Tittle                                    : Yesung For Yera In Yesung

 

Author                                : TurtleShfly

 

Twitter/FB                         : @Shfly_3421 / Nurul FatikhahSaranghaeJinyong

 

Blog                                       : http://www.ImELFChoiYera.wordpress.com

Genre                                  : AU! Sad ending!!

 

Lenght                                : OneShoot

 

Words                                 : 3,571

 

Cast                                     : Choi Year, Kim Yesung

  

Disclaimer                          : FF ini milikku yang ke-7, All Cast milik Tuhan YME, ku. DAN KIM JONG WOON MILIK CHOI YERA, CHOI YERA MILIK KIM JONG WOON (sudah di daftarkan ke KUA)

 

Yesung berjalan dengan wajah cerah sembari sesekali melantunkan bait-bait lyric dari lagu yang ia nyanyikan sekaligus untuk melatih kemampuannya dalam bernyanyi. Profesinya sebagai penyanyi mau tidak mau harus terus melatih vocal-nya. Sebenarnya bukan hanya karena profesinya, tetapi lebih cenderung karena rasa cintanya terhadap musik.

Pria yang berbalut busana kemeja berwarna biru dan dipadu dengan jeans serta tatanan rambutnya yang sedikit acak-acakan itu berhenti di depan sebuah pintu apartement. Senyuman yang sedari tadi ia sunggingkan semakin manis terlukis di wajahnya yang tampan. Tangan Yesung terulur untuk menekan tombol sebagai password agar pintu di hadapannya terbuka. Terlihat di dalam apartement tersebut seorang gadis cantik sedang menarikan jari-jarinya di atas tuts-tuts piano sembari menggumamkan sebuah nada-nada lembut.

Gadis itu terhenti sesaat setelah merasakan kehadiran seseorang yang memperhatikannya terus menerus.

“Oppa.. kenapa kau berdiri di sana??” Tanya gadis itu sembari melanjutkan memainkan pianonya tersebut. Yesung tersenyum dan menghampiri Yera – gadis itu – dan duduk di sampingnya.

“Mau bernyanyi bersama??” tawar Yesung dan disambut dengan anggukan ringan serta senyuman yang terlukis di bibir indah Yera.

“Lagu kita??” Tanya Yesung lagi dan Yera tetap mengangguk.

Hikari ga tozasa reta sekai de 

Yasashiku hohoenda kimi ga mieru 

Sorezore sagasu mono wa 

Onajida to shitte ita 

Kewashiku nagai michi mo 

Nani mo kowaku wa nai 

Sono kokoro dakishime rareru 

Ai kara ai e musuba rete ku Destiny 

Futari no mirai tsunagu sen o kakete 

Omoide yori fukaku meguru eien ni wa 

Tsugi no peji o kasanete yukou 

Boku kara kimi e owari no nai Destiny 

Hitomi o mireba subete wakari aeru 

Tokimeki to yasuragi kikoete kuru Harmony 

Nani ga atte mo kesanaikara 

Kimi no tame ni 

Kitto aoi tori wa iranai 

Fureau shiawase o shinjiru dake 

Afureru hito no mure ni 

Makikoma re-sona toki 

Nigitta konote no hira Kesshite hanasanai yo 

Sono namida dakishime rareru 

 

Usai menyelesaikan setengah dari bait lagu itu Yera berdiri sembari meraba-raba benda-benda di sekitarnya mencari sesuatu. Yesung yang kekasihnya mencoba membantu memapah gadis itu, namun ditepis olehnya.

“Biar oppa saja yang membantumu berjalan.” Yera menggeleng keras lantas tersenyum kecut.

“Biar aku sendiri saja. Aku tidak mau menarik orang lain untuk merasakan kegelapan yang aku lihat,” ujar Yera dengan mencoba tersenyum. Yesung menelan kekecewaan dari kata yang terlontar dari mulut gadis itu.

“Apa kau masih menganggap oppa orang lain?? Oppa adalah kekasihmu, priamu, chagi…” ujar Yesung sembari membelai rambut Yera.

“Aku buta oppa!! Aku buta!! Aku bahkan tidak tahu sama sekali wajahmu. Dan itu sangat menyiksaku oppa. Kau tahu?? Itu seperti mimpi buruk dari sekian mimpi buruk yang ada. Aku tidak tahu wajah dari pria yang kucintai dan mencintaiku!!!” pekiknya mulai histeris mengingat gadis itu mengalami kebutaan semenjak bayi karena kornea matanya yang mengalami kelainan.

“Itu bukan alasanku untuk tidak mencintaimu Choi Yera!!!!” ujar Yesung dengan nada ditekankan pada setiap katanya. Yera terdiam. Terdiam untuk mencerna kalimat yang terucap dan terdengar indah dari mulut Yesung. Dan gadis itu menarik kedua sudut bibirnya melukis sebuah senyuman. Benarkah cinta Yesung sekuat itu untuknya?? Tanpa gadis itu sadari, dari kedua sudut matanya turun sebuah air mata kebahagiaan. Ia terharu. Akankah kenyataan dongeng gadis but mendapat seorang pangeran?? Yesung tergelak lantas menarik Yera ke dalam pelukannya. Meyakinkan gadis itu kalau cintanya tulus dan meyakinkan padanya bahwa ia tidak sendiri.

“Walau kegelapan setia menghantuimu, aku yang ‘kan menjadi sosok penerang dalam hidupmu. Dalam hatimu membawa cinta. Saranghae Choi Yera!!!”

Yera semakin terisak di pelukan Yesung. Ia teringat ketika pertama kali bertemu dengan pria itu. Di sebuah panti asuhan. Tempat ketika mereka ditinggalkan oleh kedua orang tua mereka. Yesung yang saat itu menjadi anak yang tidak tahu aturan merasa terlahir kembali ketika bertemu dan berkenalan dengan Yera di sebuah taman panti asuhan. Mereka bersahabat sampai usia remaja. Bermain bersama. Bernyanyi bersama. Yera yang mahir bermain piano selalu diminta Yesung untuk menjadi teman duetnya. Siapa yang bisa menjamin jika persahabatan lawan jenis berakhir tidak dengan kisah cinta?? Cinta yang tak mereka sadari.

———

“Oppa kita ada di mana?? Kenapa kedengarannya ramai sekali??” Yesung tersenyum tipis lantas mengenggam tangan Yera erat. Seperti tak ingin sedetikpun tangan itu untuk terlepas dari tangannya. Seolah tangan itu adalah takdirnya.

“Kita ada di taman hiburan?? Kau suka??” Yera mengangguk senang, tetaapi detik kemudian ia merubah ekspresinya menjadi muram. “aku tidak bisa melihat apapun, oppa…”

“Biar oppa yang menjadi matamu. Menjadi lentera dalam gelapmu.” Yera tergelak. Gadis itu sampai sekarang terus saja meyakinkan hatinya. Meyakinkan cintanya yang terpaut dengan cinta Yesung.

“ Sekarang kau mau naik wahana apa??” Tanya Yesung sembari menelungkupkan tangannya dikedua pipi gadis itu. Yera tampak berpikir, padahal sejatinya gadis itu menahan kuat-kuat degupan jantungnya yeng berdetak tak karuan ketika kulit tangan Yesung yang menyentuh pipinya. Ini adalah pertama kalinya Yesung menyentuhnya sejak terakhir mereka masih anak-anak.

“Aku mau main ice skatting.” Yesung membelalakan matanya kemudian tersenyum manis dan mengabulkan permintaan gadis itu.

Yesung terus saja menuntun Yera untuk bermain ice skatting. Walau gadis itu melarangnya keras, tetapi tetap saja karena rasa cintanya yang terlalu besar menginginkan gadis itu untuk tidak terluka sedikitpun. Baginya Yera seperti porselen yang harus ia jaga dan jangan sampai  pecah.

“Oppa aku mau ice cream…” rengeknya manja ketika selesai bermain ice skatting.

“Aku bisa sendirian. Oppa tak perlu khawatir,” tambah Yera ketika menyadari Yesung tak ada reaksi apapun. Yesung masih bergeming. Tidak. Ia bukannya tidak mau membelikan ice cream untuk Yera, hanya saja jika ia pergi siapa yang menjaga kekasihnya itu?? Ia tidak ingin sesuatu yang dulu kembali terjadi. Sesuatu yang saat itu ketika Yesung meninggalkan Yera di sebuah bangku taman hanya untuk sekedar membelikan air mineral karena Yera haus tersentak saat didapatinya seorang pria hendak melecehkan gadisnya itu.

Yesung tersenyum ketika mendapat sebuah ide. Ia berdiri dan tangannya melambai memanggil seorang anak kecil dan menyuruhnya untuk membelikan apa yang diinginkan oleh Yera.

“Chagi.. hyung bisa minta tolong?? Tolong belikan ice cream coklat di toko itu.” Yesung menunjuk sebuah toko yang diikuti oleh arah pandang anak laki-laki di hadapnnya. Anak itu mengangguk dan tak sampai sepuluh menit, anak itu kembali sembari membawa apa yang diperintahkan Yesung. 3 buah ice cream.

“Gomawo…” Yesung mengacak pelan rambut itu dan memberinya ice cream. Anak kecil itu lantas tersenyum senang dan berlari meninggalkan Yesung. Yesung pun kembali menghampiri Yera yang sedang bergumam lantunan lagu sembari tangannya bergerak-gerak seperti memainkan tuts-tuts piano.

“Apa kau menyuruh seseorang untuk membelikan ice cream untukku??” selidik Yera ketika menyadari kedatangan Yesung. Yesung terkekeh lantas duduk di samping gadis itu.

“Kenapa kau selalu berhenti bernyanyi jika oppa datang?? Anni…kenapa kau selalu menyadari oppa menghampirimu??” Yera tersenyum lantas memajukan kepalanya ke tubuh Yesung yang sempat memundurkan tubuhnya.

“Karena ini!!” Yesung mengernyit dengan pernyataan Yera.

“Apa kau sedang bingung oppa??” Yera tertawa kecil lantas kembali melanjutkan ucapannya.

“Karena harum tubuhmu. Itu yang merangsang otakku untuk bekerja cepat ketika kau menghampiriku. Aku hafal betul harummu oppa dan entah sejak kapan itu menjadi candu untukku.” Yesung menatap lekat wajah manis gadis di hadapannya. Sungguh ia merasa beruntung mencintai Yera.

———-

Yera berjalan dengan hati-hati menuju dapur untuk menagmbil air mineral dan beberapa cemilan makanan untuknya dibawa ke kamar menemaninya saat ia belajar dengan huruf-huruf brailee yang ia benci. Ketika tangannya menyambut gagang pintu, gadis itu terdiam mematung. Tersenyum kecut saat kembali menyadari kondisinya yang tidak sempurna. Yesung yang saat itu hendak keluar apartement, melihat seksama Yera yang berdiri di ambang pintu dapur. Hatinya terenyuh. Lantas menghampiri gadis itu.

“Kau mau minum, chagi??” Yera mengangguk lemah. Sungguh hatinya merasa sakit ketika harus terus bergantung pada pria yang dicintainya. Pria yang sedari kecil bersamanya dan pria yang mengabdikan dirinya untuk menjadi mata dalam hidupnya yang gelap. Merka tinggal bersama saat Yesung dan Yera memutuskan untuk meninggalkan panti asuhan, mereka menyewa apartement yang murah. Tetangga pun tak ada yang tahu jika mereka sepasang kekasih, karena saat Yesung menyewa tempat itu, Yesung meyakinkan pemilik apartement kalau mereka adalah kakak beradik.

Yesung bekerja mati-matian untuk kehidupan mereka. Bekerja dari seorang pelayan café sampai penyanyi jalanan. Siapa yang sangka kehidupan mereka sekarang jauh lebih baik semenjak ada seseorang dari agensi ternama merekrut Yesung menjadi seorang penyanyi karena suara emasnya dan karena ketepatan vocal dan nadanya sehingga ia bisa menjadi penyanyi. Mengingat perjuangan Yesung itu membuat Yera kembali meneteskan air matanya.

“Kenapa menangis?? Uljimayo…” Yesung mengusap perlahan air mata Yera dengan lembut.

“Mianhaae, jika selama ini aku selalu merepotkanmu. Aku tidak berguna oppa. Mianhae, mianhae, mianhe…mi– “ Yesung membekap mulut Yera dengan ciuman yang tak pernah dibayangkan sekalipun oleh Yera. Sebentar. Yesung melepaskan ciumannya dan memeluk Yera.

“Jangan pernah berbicara seperti itu lagi!! Kau tahu setiap kata-katamu itu membuatku terluka. Kita hidup bersama hampir 14 tahun. Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu??!!” Yesung melepaskan pelukannya dan mentap gadis di hadapannya dengan pandangan tajam. Ia marah, kesal terlihat dari wajahnya yang melukiskan gurat kekesalan. Yera menunduk, ia merasakan kekesalan dalam setiap ucapan Yesung itu. Yesung melunak ketika menyadari perubahan Yera. Lantas memeluk tubuh gadis itu lagi dan berbisik lembut padanya.

“Maafkan oppa…” Yera semakin terisak dalam dada Yesung.

————

Angin malam berhembus kuat di sekitar Sungai Han menerpa lembut wajah sepasang kekasih yang sedang duduk menatap pantulan lampu kota yang terlukis di permukaan air sungai. Anni…sebenarnya hanya sepasang mata yang menatap permukaan air tersebut, karena sepasang mata lagi hanya menatap tanpa bisa melihat yang sebenarnya. Yera menyandarkan kepalanya di bahu Yesung. Menghirup dalam aroma parfum yang senantiasa menjadi candu untuknya.

“Bagaimana air itu, oppa??” tanyanya. Yesung menoleh dan mengusap pipi kri Yera perlahan.

“Indah…kita seperti bercermin dalam air yang jernih.” Yera tesenyum samar dan mengangguk.

“Andai aku bisa melihat…” harapnya membuat Yesung terdiam.

“Kau ingin sekali melihat??” Yera mengangguk lemah. “tapi kemungkinan itu bahkan tak ada sedikitpun. Sudahlah, yang terpenting untukku, kau berada di sisiku.” Yesung beringsut memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Yera.

“Kau ingin melihatku bukan?? Kkajja lakukan apa yang sering kau lakukan padaku saat kita kecil dulu.” Yera mengernyit dan Yesung memegang kedua tangan Year. Menaruhnya di wajahnya.

“Sapu seluruh wajahku. Bukankah ketika aku dewasa akan berbeda??” Yera menurut dan memejamkan matanya, membiarkan tangan dan jemari-jemarinya yang bekerja.

“Rambutmu sedikit kasar, apa kau mengubah style-mu?? Bukankah waktu kecil rambutmu sangat lembut?? Karena itu aku suka menarik rambutmu.” Yera terkikik sedangkan Yesung mendengus. Yera mengunci bibir Yesung dengan tangannya ketika dirasa Yesung hendak melancarkan protes.

“Diam!! Biarkan aku mematrimu dalam hati ini.” Yesung menurut dan ia terdiam membiarkan tangan gadisnya menyentuh lembut wajahnya.

“Alismu sedikit lebat..ah apa kau selalu membiarkan rambut menutupi keningmu?? Menyebalkan!!!” ucapnya sembari menyentil pelan kening Yesung.

“Aish!! Jinjja!!!” Yesung memonyongkan bibirnya. Ini yang tak ia sukai jika Yera Yera terkekeh dan kembali menenggelamkan dirinya mematsi wajah Yesung.

“Matamu segaris?? Apa manik matamu tajam?? Alangkah tergetarnya hatiku ketika bisa melihat matamu itu.”

“Pipimu..tirus?? Apa kau kurus? Bukankah dulu ketika kau kecil pipimu sedikit chubby?? Apa ini karena kau merawatku sehingga melupakan dirimu semdiri?? Jika iya aku berjanji aku tak akan merepotkanmu lagi.” Yesung menghembuskan napas putus asa.

“Haruskah kau berkata itu lagi?? Aku kurus bukan karena dirimu. Ini karena kemauanku. Jika kau ingin aku kembali seperti dulu, aku janji akan kembali chubby!!!” Yera menggeleng keras membuat Yesung menatap aneh padanya.

“Jangan!! Jangan karena aku!! Itu sama saja kau melakukannya terpaksa. Lakukan sesuai kata hatimu!! Aku tak ingin kau menjadi dirimu hanya karena aku.”

Yera terdiam sebentar ketika tangannya menyentuh bibir tipis Yesung. Ada desiran aneh yang kuat menjalar di aliran darahnya. Menggigit perlahan bibir bawahnya. Teringat saat dirinya dicium oleh Yesung. Yesung menyeringai lantas memajukan wajahnya ke hadapan wajah Yera yang hanya terpaut beberapa centi jarak sehingga hembusan napasnya menyapu lembut kulit wajah Yera.

“Apa kau mau lagi?? Jantungmu berdegup kencang, apa kau…” godanya membuat Yera salah tingkah.

“Jangan menggodaku Tuan Kim!!” ujarnya seraya berdiri dan meregangkan tubuhnya yang sedikit pegal. Sebenarnya itu dilakukan untuk menyamarkan jantungnya dan rona wajahnya yang memerah. Yesung tertawa keras. Ini sudah kesekian kalinya ia menggoda gadisnya itu dan berakhir seperti ini.

“Aku lelah… kkajja!!” Yera berjalan mendahului Yesung dan berjalan dengan hati-hati. Tangannya terus saja terulur  ke depan guna membantunya untuk berjalan. Yesung yang di belakang gadis itu terus saja mengawasi gadisnya  sampai  ia beringsut menghampiri Yera ketika dirasa gadis itu hampir oleng.

“Jangan membantah!!” ucapnya tegas sembari menggendong tubuh Yera menuju parkiran mobilnya.

———–

Yera duduk bersilah di depan sebuah meja kecil yang terletak di sisi kamarnya yang bernuansa biru. Walau gadis itu tidak bisa melihat warna kamar yang sengaja di cat oleh Yesung, tetapi ia bisa merasakan warna lembut dan menyejukkan seolah ia berada di sebuah pantai.

Bunga anggrek berwarna putih yang ia sukai tertata rapi di sebuah meja dekat dengan bed-nya yang juga bersprai biru dengan motif kotak-kotak tercampur putih. Kamar yang dipersiapkan oleh Yesung untuk kekasihnya sesuai dengan apa yang kekasihnya itu suka.

Ia mengambil sebuah buku yang bertuliskan huruf-huruf brailee dan ia tersentak saat tangannya merasakan sebuah angka. 23. Ia mendesah dan memukul pelan kepalanya.

“Kenapa aku sampai lupa??” ia berdiri dan mendekati pintu kamarnya sembari menghitung langkahnya.

“10 langkah dari tempat tidur menuju pintu kamar.” Ia memutar knop pintu dan berdiri sebentar. Menghirup oksigen lantas berjalan pelan sembari menghitung. Ini merupakan kesempatannya untuk mengelilingi semua ruangan dalam apartement ini. Yeah, kesempatan ketika tidak ada Yesung. Pria itu sedang sibuk mempromosikan album barunya. Jika Yesung berada di sini, mungkin pria itu dengan cerewetnya menasehati Yera. Pria posesif, tetapi tetap mengerti apa yang diinginkan oleh Yera dan pria yang tidak terlalu mengekang kebebasannya.

Yesung yang sedari tadi sudah ada di dalam apartement dan hendak pergi ke dapur, mendadak menghentikan langkahnya ketika melihat sosok Yera yang berjalan mondar-mandir sembari menghitung langkahnya. Sebenarnya Yesung khawatir jika dalam langkahnya gadis itu menabrak sebuah gucci sehingga pecah dan gadis itu menginjak pecahan gucci itu. Tetapi karena kemauan Yera yang kuat untuk tidak bergantung padanya membuat Yesung hanya mengikutinya dari belakang.

“Dari kamar menuju pintu keluar 30 langkah.” Yesung terkikik pelan tidak ingin membiarkan gadis itu tahu.  Dari kamar menuju dapur 15 langkah. Dari kamar menuju beranda 17 langkah dan..”

“Dari hatiku menuju hatimu tak ada jarak yang memisahkan,” ucap Yesung tiba-tiba membuat gadis itu terhenti dari langkahnya.

“Opp…oppa… kau sudah datang?? Lewat mana?? Kenapa aku tidak mendengar pintu terbuka?? Dan kenapa juga aku tidak merasakan kehadiranmu?” Tanya Yera bertubi-tubi membuat Yesung terkekeh.

“Wahhh, berarti kau 1x kehilangan kepekaanmu terhadap oppa!!” Yera mendengus lantas berjalan menghampiri sofa. Duduk. Dan menyumpal telinganya dengan earphone yang ia bawa.

“Ckck!! Kau marah?? Kekeke… oppa sudah datang sejak tadi bahkan sejak kau pertama keluar dari kamarmu.” Yesung menghampiri Yera dan ikut duduk di sampingnya. Membuka earphone yang dipakai gadis itu agar bisa mendengarnya bicara.

“Kau sudah makan??” Yera mengangguk dan menyentuh setiap lekukan wajah Yesung.

“Kau tampan!!” ujar Yera lirih. Sesuatu yang hangat menggantung di pelupuk matanya.

“Seharusnya kau menemukan gadis yang lebih baik dariku. Gadis itu bisa melihat, tidak sepertiku yang mungkin seumur hidupku tak akan bisa melihat wajah tampanmu.” Gadis itu menangis. Ini yang paling ia takutkan. Tak ada kesempatan sekalipun untuk melihat wajah kekasihnya. Yesung menempelkan jarinya ke bibir Yera. Menyuruh gadis itu untuk berhenti beromong kosong.

“Semua pasti akan baik-baik saja!! Kau pasti akan bisa melihat. Melihat betapa indahnya dunia ini. Betapa tampannya wajahku.” Yesung terkekeh dan memeluk tubuh Yera lebih dalam seolah takut untuk kehilangannya. Seolah sebuah takdir yang akan memisahkannya.

“Aku janji akan membuatmu bisa melihat lagi. Apapun itu caranya.” Batin Yesung terenyuh.

———————–

Yera berjalan tertatih dibantu dengan sebuah tongkat yang menuntunnya untuk berjalan. Sungguh ini pertama kalinya ia berjalan seorang diri tanpa Yesung. Benar untuk saat ini, gadis itu benar-benar bergantung padanya. Dengan berbekal indra penciuman, gadis itu berjalan menyusuri trotoar. Tak jarang pula ia menabrak pejalan kaki lainnya. Menabrak tiang-tiang yang berdiri angkuh di jalanan. Dan sampai terjatuh membuat seorang wanita paruh baya menghampirinya dan membantunya untuk berdiri.

“Mianhae, apa ahjumma bisa membantumu??” Yera memejamkan matanya perlahan dan mengangguk.

“Mianhamnida ahjumma jika aku merepotkan Anda.” Wanita itu terssenyum dan memapah Yera sembari sesekali berbasa-basi.

“Kalau boleh tahu, kau mau kemana??”

“Aku mau ke toko kue, malam ini kekasihku akan berulang tahun. Bisakah ahjumma mengantarku??”

“Dengan senang hati, chagi… kau itu seumuuran dengan anak ahjumma. Jadi kau jangan sungkan pada ahjumma.” Yera tersenyum manis dan memeluk wanita itu. Perasaan yang ingin ia rasakan ketika dipeluk oleh seorang ibu. Hangat dan nyaman.

———————–

Yesung berjalan dengan tergesa-gesa. Perasaannya tiba-tiba sesak, napasnya tercekat. Kerongongannya terasa kering. Wajahnya melukiskan berbagai ekspresi. Kesal, marah, khawatir, takut dan sedih saat menyadari Yera tidak ada di kamarnya. Saat itu Yesung hendak mengajak Yera untuk makan malam sekaligus merayakan hari ulang tahunnya yang mungkin menjadi yang terakhir baginya. Satu demi satu pintu sebuah ruangan ia banting. Mencari sosok Yera yang entah sejak kapan menghilang. Padahal jelas-jelas ia masih berada di apartement-nya. Ia menjambak kuat rambutnya. Frustasi karena tak ada siapapun. Ia tidak ingin jika makna perkataan Yera tadi siang menjadi kenyataan. Ia juga tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu. Pria itu melirik sekilas arloji-nya. Pukul 11.55 PM. Yesung mendesah dan menghembuskan napas kesal.

“Ra-ya, neo eodisseo?” Yesung hendak membuka pintu apartement-nya dan mencoba mencari Yera di luar apartement. Ia yakin betul Yera pergi diam-diam tanpa ia ketahui. Tetapi kemungkinan itu perlahan sirna ketika masih terpasang rapi benda-benda milik gadis itu.

“Aish!! Seharusnya jika kau ingin pergi katakan padaku terlebih dahulu. Aku mengkhawatirkanmu bodoh!!” racau Yesung sembari memutar knop pintu. Pria itu tidak langsung berjalan, akan tetapi ia mematung. Meneliti setiap inchi tubuh gadis di hadapannya dengan seksama.

“Neo!!! Dari mana saja, huh?!!” pekik Yesung. Yang ditanya hanya diam saja. Kedua tangannya ia letakkan di belakang tubuhnya sampai jam di dalam apartement-nya berdentang menunjukkan pukul 00.00 KST.

“Saengil chukkahamnida, oppa…. Saranghaeyo…. Jeongmal saranghaeyo….” Ucap Yera sembari memberikan sebuah kue tart dengan angka 29 di atasnya.

“Mianhae jika aku menghilang mendadak. Aku hanya ingin member kejutan untukmu. Ini ada amplop untukmu, mianhae bukan aku yang menulisnya. Aku meminta penjaga toko untuk menuliskannya.

Karena aku mencintaimu…

Hatiku telah terikat oleh hatimu…

Setiap kerja otakku,

Selalu mentransfer tentangmu ke seluruh aliran darahku.

Berdesir hangat dan tak ingin terganti.

Setiap memory otakku akan selalu berputar slide-slide wajahmu…

Memandang dengan mata hati

Terpenjara dalam jiwa…

Mengikat jiwa ini..

Mematri setiap sisi hati…

Setiap jarak yang kulangkahkan

Sejauh apapun itu

Akan tetap tertarik magnet yang ada pada dirimu…

Kelemahanku,

Tak pernah bisa melihat ciptaan Tuhan yang paling indah

Menangis dalam diam

Tersenyum dalam luka..

Memohon di hari ini

Kau berbahagia selalu…

Saranghaeyo,, naega jeongmal sarangheyo

You’re my destiny

My be half soul

My oxygen

MY EVERYTHING

 

-Choi Yera-

240812

 

Yesung terdiam, air matanya merembes di kedua pipinya.

“Mianhae aku tidak bisa memberi kado apa-apa untuk oppa…” Yesung tersenyum lalu mendekatkan bibirnya ketelinga Yera.

“Aku ingin kau bahagia dengan mata barumu…” Yera mengernyitkan dahinya.

“Aku tidak mengerti…”

“Besok bangunlah pagi-pagi dan kita akan ke rumah sakit. Ada seseorang yang mau mendonorkan matanya untukmu.” Wajah Yera berbinar dan mengangguk semangat. Sedangkan Yesung hanya tersenyum dengan melukiskan gurat wajah yang tak bisa dijelaskan.

“Asal kau berjanji aka nada di sampingku kelak saat aku membuka keduamataku untuk yang pertama kalinya.” Yesung mengangguk dan menautkan kelingkingnya dengan kelingking Yera.

——–

Yera mengerjap-ngerjapkan matanya secara perlahan. Setelah berjam-jam lamanya ia dibuat pingsan demi kelancaran operasinya. Ia memekik senang karena apa yang ia impikan terwujud. Walau pandangannya masih terlihat buram karena belum terbiasa untuk melihat. Ketika fokusnya stabil, gadis itu mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang dicintainya.  Tidak ada. Mungkin dengan mata ia tak bisa mengenali, namun dengan hati ia akan tahu dimana Yesung berada. Yera mulai memejamkan matanya. Menghirup dalam-dalam harum tubuh Yesung. Ia frustasi ketika yang ia cium hanya bebauan obat yang menyengat. Ia mulai memberanikan diri bertanya pada suster yang tadi membukakan perban di matanya.

“Mianhamnida, apa Anda mengenal seorang pria yang membawaku kemari??” suster itu diam, pandangannya ia tujukan pada sosok pria yang berpakaian jas putih. Yera tahu kalau itu seorang dokter.

“Jeosonghamnida Nona Choi, jika yang Anda maksud Tuan Kim Yesung. Ia…” Yera bergeming. Entah kenapa ucapan dokter itu membuat seluruh oksigen mencampakkannya.

“Tuan Kim Yesung… yang mendonorkan mata untuk Anda.” Seperti tertusuk ribuan jarum. Seperti tersambar petir. Air mata Yera tumpah ruah. Ini tidak mungkin untuknya.

“JANGAN KATAKAN SESUATU YANG BURUK TENTANGNYA!!!!” pekiknya sembari mencabut selang-selang yang tertanam di tangannya dan segera beringsut turun dari ranjangnya sampai beberapa perawat lain mendorong sebuah ranjang jalan memasuki ruangannya. Kaki Yera mulai melemas. Cairan hangat merembes deras keluar dari pelupuk matanya yang sedari tadi menggantung perih.

Gadis itu mulai mendekati tubuh kaku pria yang dicintainya itu. Pucat dan dingin. Berbeda saat ia menyentuh Yesung kemarin hari.

“Babo!! Cepat bangun!! Ini hari ulang tahunmu!! Traktir aku makan ice cream!!” ujar Yera lirih. Ia meyakini kalau Yesung hanya berakting mengingat ia ingin sekali menjajal dunia acting.

“Yesung oppa… apa kau tidak mencintaiku?!!! Ppalliwa bangun!! Bagaimana bisa kau mendonorkan matamu agar aku bisa melihat jika focus yang ingin kulihat terbujur kaku tanpa nyawa seperti ini??!”

“Kau anggap dirimu apa, huh?? Pahlawan??!! Aku lebih memilih buta seumur hidup daripada bisa melihat tanpa ada kau dalam setiap pandanganku!!” Yera menenggetarkan bahu Yesung yang kaku.

“Tuan Kim!! Kita bersama sudah 14 tahun!! Aku belum mengenal dunia ini!! Bangunlah!! Aktingmu payah sekali!!” Yera menangis sejadi-jadinya sampai pandangannya kabur dan ia tak sadarkan diri.

A few days later

 Seorang gadis tengah menekuk lututnya dan menenggelamkan kepalanya. mata gadis itu bengkak, seperti menangis tanpa henti.

Setelah pemakaman Yesung, Yera lebih mengurung diri di kamarnya. Kamar yang selalu ia impikan. Ia merindukan Yesung. Sangat merindukan pria tampan itu.

“Kenapa kau pergi dari hidupku?? Aku belum memberikanmu hadiah ulang tahun. Bukankah kau menginginkan aku??” lirihnya sembari menyayatkan silet di pergelangan tangannya.

“Saranghaeyo….”

THE END

Mungkin ketika kau membaca surat ini aku sudah ada di surga.

Mianhaeyo jika aku tidak bisa membahagiakanmu..

Bukankah kau ingin melihat??

Bagaimana dunia itu?? Ahh… bukankah kau bersikeras ingin melihatku?

Bagaimana?? Aku tampan bukan??

Aku tidak bisa berkata romantic apapun.

Ahh sudahlah ini membuatku gila. Mencari setiap kata, tetapi tetap saja aku tak bisa romantis.

Jinjja!! AKU SANGAT MENCINTAIMUUUU CHOI  YERA!!!

Aku menunggumu di sini.