlari lagi menuju sebuah rumah yang lebih kecil dari rumahnya. Menggedor kasar pintu rumah tersebut dan segera menyongsong tubuh seorang anak laki-laki. Memeluknya dan terisak di dada anak laki-laki itu.

“Dongdong…aku tidak mau pergi..aku mau bersamamu..” rengek gadis kecil itu dalam isak tangis. Anak laki-laki yang di panggil Dongdong hanya tersenyum dan mengusap pucuk rambut gadis yang memakai dress berwarna hijau muda dengan bando warna senada menghiasi rambut curly hitam panjangnya.

“Anniya… kita kan bertemu kembali chagi-ya.. jangan khawatir. Tuhan akan mempertemukan kita kembali.” Gadis itu mendongak dan menatap bingung anak laki-laki itu.

“Chagi-ya??” ulangnya. Dongdong mengangguk mantap.

“Ne, mulai sekarang kau chagi-ya ku dan kau tidak boleh menjadi chagi-ya orang lain selain aku. Arraseo!!!” gadis kecil itu mengangguk dan menautkan jari kelingkingnya lantas tersenyum. Mempercayai apa yang diucapkan anak laki-laki itu. Kemudian mereka duduk di bangku yang berada di halaman rumah anak laki-laki itu.

“Dongdong..aku akan pergi ke Seoul. Sebenarnya aku tak ingin ikut dengan appa. Aku ingin di sini bersamamu. Di Mokpo. Bermain bersamamu.” Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Kesal pada ayahnya yang memisahkan dirinya dengan seseorang yang ia suka. Ya, baru sebatas suka. Karena gadis itu masih polos untuk mengenal kata cinta.

“Hei…Seoul dan Mokpo itu tidak terlalu jauh. Masih daratan Korea. Kau tidak perlu takut seperti itu.” Gadis kecil itu menundukkan kepalanya. Menatap jemari mungil kakinya. Menghela dan mendongak sebentar. Entah kenapa ia takut jika tidak bisa bertemu dengan anak laki-laki yang bernama Lee Donghae itu. Gadis itu menoleh ketika namanya dipanggil oleh seorang pria yang masih terlihat muda berpakaian kemeja putih lengkap dengan jas hitamnya. Gadis itu menatap lirih Donghae dan teringat pada benda yang digenggamnya.

“Dongdong, pengantin wanita ini untukmu dan pengantin pria ini untukku. Ketika kita sudah besar nanti kau bisa temukan aku dengan benda ini. Konon kata nenekku, bila kedua benda ini bersatu lagi setelah berpisah begitu lama, maka pemilik dari kedua benda ini juga akan bersatu untuk selamanya juga.” Gadis itu memberikan gantungan teddy bear itu yang disambut bingung oleh Donghae kemudian segera berlari menghampiri kedua orang tua yang menyambutnya dengan senyuman. Donghae menatap teddy bear itu dengan pandangan sedih. Ada rasa tidak rela jika cinta kecilnya itu pergi…meninggalkannya.

Sebenarnya Donghae juga takut jika ia tidak bisa lagi dengan gadis itu. ia sungguh sangat takut, tetapi karena kebahagiaan gadis itu, ia dengan bodohnya mengatakan ucapan penuh harapan yang ia sendiri tidak meyakininya.

“Mianhae…” lirihnya dan segera berlari mengejar sebuah mobil yang sedang melaju cukup kencang. Ia berlari sembari sesekali berteriak memanggil gadis itu. Berlari memutar jalan berniat memotong laju mobil itu. Namun teori siapa yang mengatakan kalau tenaga manusia lebih cepat dari tenaga mesin?? Donghae terengah, ia jatuh tersungkur. Tidak kuat lagi mengejar mobil itu. padahal niatnya hanya ingin memeluk gadis kecil itu. menghirup aroma tubuhnya agar jika ia dewasa ia dengan mudahnya mengenal gadis itu. sekaligus ia ingin memberikan setangkai mawar merah yang ia petik sendiri di kebun bunga miliknya. Ia menyesali, kenapa tadi ia tidak melakukannya?? Ia terlalu malu untuk usianya yang masih 10 tahun.

Aku tidak menyangka pertemuan kita itu…

Adalah pertemuan yang sudah di takdirkan Tuhan…

Namun, ternyata aku salah dalam mengenalimu…

Maafkan atas kesalahanku ini…

 

(Lee Donghae)

 

 

Seoul August 24th 2012

Kyunghee University

 

 

Seorang gadis berpakaian kasual dengan jeans dan rembut yang dikuncir kuda berjalan santai di sebuah koridor. Gadis itu sesekali mengutak-atik ponselnya. Tidak fokus pada langkah kakinya sampai ia menabrak seseorang hingga keduanya terjatuh.

Gadis itu mendesis kesal saat semua barang-barang yang ia bawa jatuh berantakan termasuk ponsel kesayangannya. Ia segera mengumpulkan barang-barang itu tanpa memperdulikan pandangan seseorang yang ia tabrak yang meneliti setiap gerakannya memunguti barang-barang itu.Seseorang itu lebih tepatnya mengamati gantungan ponsel yang gadis itu miliki. Gadis itu sungguh merutuki seseorang di hadapannya. Sebentar-sebentar gadis itu mencuri pandang melihat kaki orang itu.

“Eoh?? Pria rupanya?” gerutunya tidak jelas. Ia menengadahkan kepalanya setelah selesai memunguti barang-barangnya itu. Gadis itu menelan ludah. Menatap tanpa kedip pria di hadapannya. Tampan.  Namun, sedetik kemudian ia mengubah air mukanya menjadi dingin.

“Mianhae…” ujar Ye Ra – gadis itu – datar sembari menepuk celana jeans-nya yang kotor. Bagaimanapun juga ia memang bersalah bukan?? Tidak memperhatikan jalan. Pria itu bergeming. Menatap lekat wajah Ye Ra sehingga membuat gadis itu risih.

“Chagi-ya…” ujar pria itu lantang dan langsung memeluk Ye Ra. Ye Ra terkejut. Marah karena dipeluk sembarangan. Ye Ra segera menginjak kasar kaki pria itu sehingga priaa itu memekik kesakitan.

“Yak!! Kau gila!!!!” pekik Ye Ra tidak senang dan segera berjalan meninggalkan pria yang menurutnya gila itu.

“Yak!! Apa kau tidak ingat aku?? Aku Lee Donghae!! Ikan dari Mokpo!! Dongdong mu,” pekik Donghae menghentikan langkah Ye Ra. Gadis itu tidak menoleh sama sekali. Dan kembali berjalan meninggalkan Donghae.

Donghae menatap bingung punggung Ye Ra. Ada perasaan terluka saat diacuhkan oleh Ye Ra. Otaknya kembali memutar kenangannya dulu dengan gadis kecil itu. Ia yakin betul kalau gadis itu gadis kecilnya dulu. Gadis yang ia suka. Karena Ye Ra memiliki gantungan teddy bear pengantin pria. Bukankah ia sendiri yang berkata kalau Donghae akan bisa mengenalinya dengan gantungan itu??

“Oppa…kau kenapa??” sapa seorang gadis berbalut dress selutut bermotif bunga-bunga kecil dan memakai bando bunga yang sama dengan dress-nya itu. Donghae tergelak melihat ‘kekasih’nya itu. Ada perasaan bersalah menghampiri hatinya. Ia telah berbohong pada gadis yang mencintainya begitu tulus. Membohongi perasaanya. Gadis itu begitu sabar menunggunya. Menunggu balasan cinta sepenuhnya. Ya.. Choi Hyun Hwa – nama gadis itu – tahu betul dengan cerita cinta masa kecil Donghae. Ia tidak merasa keberatan jika Donghae terus mencari gadis kecilnya. Sebenarnya jauh dari lubuk hatinya, ia merasakan  sakit karena merasa diduakan. Tapi,…lagi. Karena cinta ia dengan bodohnya menerima semuanya. Memang cinta bisa mengalahkan logika yang benar-benar menjadi tameng akan sakitnya oleh cinta.

“Eoh?? Oppa tidak apa-apa, Hyun-ah..” ujar Donghae sembari memamerkan senyumnya. Hyun Hwa tahu senyum itu bukan dari hati Donghae. Gadis itu mengangguk. Ada rasa sesak yang menjalar.

“Kkajja!! Kita pergi, oppa…” Hyun Hwa menarik lengan Donghae yang masih bergeming menatap sosok jauh Ye Ra.

=======================

“Hyun Hwa-ya…” pekik seorang gadis sembari membawa semangkuk ramyeon kesukaannya dan menundukkan dirinya di sebuah sofa. Menyalakan televisi juga memasangkan headset yang tersambung dengan ipod-nya. Hyun Hwa yang berada di kamarnya mendengus kesal. Pekerjaannya diganggu kembali oleh saudara sepupunya. Ia pun menghampiri Ye Ra. Menepuk dahinya pelan ketika melihat sepupunya itu kembali melakukan beberapa aktivitas dalam satu waktu. Hyun Hwa kadang berpikir aneh sendiri, kenapa dia bisa mempunyai sepupu aneh macam Choi Ye Ra?? Anak dari Choi Ki Ho yang juga adik dari ayahnya Choi Jin Young.

“Ckckck, sepertinya virus kekasih anehmu itu menular padamu Ye Ra-ya…” cibir Hyun Hwa membuat Ye Ra menghentikan suapan terakhirnya. Mendelik pada Hyun Hwa.

“Apa maksudmu??” Hyn Hwa menggedigan bahu. Jelas sekali gadis itu bermaksud menggoda Ye Ra. Ye Ra mendesis kesal. Namun, tak ayal tetap memfokusan kembali pada acara drama yang ia tonton.

“Bagaimana kau bisa mendengar mereka berbicara jika telingamu tersumbat, huh??” protes Hyun Hwa sembari melepaskan headset yang dipakai Ye Ra.

“Yak!! Babo! Aku menyuruhmu kemari bukan untuk merecokiku!! Tapi untuk memberikan gantungan teddy ini!!” Ye Ra memberikan gantungan itu yang disambut bingung oleh Hyun Hwa.

Mengerti apa tatapan dari Hyun Hwa, Ye Ra segera menjelaskan duduk perkaranya.

“Hyun Hwa-ya, sebenarnya ini milikmu. Ini kutemukan saat appa menolongmu dari tabrakan mobil yang kau dan keluargamu alami. Benda ini sepertinya sangat penting bagimu, karena saat itu kau menggenggamnya erat.” Hyun Hwa memutar kembali otaknya untuk mencerna ucapan Ye Ra. Dirinya pernah mengalami kecelakaan?? Kenapa ia tidak mengingatnya??

“Kau mengalami amnesia sebagian, jadi kau tak akan ingat pa yang telah terjadi padamu, Hyunnie..” tukas Ye Ra saat menyadari Hyun Hwa berpikir keras.

“Kurasa begitu..” sahut Hyun Hwa dan beranjak meninggalkan Ye Ra yang menghela.

=============================

Hyun Hwa menggeliatkan badannya saat menyadari sinar matahari yang menembus kamarnya yang bernuansa pink itu. Mengerjap-ngerjapkan matanya dan kemudian membulatkan sempurna matanya saat melihat benda bulat yang bertengger di dinding kamarnya. Ia terlambat untuk berangkat ke kampus. Segera saja gadis itu bergegas ke kamar mandi. Menyiram seluruh tubuhnya dengan kilat. Dan keluar lagi ke kamar menuju lemari pakaiannya. Ia begitu bersyukur pada pamannya itu yang telah memeberikan sebuah kamar yang lengkap dengan kamar mandi sehingga ia tidak perlu repot-repot untuk ke kamar mandi yang terletak di lantai 1.

Hyun Hwa juga merutuki sepupunya yang tidak membangunkannya. Sungguh sial mempunyai sepupu Choi Ye Ra. Yang kadar kejahilannya tidak melihat waktu dan tempat.

Hyun Hwa juga segera keluar kamar berniat memarahi Ye Ra. Bagaimanapun juga ia lebih tua satu bulan dari Ye Ra. Tidak seharusnya Ye Ra menjahilinya terus menerus.

“Ra-ya…neo eodisseo??” pekik Hyun Hwa sembari menuju ke ruang makan. Terlihat di ruangan itu Ye Ra yang berpenampilan seperti biasa. Kasual. Sedang mengunyah roti selai coklat kesukaannya. Hyun Hwa menyeringai, ia berjalan pelan-pelan, sebelumnya melepas high heels-nya agar tidak menimbulkan suara mendekati Ye Ra. Kemudian gadis itu merenggut roti yang akan masuk ke mulut Ye Ra. Ye Ra menoleh dan mendelik saat didapati Hyun Hwa menggigit sebagian rotinya itu.

“Yak!!! Kembalikan!!” pekik Ye Ra sembari mencubit pipi Hyun Hwa. Hyun Hwa meringis kesakitan dan menjitak kepala Ye Ra.

“Sakit babo!!!” dengus Hyun Hwa. Ye Ra mencibir kemudian tertawa dan segera berlari ke pintu saat bel rumahnya berbunyi. Baginya sungguh menyenangkan menjahili saudara sepupunya itu. Sepupu yang sangat ia sayangi.

“Aahhh…sepertinya itu Jong Woon oppa…” pekik Ye Ra senang.

“Hai opp…” Ye Ra mematung. Bukan Jong Woon – kekasihnya – yang datang, melainkan seseorang yang membuatnya kesal kemarin.

“Neo!!” ucap mereka berbarengan. Ye Ra mendengus dan hendak menutup pintu itu sampai Hyun Hwa melarangnya.

“Yak!! Ra-ya, jangan!! Itu Lee Donghae!! Pria yang sering kuceritakan.” Ye Ra melongo tak percaya. Penilaiannya pada pria itu yang semula baik menurut cerita dari Hyun Hwa mendadak menghapusnya menjadi pria mata keranjang setelah kejadian kemarin. Donghae pun tak kalah tidak percayanya. Gadis yang ia cari ternyata adalah saudara dari Hyun Hwa. Kekasihnya sendiri.

“Wah..sepertinya kalian sudah saling kenal??” Ye Ra menggelengkan kepalanya. Lantas ia pergi meninggalkan Hyun Hwa dan Donghae. Bersyukur Kim Jong Woon kekasihnya itu tiba pada waktu yang tepat.

Donghae menoleh ke belakang ketika mendengar deru mesin mobil. Membawa ‘gadis’nya pergi.

“Itu siapa??” tanya Donghae. Ada perasaan cemburu yang menjalar ketika sempat melihat Ye Ra dipeluk oleh pria lain. Sesak dan kesal.

“Ohh..itu Jong Woon oppa. Namjachingu dari Choi Ye Ra. Sepupuku..” ujar Hyun Hwa tanpa rasa curiga. Donghae tersenyum kecut ketika tahu gadis kecilnya itu sudah mempunyai kekasih. Bukankah dulu ia pernah berjanji kalau dirinya tetap akan menjadi chagi-ya dari Lee Donghae?? Bukan untuk pria lain??

“Oppa…waeyo??” Donghae menggeleng lemah lantas  memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Hyun Hwa. Ia tergelak melihat wajah Hyun Hwa. Pria itu baru menyadarinya. Bodoh!!

“Wajahmu…dengannya hampir mirip.” Hyun Hwa terkekeh mendengar pernyataan polos dari kekasihnya itu. Kemudian ia mengiyakan kalau wajahnya dengan wajah Ye Ra memang hampir mirip. Bagaimana tidak mirip jika mereka memang sudah tinggal bersama selama bertahun-tahun. Sepasang kekasih saja jika sudah lama mengikat hubungan, cepat atau lambat akan memiliki rupa yang hampir sama. Itu semua terjadi karena kecocokan juga karena rasa cinta yang dimiliki satu sama lain. Begitupun dengan Ye Ra dan Hyun Hwa, mereka mempunyai wajah yang hampir mirip dengan tingkah yang berbeda.

Wajah mereka yang hampir mirip tanpa celah membuat sebagian besar teman di kampusnya sedikit terkecoh jika Hyun Hwa dan Ye Ra berjalan beriringan. Hanya saja karena sifat dan fakultas yang mereka ambil menjadikan teman-temannya sebagai alat pembeda.

Hyun Hwa yang memilih Fakultas Sastra Korea memiliki sifat feminim, lemah lembut dan sangat peka pada seekitaar. Sifatnya itu membuatnya lebih banyak yang mengagumi berbanding terbalik dengan Ye Ra yang menyukai dunia bisnis serta berpenampilan cuek sehingga tak ada satu pria pun yang mau mendekatinya kecuali Jong Woon yang kini sudah resmi menjadi kekasih dari Ye Ra.

‘Jangan menilai buku dari sampulnya. Jika kau ingin tahu isinya kau harus membaca dan memahaminya terlebih dahulu. Lagipula bukankah cinta tidak butuh alasan dan tidak memandang dia siapa?? Aku mencintai Ye Ra karena hatiku yang memilihnya BUKAN mataku yang terpaut akan kecantikannya’ itulah kata ampuh yang sering diucapkan Jong Woon ketika dia ditanya ‘kenapa memilih Ye Ra dan bukan Hyun Hwa saja??’

“Karena kami memang saudara, oppa..” Donghae melongo kemudian menyeringai. Bukankah itu bagus?? Ia jadi lebih bisa bertemu dengan Ye Ra melalui alasan bermain ke Hyun Hwa.

==============================

Jika ketakutan itu menghampiriku…

Aku tak akan bisa berlari…

Bagaimana mungkin aku berlari jika kau ada di sampingku??

Kau adalah segalanya untukku…

 

(Choi Ye Ra)

 

Jong Woon menggenggam erat tangan Ye Ra. Menautkan jemari-jemari gadis itu ke sela-sela jemarinya. Tangan mereka yang sama-sama kecil membuat mereka begitu nyaman. Jong Woon terus berjalan pelan mengimbangi langkah gadisnya itu menyeringai manakala menemukan ide yang mungkin akan membuat Ye Ra berteriak. Mereka terus berjalan di kawasan Myeondeong. Kawasan yang selalu menjadi tujuan utama bagi para wisatawan.

“Chagi-ya, oppa minta kau pejamkan matamu…” Ye Ra mengernyit namun melaksanakan perintah kekasihnya itu. Jong Woon tersenyum melihat usahanya berhasil, kemudian pria itu menuntun Ye Ra menuju ke sebuah toko. Mengulurkan tangan Ye Ra ke sebuah benda berbulu. Ye Ra mengernyit, namun tetap memejamkan matanya.

“Sekarang buka matamu dan lihat apa yang kau sentuh.” Ye Ra mulai membuka matanya. Membiaskan penglihatannya yang sejenak buram karena matanya yang sempat terpejam. Alangkah terkejutnya gadis itu ketika ia melihat seekor anjing yang berlutut tepat di kakinya. Gadis itu reflek memeluk Jong Woon dan menyentak-nyentakkan kakinya ketakutan. Jong Woon tetawa terbahak-bahak melihat gadisnya ketakutan sehingga hampir menangis. Ye Ra mendengus lantas menjitak kepala besar kekasihnya itu.

“Yak!! Appo!!” Jong Woon mengelus-elus kepalanya dan berlari mengejar Ye Ra yang menjulurkan lidahnya. Tak jauh dari tempat mereka berada, seorang pria menatap mereka dengan sorotan mata terluka. Tersenyum kecut dan ada dua bulir air mata menghias di kedua pipinya.

“Chagi-ya…” lirih pria itu.

==========================

A Few day latter

 

Kyunghee University, September 8th, 2012

 

 

 

Perasaan sesak itu menyeruak…

Membuat perih mataku…

Ini pertama kali aku menangis…

Ini pertama kali aku merasakan ketakutan…

Takut kau meninggalkanku…

Takut akan cintamu yang pergi mencampakkanku…

 

 

(Kim Jong Woon)

 

Hyun Hwa berjalan terburu-buru di koridor kampusnya. Ia terlambat lagi. Padahal ia sudah menyalakan jam weker di angka 6. Sialnya jam weker itu mati dan membuatnya kembali tergesa-gesa. Mata Hyun Hwa mendadak perih dan panas ketika melihat adegan yang menusuk hatinya. Ia meremas dadanya. Sesak. Dan tanpa ia sadari ia menangis. Terduduk bersimpuh dan menjatuhkan barang-barangnya. Ia melihat kekasihnya itu yang sedang mencium sepupunya Choi Ye Ra. Sungguh sangat sesak ditusuk dari belakang oleh Ye Ra.

Bukankah gadis itu tahu jika dirinya begitu mencintai Donghae? Bukankah gadis itu tahu jika dirinya menunggu Donghae membalas perasaan sepenuh cinta pada dirinya. Bukankah gadis itu juga sudah menemukan cintanya, Kim Jong Woon? Bukankah mereka saling mencintai?? Tapi kenapa Ye Ra dengan teganya menyakiti dirinya?? Hyun Hwa tidak tahan lagi. Ia berusaha berdiri, menopang tubuhnya dengan lututnya yang melemas. Dengan deraian air mata, gadis itu memutar tubuhnya dan tergelak ketika seorang pria yang juga sama sesaknya melihat apa yang dilakukan Donghae dan Ye Ra. Pria itu juga tanpa ia sadari menangis dalam diam. Kim Jong Woon. Sungguh nasib sial apa yang dialami mereka sehingga mereka melihat dua orang yang mereka cintai berciuman.

Jong Woon menatap tanpa ekspresi Hyun Hwa, kemudian ia memutar tubuhnya meninggalkan tempat itu. Hyun Hwa mengerti apa yang Jong Woon rasa. Ia tidak protes ketika Jong Woon tidak menyapanya. Hei, lagipula siapa yang akan menyapa seseorang jika hatinya merasakan perih?? Siapa yang akan menyapa seseorang  jika dirinya terluka??

***

 

 

 

Ye Ra menampar pipi Donghae ketika ia bersusah payah melepaskan tautan bibir Donghae dari bibirnya. Donghae meringis kesakitan. Dari sudut mata Ye Ra gadis itu melihat siluet tubuh Jong Woon. Ye Ra menangis. Ia mengkhianati Jong Woon. Ia mengkhianati cintanya. Ia merutuki ulah Donghae yang menciumnya tiba-tiba dengan penuh emosi dan seperti ada rasa kecemburuan yang menyelimuti priaa itu. Kemudian gadis itu menatap tajam Donghae. Donghae terkejut melihat tatapan itu, ada rasa bersalah pada dirinya. Gadisnya menangis dan terluka karena perbuatannya. Ye Ra tidak lagi berlama-lama di hadapan pria itu. Ia segera berlari mengejar Jong Woon.

“Chagi-ya…” Donghae berteriak memanggil Ye Ra yang diacuhkan gadis itu. Ia menjambak rambutnya. Frustasi. Kenapa dirinya begitu gegabah? Ia memang cemburu melihat kedekatan Jong Woon dan Ye Ra. Logikanya menyuruh pria itu untuk tidak terus menahan  rasa cemburunya itu. Ia benar-benar ceroboh. Donghae hendak berjalan pergi ketika melihat Hyun Hwa berjalan menunduk melewatinya.

“Hyun Hwa-ya…” Donghae berusaha memanggil Hyun Hwa, tapi gadis itu tetap berjalan. Seolah tidak mendengar jika namanya dipanggil. Donghae pun mencengkram lengan Hyun Hwa agar gadis itu mau berhenti.

“Mianhae…” lirihnya. Ia tahu betul kalau dirinya sudah menyakiti Hyun Hwa. Maka dari itu, ia berencana untuk mengakhiri hubungannya dengan Hyun Hwa. Hyun Hwa tersenyum. Memaksakan hatinya untuk tersenyum.

‘Gwenchana… anggap aku tidak melihatnya.” Hyun Hwa melepaskan pelan tangan Donghae. Ia berjalan dan terhenti manakala mendengar kalimat yang terucap dari mulut Donghae.

“Gadis kecil itu Ye Ra. Aku sudah menemukannya. Ia memiliki sebuah gantungan pengantin pria boneka teddy. Sungguh aku tidak tahu, jika aku tahu itu dari awal…”

“Kau tak akan menjadikanku sebagai kekasihmu? Anni…menjadikanku sebagai pelarian cintamu saja??” sela Hyun Hwa dengan suara sedikit serak tercampur tangisan. “Mianhae….”

Hyun Hwa menggeleng. “Tak perlu. Kau tidak salah. Aku yang salah dengan bodohnya mencintaimu. Dengan bodohnya aku menunggu balasan dari cintamu. Kejarlah cinntamu. Aku akan berusaha merelakanmu. Bagiku kau yang pertama dan terakhir.” Donghae terhenyak mendengar penuturan dari Hyun Hwa. Ia benar-bemar merasa bersalah pada gadis itu.

======================

Ye Ra berjalan lunglai menuju kamarnya. Ia tidak bisa menemui Jong Woon. Pria itu seolah menjauhinya. Sungguh tak ada hasrat satupun untuk melukai pria yang sangat dicintainya itu. Bagaimana bisa ia menyakiti cintanya sendiri??

Mata Ye Ra menangkap sosok gadis yang tengah duduk di ayunan belakang rumahnya. Ia semakin merasa bersalah. Bersalah?? Bukankah ia juga korban???

***

 

 

 

Inikah cinta??

Begitu indah dan menyakitkan??

Inikah cinta??

Menangis tanpa henti??

Sungguh…

Aku tidak ingin menangis…

Sungguh…

Tak bisakah ini hanya mimpi??

 

 

(Choi Hyun Hwa)

 

 

 

Hyun Hwa melangkah menuju sebuah ayunan belaakang rumahnya. Rumah yang diberikan oleh Choi Ki Ho untuknya tinggali bersama Ye Ra ketika Ki Ho pergi berbisnis di Jepang. Mata gadis itu sembab dengan penampilan acakan. Hyun Hwa menatap kosong objek-objek di depannya. Terbayang kembali saat ia pertama bertemu dengan Donghae di Kyunghee. Pertama kali ia merasakan debaran yang berbeda. Pertma kali ia melihat wajah Donghae yang sebenarnya sudah ada dalam mimpinya. Tidak bisakah ini hanya mimpi buruk??

“Eonni…” panggil Ye Ra dengan suara sedikit bergetar. Ini pertama kalinya gadis itu memanggil Hyun Hwa ‘eonni’. Usia yang hanya terpaut 1 bulan membuat Hyun Hwa menyuruh Ye Ra untuk tidak memanggilnya eonni. Hyun Hwa menoleh dan membuang muka kembali. Ye Ra berlari memeluknya. Dan terisak

“Mianhae eonni…”  Hyun Hwa melepaskan pelukan Ye Ra dan meninggalkan Ye Ra begitu saja. Ia belum menata hatinya kembali.. ini terlalu sulit untuk dimaafkan. Ye Ra tergelak. Sungguh ini terlalu perih daripada diperlakukan seperti itu oleh Jong Woon.

***

 

Di dalam kamar, Hyun Hwa terisak hebat. Ia mengacak-acak kamarnya. Ia sendiri bingung. Apa yang harus ia perbuat?? Sebelah sisinya mengatakan kalau ia memaafkan Ye Ra, sebelahnya lagi menahannya. Ia tidak peduli lagi tentang Lee Donghae. Ye Ra adalah keluarga satu-satunya, bagaimana bisa ia membenci gadis itu?? Ia memang mencintai Donghae, tapi ia juga begitu mencintai Ye Ra

Hyun Hwa mengumpulkan semua benda-benda yang pernah diterimanya dari Donghae. Ia berniat untuk melupakan Donghae saja. Saat hendak membuka laci mejanya, Hyun Hwa terhenti manakala matanya menangkap sebuah benda yang membuat kepalanya tiba-tiba sakit. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya. Gadis itu merasakan sakit itu, tapi  jauh sebelum ia tahu cerita dari Ye Ra. Ada beberapa sekelabat bayangan yang hinggap di memory otaknya. Hyun Hwa memegang kepalanya, berdiri tidak seimbang sehingga tak sengaja tangannya menyenggol sebuah gelas yang tergelatak di meja sisi bed-nya.

Ye Ra yang memang hendak menuju ke kamarnya yang berada di samping kamar Hyun Hwa mendadak berhenti dan segera berlari ke kamar Hyun Hwa ketika mendengar suara gelas yang jatuh. Mata Ye Ra membulat ketika melihat Hyun Hwa sudah tak sadaarkan diri. Gadis itu segera menghubungi Donghae dan meminta bantuan beberapa pekerja di rumahnya. Membawa Hyun Hwa ke rumah sakit.

===========================

Ye Ra berjalan mondar-mandir di depan sebuah ruangan ICU. Hatinya benar-benar cemas. Sempat terpikir olehnya kalau Hyun Hwa hendak melakukan aksi bunuh diri.==’

Kedua kuku dari ibu jari ia tautkan bersama dan kadang-kadang ia mengigitnya. Hatinya benar-benar resah. Jong Woon yang saat itu hendak berbicara dengan Ye Ra mendadak ikut khawatir ketika dari dalam mendengar suara teriakan kekasihnya.

Jong Woon memeluk Ye Ra, berusaha menenangkannya. Ia juga berusaha mengenyampingkan sakitnya untuk menenangkan kekasihnya yang sedikit terguncang.

“Hyun Hwa pasti akan baik-baik saja…” Ye Ra semakin terisak di pelukan Jong Woon. Gadis itu bingung, sungguh bingung. Oa tak tahu harus bagaimana.

“Keluarga Nona Choi??” tanya seorang pria paruh baya yang memakai jas serba putih mengagetkan Ye Ra dan Jong Woon. Ye Ra mengangguk dan menghampiri dokter itu.

“Nona Choi tidak apa-apa. Hanya saja…apa dulu ia pernah mengalami kecelakaan??” Ye Ra tetap mengangguk.

“Lalu bagaimana dok??” tanya Donghae tiba-tiba. Biar bagaimanapun juga ada terselip rasa khawatir pada dirinya.

“Syaraf yang terjepit di otaknya kemungkinan kembali pulih dan kemungkinan amnesia yang dideritanya juga akan sembuh.” Donghae tergelak. Amnesia?? Bukankah Hyun Hwa baik-baik saja??

“Oh ya..apa ada yang bernama Dongdong??” Donghae menoleh terkejut. Itu namanya. Nama kecilnya. Hanya ia dan gadis yang bernanama princess saja yang tahu.