Tittle                                      : N(ever)

 

Author                                   : YuanitHEE (raeHEEchul)

 

Blog                                        : http://www.naddictator.wordpress.com

 

Genre                                     : AU! ;  Action

 

Rating                                    : T-15

 

Lenght                                   : Oneshoot

 

Words                                    : 4,516

 

Cast                                        : Kim Ye Sung; Choi Ye Ra

 

Support Cast                                    : Choi Rae Hee; Kim Hee Chul; Lee Sung Min

 

Disclaimer                            : FF ke-69 ini punya Author. Choi Rae Hee milik Kim Hee Chul. Other cast ? for you guys ^^  

 

Note                                       : Authorfic, Copyright*

 

 

Happy Reading ^^

 

==================================

Pria itu berlari terseok, sambil sesekali menoleh ke belakang seolah memastikan kalau tidak ada yang mengikutinya. Tangan kanannya yang memegang pistol, sudah menekan dengan kuat dada kiri bagian atas yang mengeluarkan darah.

Napasnya tersengal, bibirnya sudah pucat, dan peluh membanjiri seluruh wajahnya. Yang ia tahu… ia harus segera menemukan tempat yang aman agar bisa menyelamatkan dirinya. Peluru sialan yang bersarang di dadanya… harus dikeluarkan segera.

Dalam kegelapan malam dan suhu ekstrem musim dingin, ia berusaha bertahan, mengatur napasnya sambil tetap berlari. Darah menetes dari dadanya, menodai putihnya salju yang ia langkahi. Tepat saat ia berbelok, satu peluru lagi mengenai dinding di sampingnya. Nyaris saja.

Ia menyadari kalau dirinya telah ‘ditemukan’ dan memutuskan untuk keluar dari wilayah peti kemas pelabuhan itu. Berlari menyusuri gang kecil dan sampai di jalan raya tepat saat sebuah mobil melintas dan menabraknya.

Ia bernapas dengan susah payah sambil berusaha bangkit dari terbaringnya ia di jalanan yang dingin. Ia merasakan tangan seseorang tengah membantunya dan menanyakan keadaannya dengan panik.

Ia tahu kalau seseorang itu adalah seorang gadis karena jeritan syok gadis itu saat melihat ia terluka.

“Tolong… Aku…” Hanya dua kata itu yang sempat digumamkannya karena setelah itu… ia hanya bisa sibuk mengatur napasnya agar tetap ‘sadar’.

Ia mengikuti gadis yang membopohnya ke arah mobil dan membaringkannya di kursi belakang penumpang. Sementara ia bisa merasakan kalau gadis itu cepat-cepat masuk ke dalam mobil, melesatkan mobilnya lebih cepat sepuluh detik saat pria lain yang ‘mengejar’nya itu keluar dari gang.

Pria lain itu melihat pistol tergeletak di sudut gang dan bercak darah di jalan yang terutup salju tipis, membuatnya yakin kalau mobil yang baru saja melintas telah membawa pria yang diburunya. Pria itu mengeluarkan ponsel, menekan beberapa tombol. “Dia lolos,” lapornya kepada sang atasan.

Ia mendengarkan sejenak, lantas mematikan sambungan teleponnya, menunggu sebentar sampai ada mobil lain yang menjemputnya.

****

Arraseo!!! Aku sudah akan pulang, Saengiya….”

Choi Ye Ra melangkah keluar lift gedung tempatnya bekerja dan menghampiri Chevrolet hitam hasil pinjaman paksanya dari Lee Sung Min, sahabatnya yang baik hati karena mobilnya sedang di bengkel.

Yah… Sebenarnya tidak hanya meminjam paksa, tapi menyogok sekaligus mengancam dengan sadis yang entah dia pelajari dari mana kata-kata sadisan itu. Kekasih sang adik-kah? Tidak tahu. Yang jelas dia tidak perlu pulang naik bus di larut malam karena harus kerja lembur seperti sekarang ini. Sung Min toh sudah pulang dari tadi dengan menggunakan bus.

Ye Ra memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menaruhnya di kursi penumpang samping kemudi, mulai menjalankan mobil Sung Min meninggalkan lokasi parkir gedung perusahaan keluarga Shin.

Jalanan kota Seoul yang sepi dan tertutup salju tipis. Seminggu lagi natal tiba dan dia belum mengurus ijin cutinya, belum menyiapkan segala hal untuk menyambut natal tahun ini. Ia menopangkan sikunya di jendela yang tertutup saat traffic lamp berubah merah.

Kemudian… Ia menjalankan mobilnya kembali dan berbelok ke kiri, memutuskan untuk lewat jalan pintas saja karena mengingat hari sudah lewat tengah malam. Tapi saat ia baru saja berbelok, ia langsung menghentikan mobilnya karena syok. Sepertinya ia menabrak seseorang.

Dengan takut-takut, ia keluar dari mobil dan melihat seorang pria nampak mengerang kesakitan dengan tersorot lampu mobil Sung Min. Ia panik saat melihat ada darah di salju putih dibawah pria itu, lantas buru-buru menghampiri pria itu, menanyakan keadaannya sambil membantunya berdiri.

Tanpa sadar ia menjerit tertahan, ngeri saat melihat banyak darah yang merembes dari jaket kulit cokelatnya.

“Tolong… Aku…”

Dua kata itu diucapkan sang pria dengan terputus-putus. Ia langsung membopong sang pria ke arah mobil Sung Min dan membaringkannya di kursi belakang penumpang. Setelah menutup pintu, ia berlari memutar dan duduk kembali di belakang kemudi, melajukan mobil Sung Min secepat yang ia bisa… Menuju rumah sakit.

****

Pria itu meremas bahu gadis yang menolongnya dengan erat, membuat gadis itu menoleh sekilas, menanyakan ada apa.

“Jangan ke rumah sakit. Kau bisa membawaku kemanapun asal tidak ke rumah sakit.”

“Tapi lukamu…”

“Aku sudah bilang kan, Nona?” ucap pria itu lagi dengan nada dingin, membuat gadis yang menolongnya mengangguk kaku, tanpa sadar menyetujui apa yang dikatakan pria itu.

Mobil yang sudah memasuki lahan rumah sakit itu, kembali ia putarkan dan keluar dari gedung yang penuh dengan dokter-dokter dan pasien itu. Pria itu nampak menghembuskan napas berat saat akhirnya mereka keluar dari kawasan rumah sakit, kembali menuju jalan raya.

“Aku tidak tahu ini benar atau tidak tapi… Karena aku memang sudah menabrakmu hingga kau terluka seperti itu dan kau juga menolak untuk ke rumah sakit, ku kira aku bisa merawatmu di rumah ku.”

Pria itu tersenyum tipis saat mendengar suara ragu yang terlontar dari mulut sang gadis. Ia bisa melihat kalau pegangan tangan gadis itu pada kemudi semakin erat.

“Kau melakukan hal yang benar. Hanya tolong aku. Itu saja,” ucapnya pelan, sudah tak punya tenaga lagi akibat luka di dadanya. Matanya perlahan terpejam, terasa berat. Tapi ia tetap terjaga.

****

Ye Ra mengetuk pintu dengan kencang, dan tak lama kemudian adiknya menampakkan diri dengan rol rambut di sekitar kepalanya dan piyama panjang berwarna pink bergambar kucing.

Sang adik menutup mulutnya karena menguap. Tapi kemudian menjerit saat Ye Ra menarik tangannya keluar rumah, menodai sandal bulu hello kittynya karena menyentuh salju kotor di depan rumah.

“YAK!!”

“Hanya diam dan lakukan apa yang ku minta.” Ye Ra menutup mulut sang adik dan membuka pintu belakang penumpang, membuat sang adik melotot kaget.

Sebelum adiknya sempat bertanya, Ye Ra sudah menyorotkan ucapan ‘diam’ dari matanya dan mulai membantu pria itu untuk keluar dari mobil, memapahnya dengan dibantu sang adik di sisi kiri.

“Bawa ke kamar Si Won Oppa saja….” ucap Ye Ra pada sang adik yang mengerti. Keduanya melangkah menuju kamar kakak laki-laki mereka yang sudah tiada, di lantai satu.. Terhalang sebuah dinding.

Ye Ra membaringkan pria yang mengerang itu dengan perlahan, lantas mengangguk pada sang adik yang langsung berhambur ke luar ruangan.

“Biar aku lihat seberapa parah lukamu. Adikku adalah dokter muda yang baru menyelesaikan pendidikannya, dia bisa membantumu,” ucap Ye Ra sambil mengulurkan tangan untuk membuka jaket kulit pria itu.

Tangan Ye Ra tertahan di udara karena pria itu menggenggamnya dengan erat. Rasanya… Hangat. Walau sebenarnya tangan pria itu sangat dingin tapi tetap saja… Rasanya hangat. Ia tidak tahu kenapa.

Ye Ra menelan ludah dengan susah payah saat melihat tatapan tajam pria itu. “Jangan katakan pada siapapun kalau kau menampungku disini. Adikmu cukup, karena aku juga akan mengurus diriku sendiri. Bisa aku meminta pisau kecil yang tajam? Dan alkohol? Kapas juga, cukup banyak kalau bisa,” ucap pria itu dengan napas yang tersengal. Ye Ra mengangguk tanpa ragu, dan mulai berjalan keluar ruangan saat tangan pria itu perlahan melepasnya.

Bertepatan dengan keluarnya Ye Ra, adik gadis itu masuk dengan membawa gunting operasi, baskom alumunium dan obat-obatan lainnya.

“Rae Hee-ya?” Ye Ra kembali masuk ke dalam kamar, merasa kalau apa yang dibutuhkan pria itu sudah dibawakan oleh sang adik.

Rae Hee hanya menoleh kepada Ye Ra yang berdiri diam memperhatikan sosok pria itu. Peluru? Apakah hal yang ia lakukan adalah benar? Bagaimana orang yang ditolong Ye Ra itu adalah penjahat kelas kakap yang sedang diburu? Bukankah menyelamatkan pria itu malah menjadi sebuah kejahatan?

Ye Ra tersentak saat pria itu menjerit tertahan. Wajah pria itu memerah dengan napas yang tidak teratur. Ye Ra masih diam memperhatikan saat Rae Hee berusaha menekan pendarahan dan kemudian membalut luka itu dengan perban. Meminta pria itu untuk jangan banyak bergerak. Pria itu memejamkan separuh matanya, selain terpengaruh obat bius, sosok itu memang lemah karena darah yang dikeluarkan cukup banyak.

Ye Ra menyelimuti pria itu dan ikut keluar menyusul Rae Hee yang sudah terlebih dahulu meninggalkan mereka. Masih mengenakan blazernya, ia membuka lemari es dan mengambil botol air dingin, langsung menegaknya hingga habis separuh. Apa yang dia lakukan malam ini benar-benar membuatnya tegang.

“Dia siapa, Eonnieya?” tanya Rae Hee, masih mencuci tangannya di wastafel.

Ye Ra pindah dan bersandar di dinding samping Rae Hee, memperhatikan adiknya yang sedang membersihkan peralatan medisnya. “Tadi aku lewat jalan pintas dan pria itu muncul tiba-tiba hingga menabrak mobil Sung Min yang kukendarai. Aku terkejut dan langsung turun. Lebih syok saat melihat noda darah di atas salju dekat pria itu. Kukira aku menabraknya hingga terluka parah… tapi, saat menghampiri pria itu dan aku melihat darah merembes tak wajar dari bahunya, aku tahu kalau itu pasti bukan luka ‘ditabrak’. Pria itu meminta padaku untuk menolongnya dan aku refleks membawanya.”

Ye Ra bisa melihat Rae Hee tersenyum tipis, lalu berlalu untuk memasukkan alat medisnya ke dalam oven untuk disterilkan. “Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja?”

I will. Tapi saat memasuki wilayah rumah sakit, dia mengatakan untuk tidak membawanya kesana. Yang kupikirkan hanyalah menyelamatkannya terlebih dahulu karena wajahnya semakin pucat dan napasnya sudah putus-putus, jadi kuputuskan untuk membawanya ke rumah karena mengingat kau pasti bisa membantu.”

Rae Hee berbalik melihat ke arah Ye Ra dan melipat tangannya di depan dada. “Bagaimana kalau dia adalah penjahat, Eonnie? Yang sedang diburu? Jelas sekali penolakkannya yang tidak ingin dibawa ke rumah sakit kan? Pasti pihak yang sedang memburunya dapat dengan mudah melacaknya.”

Ye Ra mendesah pasrah. “Itulah yang kupikirkan saat melihat pria itu selama kau ‘mengoperasi’nya tadi. Atau kita lapor polisi saja sekarang?”

“Kita periksa identitasnya dulu saja. Itu akan lebih mudah nanti. Lagipula… kondisinya belum stabil. Bagaimanapun dia itu pasien yang baru saja kehilangan banyak darah. Sepertinya aku menyimpan pistol Si Won Oppa di kamar, bisa kita gunakan untuk berjaga-jaga,” ucap Rae Hee dan Ye Ra mengangguk.

Rae Hee melesat ke kamarnya dan kembali beberapa saat kemudian dengan pistol kecil yang tersembunyi di balik jaket yang sudah melapisi piyamanya. Gadis itu mengangguk pada sang kakak, kemudian keduanya bergegas masuk ke kamar Si Won dimana pria itu sedang tidur.

Dengan perlahan, Ye Ra meraba kantung jaket pria itu dan tidak menemukan apapun. Kemudian tangannya beralih ke saku celana dan hasilnya sama saja. Nihil.

Ye Ra menggeleng pada Rae Hee yang mengernyit, lantas mengisyaratkan untuk meninggalkan kamar. Saat pintu tertutup, pria itu membuka mata dan menghembuskan napasnya pelan.

“Tak ada apapun.” Ye Ra menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan Rae Hee yang duduk di hadapannya.

“Kita hubungi polisi saja sekarang. Tidak ada identitas itu benar-benar mencurigakan.” Rae Hee langsung mengambil ponselnya dan menghubungi polisi.

****

Ye Ra menyesap kuah mi hingga mangkuknya bersih. Lantas dia melotot kesal ke arah Rae Hee yang berteriak memanggil namanya seperti orang kesetanan.

“Dia menghilang dari kamar dan hanya meninggalkan ini diatas meja.”

Ye Ra terbelalak dan buru-buru mengambil secarik kertas yang disodorkan Rae Hee.

Terima kasih atas pertolongannya. Kurasa sudah saatnya aku pergi. Aku bukan orang jahat jadi kalian tidak perlu takut karena telah menolongku.

 

Ye Ra menelan ludah. Berarti pria itu tahu kalau mereka berdua mencurigainya. Rae Hee berbisik kalau dia mendengar sirine mobil di depan rumah rumah dan Ye Ra meminta sang adik untuk menyembunyikan kertas itu dan jangan mengatakan apapun tentang isi pesannya.

=========================

Pria itu meremas sebuah kartu yang selama ini menjadi identitasnya di Korean Secret Agent selama 8 tahun terakhir. Dengan penuh kekesalan, ia melempar kepingan kartu yang bertuliskan Ye Sung Kim dan nomor identitasnya itu ke sungai Han. Pengkhianatan. Ia dikhianati.

Ye Sung tersenyum getir. Ia tahu resiko pekerjaannya, tapi… Ia dituduh telah berkhianat. Tuduhan yang tidak beralasan itulah yang membuatnya kesal. Ia diburu sekarang dan harus dibunuh, sementara ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun dan tentu saja masih ingin hidup.

Ye Sung melanjutkan langkahnya dengan pelan, merasa sedikit lebih baik karena peluru menyakitkan itu sudah tidak bersarang ditubuhnya. Ia sangat berterima kasih kepada dua kakak-beradik yang telah menyelamatkan hidupnya, meski ia tahu kalau dua gadis itu mencurigainya dan sudah menghubungi polisi.

Tidak. Sebelum ia mengetahui kenapa ia dituduh berkhianat, ia tidak akan tertangkap ataupun mati… Tidak boleh. Ia membutuhkan keadilan. Ia berhak tahu. Bukankah begitu?

Ye Sung berbelok di sebuah gang kecil dan membuka sebuah pintu kecil di belakang tempat sampah. Sebagai seorang Agen Rahasia, kehidupannya tidak pernah bisa dikatakan aman. Para agen selalu mempunyai tempat tinggal lebih dari satu dan hanya orang-orang dalam organisasi sajalah yang mengetahuinya. Tapi Ye Sung punya satu rumah kecil yang benar-benar ‘terlepas’ dari organisasi, tak bisa dilacak.

Ye Sung membakar semua berkas-berkas tentang dirinya dan organisasi, tak menyisakan satupun. Ia bersumpah kalau dirinya telah dijebak dan akan menemukan kebenarannya.

=========================

Kim Hee Chul melangkah turun dari mobil Peaugeot putihnya. Dibalik mantel tebal berwarna hitamnya, kaus garis-garis dan celana denim yang ia gunakan memang simpel, tapi tidak membuat ketampanannya berkurang. Hee Chul menyipitkan mata dibalik kaca mata hitamnya saat melihat mobilChevrolet hitam yang terparkir manis di halaman rumah kekasihnya. Dan ia terbelalak saat melihat plat nomor mobil itu.

Saat pintu terbuka dan Ye Ra keluar rumah, Hee Chul segera menormalkan wajahnya lagi dan membungkuk pada kakak dari gadisnya, menghampiri sosok itu.

“Eoh… Hee Chul-ah… Kau sudah datang? Rae Hee ada di dalam. Masuk saja.”

Hee Chul mengangguk dan melirik sekilas ke arah mobil hitam itu.  “Mobil baru, Noona?” tanyanya santai sambil tersenyum.

Ye Ra tertawa. “Mobil teman. Kupinjam paksa semalam karena aku harus lembur. Aku berangkat ya?” pamit Ye Ra dan langsung masuk ke dalam mobil, memundurkan keluar dari halaman dengan hati-hati, dan membunyikan klakson sebelum akhirnya menjauh dari pandangan.

Raut Hee Chul mengeras dan ia sudah siap mengeluarkan sebuah benda dari saku mantelnya saat Rae Hee keluar dan memanggilnya.

****

Ye Ra menghampiri Sung Min dan memberikan kunci mobil pada pria itu. “Terima kasih, Oppa. Kau memang yang terbaik. Bensinnya sudah kuisi full kok,” ucapnya sambil tersenyum lebar, membuat Sung Min mendengus.

“Dasar yeoja sial! Kau tahu tidak kalau aku kemarin nyaris dirampok?”

“Nyaris kan? Tidak berhasil? Aku tahu Oppa, kau kan hebat bela diri. Pasti perampok itu takut padamu. Kekekeke.”

“MENYEBALKAN!!” Sung Min menggulung proposal di atas meja dan memukulkannya ke kepala Ye Ra dengan cepat.

“Sakit!!” seru Ye Ra, hendak membalas. Tapi sayangnya Sung Min lebih cepat menghindar. Ye Ra menghela napasnya. “ngomong-ngomong soal perampok… Semalam aku menolong seseorang yang tertembak,” ucap Ye Ra dan membuat Sung Min melotot ingin tahu.

Gadis itu masih berdiri dengan menopangkan tangannya di sekat penghalang antara biliknya dengan bilik Sung Min yang memang bersebelahan.

“Saat aku pulang, aku menabrak seseorang dan aku menolongnya. Aku membawanya ke rumah dan Rae Hee membantu ‘mengangkat’ peluru di bahu pria itu. Aku tidak tahu siapa karena saat kami mencari identitasnya, dia tidak memilikinya di saku manapun. Karena curiga, kami akhirnya memutuskan untuk menghubungi polisi, sialnya tepat sebelum polisi itu datang… Pria itu sudah tidak ada.”

“Wow. Tapi pria itu tidak melakukan sesuatu pada kalian berdua kan?” tanya Sung Min cemas. Bagaimanapun ia khawatir pada orang yang ia sukai itu.

“Tidak. Dia tidak melakukan apapun kecuali merintih minta tolong dan tertidur setelah Rae Hee mengangkat pelurunya.”

“Lain kali kau jangan macam-macam. Kau bisa membawanya ke rumahku kan? Setidaknya dia tidak akan bisa macam-macam karena yang ada di hadapannya bukan dua gadis lemah. Bagaimana kalau dia adalah pembunuh yang sedang buron?”

“YAK! Kami bukan gadis lemah! Lagipula Rae Hee menyimpan pistol kecil milik Si Won oppa yang bisa kami gunakan untuk menembaknya kalau macam-macam.”

“Atau bisa saya gunakan untuk menembak kepala Anda berdua jika masih saja mengobrol di saat jam kerja.”

Ye Ra menelan ludah saat mendengar suara menyeramkan itu. Ia berbalik perlahan dan melontarkan senyum manisnya pada atasannya yang jutek. Cho Kyu Hyun. Sementara Sung Min berusaha menahan tawanya.

========================

Hee Chul menekan tombol off pada earphone bluethootnya. Pria itu melihat ke arah Rae Hee yang sibuk menghabiskan jjangmyeonnya. Gadis dihadapannya… bersama Ye Ra sudah menyelamatkan Ye Sung meski akhirnya Ye Sung melarikan diri dari rumah itu. Apakah selanjutnya kehidupan mereka berdua akan aman?

Padahal… Malam itu Hee Chul bisa merasakan kalau bukan hanya dirinya saja yang mengejar Ye Sung, tapi ada pihak lain yang ia rasa adalah pihak yang memanfaatkan Ye Sung hingga membuat dirinya harus membunuh sahabatnya itu sendiri.

Ia memang kehilangan jejak Ye Sung, tapi bagaimana dengan pihak lain itu? Bagaimana kalau pihak lain itu mengikuti Ye Sung hingga sampai di rumah Rae Hee dan keamanan mereka berdua dipertaruhkan?

Oppa?” panggil Rae Hee dan membuyarkan lamunan Hee Chul. “apa yang kau pikirkan?” tanya Rae Hee kemudian dan Hee Chul hanya menggeleng. Ia harus memastikan keamanan Rae Hee dan Ye Ra bagaimanapun caranya.

=======================

Ye Ra berjalan di trotoir, meski ia kembali pulang malam, ia tidak mau merepotkan Sung Min lagi walau pria itu sempat memaksa untuk mengantar atau meminjamkan mobil lagi padanya. Ia tahu kalau Sung Min menyukainya. Tapi dia sama sekali hanya menganggap pria itu sebagai sahabat terbaik.

Ye Ra berjalan biasa sambil mendengarkan lagu yang terputar di headsetnya. Meski ia tidak mendengar langkah kaki yang mengikutinya, ia bisa ‘merasakan’ kehadiran pengunit itu semenjak ia keluar kantor tadi.

Ye Ra mematikan lagunya dan mengeratkan pegangan di tasnya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ia takut. Sungguh!!

Ye Ra menghentikan langkah dan menengok dengan cepat bertepatan dengan seorang pria yang berhenti di depan sebuah toko yang sudah tertutup, sedang menelepon. Ye Ra menelan ludah. Bagaimana kalau pria itu adalah perampok yang juga akan memperkosanya lalu membunuhnya? Itu benar-benar mengerikan.

Belum sempat Ye Ra berbalik, ia merasa kalau mulutnya disekap dari belakang dan ditarik masuk ke dalam gang di sisi kanannya.

“Lepas sepatumu sekarang dan jangan bicara.”

Entah kenapa Ye Ra menurut dan langsung menjalani perintah sosok yang bisa ia tebak adalah seorang pria. Ia mengikuti saja saat pria itu menariknya untuk berlari, sementara pria lain yang tadi mengikutinya sudah muncul di ujung gang, berlari mengejar mereka hingga membuat Ye Ra semakin ketakutan.

Napasnya sudah tersengal. Di gang dengan penerangan seadanya itu ia hanya mengikuti seseorang yang juga tidak ia kenal. Bagaimana kalau kedua orang itu bekerja sama? Dan malah semakin membuat Ye Ra jauh dari yang namanya keramaian kota? Meski memang sekarang malam sudah larut.

“Naik cepat!!”

Ye Ra menoleh ke arah pria yang menyuruhnya memanjat pagar itu. Penerangan seadanya di dalam gang, cukup bisa membuat Ye Ra mengenali wajah pria yang menyuruhnya itu.

“Kau?”

“Cepatlah!!”

Tanpa aba-aba lagi, Ye Ra langsung memanjat pagar dengan dibantu pria itu, kemudian pria itu ikut memanjat dan melompat terlebih dahulu agar bisa menyangga Ye Ra yang pasti takut melompat.

“Cepat. Aku akan menangkapmu.”

Ye Ra melompat dan mendarat dengan sempurna di depan pria yang memegangi pinggangnya agar tidak jatuh itu. Keduanya melanjutkan berlari dan berbelok tepat saat pria yang mengejar mereka menaiki pagar.

****

“Hubungi adikmu.”

Ye Ra memperhatikan pria yang sibuk mengunci pintu tempat dimana mereka bersembunyi.

“Cepat hubungi adikmu! Dia dalam bahaya yang sama!”

Ye Ra tersentak saat mendengar kalau Rae Hee juga dalam bahaya. “Jangan katakan dimana dan bersama siapa kau sekarang.”

Ye Ra mengangguk dengan raut pucat, tangannya juga sudah gemetar saat menggenggam ponselnya di telinga.

“Eonnie-ya?”

“Rae Hee-ya… Kau dimana?”

Aku bersama Hee Chul OppaEonnie-ya aku takut. Tadi ada yang berusaha membunuhku. Hee ChulOppa bilang kalau kita tidak aman untuk tinggal di rumah sekarang. Kau dimana? Biar kami menjemputmu.

“Tapi kau baik-baik saja kan? Kau tidak terluka?”

TidakHanya lecet di siku saat jatuh tadi. Kau dimana, Eonnie-ya?

Ye Ra melihat ke arah pria yang masih diam memperhatikannya. “Aku juga baik-baik saja. Seseorang menolongku dan kami sudah aman sekarang. Berikan teleponnya pada Hee Chul. Aku ingin bicara dengannya.”

Ye Ra terkejut saat pria itu merampas dengan kasarnya, lantas menempelkan ponsel itu ke telinganya sendiri. “Hee Chul-ah?” ucapnya dan membuat Ye Ra terbelalak.

Bagaimana pria itu mengenal Hee Chul?

****

“Kakaknya bersamaku. Apa kau bersama adiknya?” tanya Ye Sung dan ia mendengarkan jawaban kemarahan Hee Chul.

“Mereka mengejarku dan aku tidak menyangka kalau mereka akan memburu orang yang menolongku.”

Ye Sung menegang saat mendengarkan penjelasan Hee Chul dari seberang telepon. Ia menjambak rambutnya kasar dan menghempaskan punggungnya ke dinding, jatuh merosot ke lantai dengan mata yang memerah.

Ye Sung kemudian mematikan sambungan telepon itu, dan membiarkan Ye Ra mengambil ponselnya sementara matanya masih menatap kosong. Syok. Benarkah dirinya?

Ye Sung beralih ke arah Ye Ra yang masih diam memperhatikannya. “Kau tidak aman bersamaku. Kau harus bersama Hee Chul sekarang. Adikmu aman bersamanya.”

“Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa kau? Bagaimana kau kenal Hee Chul?” tanya Ye Ra tak bisa menekan rasa penasarannya. Ia harus tahu kan? Ditangan siapa nyawa dan adiknya berada?

“Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Cepat atau lambat mereka akan menemukan kita disini.” Tepat saat ucapan terakhir Ye Sung, pria itu menegang karena pintu yang sudah dikuncinya sedang berusaha di dobrak.

“Dengarkan aku. Lari ke arah selatan lewat pintu itu. Aku akan lewat pintu lain karena kalau aku bersamamu sekarang, kau akan dalam bahaya. Kita akan bertemu di persimpangan lampu merah pertama dan akan segera kubawa kau ke Hee Chul dan kau akan aman. Mengerti? Sekarang!!”

Tanpa bisa menanyakan apapun, atau bahkan Ye Ra juga ragu apakah ia mencerna semua apa yang dikatakan pria itu padanya? Yang jelas saat ini Ye Ra sudah berlari ke arah pintu yang ditunjuk pria itu, dan melihat sebentar ke arah pria yang menyuruhnya untuk cepat. Entah bagaimana… Ye Ra berharap kalau pria itu baik-baik saja. Sama seperti harapannya pada dirinya sendiri.

Ye Sung menggeser sebuah lemari kecil ke arah pintu yang akan menghambat –walau sedikit- siapapun yang berusaha  mendobraknya. Kemudian ia berlari ke arah pintu lain yang berbeda dengan Ye Ra. Benar-benar berharap kalau gadis itu tidak akan tertangkap. Dirinya… Jika ia lari keluar dari tempat ini bersama Ye Ra, tentu saja gadis itu tidak akan selamat. Karena alat pelacak dari pihak yang menyalahgunakannya.. terpasang di tubuhnya.

Peristiwa penyergapan teroris tiga tahun yang lalu. Pengejaran yang ia lakukan ternyata malah membuatnya celaka. Ia ditemukan tidak sadarkan diri di dekat danau tempat para teroris berkumpul.

Saat itu memang hanya dia yang berhasil menemukan tempat itu sendirian, dan ia menghubungi markas saat tanpa sadar dirinya dipukul dari belakang hingga pingsan. Ia tidak ingat apapun lagi saat akhirnya disadarkan oleh Hee Chul beberapa jam kemudian. Rumah di pinggir danau yang menjadi markas teroris itu sudah kosong.

Para agen sering kali merasa aneh saat mereka selalu gagal dalam penyergapan sejak saat itu. Dan Hee Chul baru saja mengatakan kalau… di otaknya telah terpasang alat yang bisa merekam semua ingatan dan aktivitas tubuh. Itulah yang menjadi alasan kenapa penyergapan mereka selalu saja gagal, karena… kelompok teroris itulah yang memasang alat itu ditubuhnya, membuat dirinya tak hanya membocorkan taktik, bahkan rahasia yang sangat penting tanpa dirinya sendiri sadari.

Alat itu tidak bisa lagi dicabut karena sudah ‘menyatu’ dengan saraf otaknya. Sekalipun memaksa untuk mencabutnya, dia akan kehilangan nyawa. Jadi pada akhirnya… Dia tidak punya pilihan selain harus mati.

Tapi ada yang tidak bisa diterima Ye Sung. Menjadi Agen Rahasia Negara adalah sebuah kebanggaan dan dirinya harus mati dengan status pengkhianat? Walaupun apa yang terjadi padanya termasuk kategori itu, dia tetap tidak terima.

Ye Sung akhirnya melihat siluet seorang gadis yang merapat ke dinding tanpa cahaya. Tak ragu lagi… itu pasti Ye Ra dan ia langsung menarik gadis itu untuk berlari lagi, ke arah gedung parkir sejauh dua blok dari tempatnya sekarang.

Dua mobil Porsche hitam mengikuti mereka dan membuat Ye Sung harus membawa Ye Ra menjauh dari jalan-jalan besar. Mereka memutuskan untuk berlari melewati jalan-jalan kecil hingga sampai ke gedung yang mereka tuju.

****

Ye Ra sudah tersengal dan kehabisan napas. Dadanya terasa panas dan ia sudah benar-benar berantakan sekarang. Roknya sobek dan hanya tinggal kemeja putih serta mantel cokelatnya saja yang membalut tubuhnya, dengan sepatu kebesaran milik pria itu yang diberikan padanya, sementara pria itu tidak mengenakan alas kaki di musim dingin seperti ini.

Dia dan pria yang menolongnya itu menaiki tangga dengan susah payah hingga akhirnya keluar dari pintu yang menghubungkan dengan lahan parkir di bagian paling atas gedung. Masih dengan dua mobil yang mengikuti mereka.

Ye Ra bisa melihat banyak van hitam yang terparkir acak dengan beberapa orang berseragam hitam sambil memegang senjata. Pria disamping Ye Ra langsung memeluk gadis itu dan membawanya berlari menghampiri salah satu van saat baku tembak terjadi. Antara orang berseragam hitam dengan dua mobil Porsche yang baru muncul tiba-tiba hingga mendapatkan ‘sambutan’.

Ye Ra merasakan kalau perutnya nyeri, sakit sekali. Dan ia baru sadar kalau dirinya terkena tembakan saat pria yang menolongnya itu terkejut melihat darah yang merembes keluar, menodai kemeja putihnya.

“Medis!! Butuh medis disini!!” jerit pria itu ditengah hiruk pikuk bunyi tembakan.

“Nona… Bertahanlah.”

Napas Ye Ra sudah terputus-putus, dan wajahnya sudah memucat. Pandangannya juga mulai kabur. Mendadak ia melihat kedua orang tuanya. Ayahnya yang tersenyum. Ibunya yang memeluknya, dan sang kakak… Si Won yang selalu mengerjainya dan Rae Hee. Lalu Rae Hee, sosok adik ceria yang selalu mewarnai hidupnya. Seperti inikah rasanya di ambang kematian?

“Medis!!!”

Ye Ra masih bisa mendengar jeritan pria yang sedang menopang tubuhnya itu. Ia tidak mendengar lagi suara tembakan. Dan yang ia dengar sebelum semuanya gelap hanyalah teriakan dari suara familiar.

****

“Medis!!”

Hee Chul langsung berlari ke arah tadi ia sempat melihat Ye Sung sambil memasukkan pistolnya ke dalam saku. Ia melihat kalau Ye Ra sudah setengah terpejam dengan luka tembak di perutnya. Darahnya banyak sekali.

Eonnie!!!!”

Hee Chul tergelak saat melihat Rae Hee yang bersimpuh disamping Ye Ra dengan menangis, berusaha membangunkan sang kakak yang terpejam. Ia menarik Rae Hee untuk menjauh saat medis akhirnya datang dan mencoba memindahkan Ye Ra untuk dimasukkan ke dalam ambulans.

“Ikutlah bersama mereka. Akan ada agen yang bersama kalian. Aku masih harus mengurus beberapa hal disini.”

Tanpa aba-aba lagi, Rae Hee langsung berlari dan masuk ke dalam ambulans, melihat ke arah Hee Chul sebentar sebelum akhirnya pintu tertutup.

“Hukumanmu…” ucap Hee Chul pada Ye Sung yang masih mematung melihat kepergian ambulans dari hadapannya. Karenanya… dua orang yang tak bersalah terancam keselamatannya, bahkan salah satunya… terluka parah.

“Ada satu permintaan…”

“Apa?”

“Aku bukan pengkhianat. Bisa hapuskan itu dari daftarku?” Ye Sung menoleh pada Hee Chul yang menggeleng dengan berat hati.

“Bukan kuasaku.”

****

Hee Chul melangkah mendekati Rae Hee yang duduk dengan cemas di depan ruang operasi. Ia duduk di sebelah gadis itu, merangkulnya.

“Kukira kau hanya seorang fotografer biasa,” ucap Rae Hee yang bisa didengar Hee Chul sebagai bentuk kekecewaan.

“Menjadi Agen… Tak ada yang boleh tahu. Bahkan saat kau mengetahui ini pun, aku harus memohon keras pada organisasi agar kau dan kakakmu tidak dibungkam selamanya. Kau pasti mengerti akan kalimat terakhir yang ku ucapkan.”

“Lalu… Apa yang membuatmu atau organisasi itu membiarkan kami hidup?”

“Aku minta maaf. Ini harus dibayar dengan kebebasanmu dan Ye Ra Noona. Kalian berdua akan tinggal di salah satu rumah yang penuh dengan pengawasan. Itu satu-satunya pilihan jika kalian tidak harus ‘dibungkam’.”

Rae Hee menutup wajahnya dengan tangan. Menghembuskan napas frustasi. “Ini terjadi begitu cepat. Baru kemarin malam kami menolong pria itu dan sekarang Ye Ra Eonnie sudah masuk ruang operasi.”

“Pemilik mobil Chevrolet yang dipinjam kakakmu kemarin malam, tewas dengan luka tembak di kepala. Ditemukan di mobilnya yang terparkir sembarangan di Gwangjin.”

Ucapan Hee Chul membuat Rae Hee syok. Benar-benar!! “Bagaimana dengan pria yang kami tolong? Katamu dia pengkhianat?”

“Sudah menerima hukumannya,” ucap Hee Chul dengan berat hati.

Ucapan Hee Chul berakhir bersamaan dengan pintu ruang operasi yang terbuka. Rae Hee berdiri dan menghampiri dokter itu, menanyakan keadaan sang kakak.

“Pelurunya berhasil kami angkat…” Tanpa sadar Rae Hee menghembuskan napas lega. “tapi… Nona Choi kehilangan banyak darah, itu membuatnya tidak mampu bertahan. Maafkan kami karena tidak bisa menyelamatkannya.” Dokter itu menundukkan kepalanya dalam dan membuat Rae Hee mundur selangkah.

Fokus mata Rae Hee kosong. Gadis itu syok. Perlahan… air matanya jatuh dan berubah menjadi semakin deras.

“Tidaaaaaaaaaaaaaak!!!!!” jeritnya kencang dan berhambur memasuki ruang operasi. Mencoba membangunkan Ye Ra yang sudah terpejam dengan damai. Rae Hee berusaha membangunkan Ye Ra, meski tahu kalau… apa yang ia lakukan adalah sia-sia.

THE END

 

*) Copyright adalah Hak hukum (dalam hal ini) seorang penulis untuk memperbanyak, menerbitkan, mengedarkan hasil tulisannya. Ia memiliki hak atas tokoh-tokoh ciptaannya, berikut jalinan ceritanya. Penulis FF tidak mempunyai hak hukum atas tokoh-tokoh canon, ia hanya bisa meng-klaim OC-nya dan ide cerita.

Huwaaaaaaaaaaaa~~

 

HEY Y COUPLE!!

 

Jelek yaaaak??? Gak kerasa yak action nya?? Agak susah asal kau tahu T____________T

 

Action itu gak cocok dicampur romance, jadi membuatku galau empat turunan Heebum!! *diinjek*

 

Kalian gak bersama di dunia… tapi bersama di kehidupan selanjutnya… itulah kenapa kau mati juga #dilemar ke sungai sama Yera.. wkwkwkkw

 

Ampuuun yaaah mbak (>,

 

Siapa yang mau kritik??? *pasrah*