Title                 : Surprise In Your Birthday

Author            : TurtleShfly

 

FB                   : //www.facebook.com/nurul.fatikhahsaranghaejinyong

 

Twitter           : @Shfly_3421

Main Cast       : Kim Heechul, Choi Rae Hee, Lee Donghae

Support Cast : Leeteuk

Genre              : AU

Length            : Oneshot [4608 words]

Seorang  yeoja  dan seorang namja tengah duduk di sebuah coffee shop. Tampaknya mereka sangat serasi dan akrab. Mereka saling berbincang dan sesekali Rae Hee – yeoja tersebut – menyesap segelas green tea yang ia pesan.

“Apa kau yakin akan melakukan ini Hee-ya??” Tanya Lee Donghae – namja itu. Rae Hee membalasnya  hanya dengan senyuman dan meletakkan cup green tea-nya.

“Aku yakin, oppa….” Jawab Rae Hee dan kembali tersenyum seolah  yang dipertanyakan oleh Donghae adalah pertanyaan yang lucu dan tidak mesti dipertanyakan.

“Baiklah!!” ujar Donghae seraya menghembuskan nafas berat dan ia menghempaskan punggungnya di sandaran kursi.

~oOo~

Dimalam hari yang dingin, di sebuah rumah bergaya sederhana namun elegan seorang namja berambut panjang berwarna sedikit kecoklatan dan berwajah cantik sedang dirundung kegelisahan sedang menunggu seseorang, terlihat dari air mukanya dan dari aktivitasnya berjalan tanpa arah di depan gerbang rumahnya.

Heechul – nama namja itu –  tak henti-hentinya melihat sebuah jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul  11.00 PM KST, tetapi seseorang yang dia tunggu tak kunjung datang. Ia khawatir? Tentu saja ia sangat khawatir, namun kekhawatirannya justru tidak membuahkan hasil yang ia inginkan, langkahnya terhenti saat sebuah mobil mewah terparkir indah tepat di hadapan matanya. Ingin sekali ia marah, tapi ia berusaha untuk  menahan amarah saat tahu siapa yang keluar dari mobil tersebut – Choi Rae Hee – seseorang yang ia khawatirkan dan ia tunggu.

Lee Donghae berlari memutar untuk membukakan pintu penumpang dan munculah Rae Hee. Rae Hee tersenyum amat lembut dan manis pada Donghae.

“Gomawo oppa.” Rae Hee mengecup sekilas pipi Donghae.

“CHOI RAE HEE-ssi, APA URUSANMU DENGANNYA SUDAH SELESAI???” geram Heechul oleh tingkah dua manusia di hadapannya. Rae Hee memutar tubuhnya untuk menghadap Heechul, ia hanya tersenyum kecut pada Heechul. Rae Hee berlalu dan mengacuhkan tatapan mematikan oleh Heechul. Ia terus melangkah memasuki rumahnya meninggalkan dua namja yang sedang beradu tatapan membunuh. Setelah dipastikan Rae Hee sudah masuk, dengan santai Donghae berpamitan kepada Heechul dan memasuki mobilnya tanpa memperdulikan Heechul yang serasa ingin menumpahkan amarahnya.

~oOo~

BRAAAKKKKK

Suara pintu dibanting oleh Heechul yang telah murka. Rae Hee yang sedang membuat minuman di dapur pun terlonjak kaget oleh suara itu, ia menoleh dan berjalan mendekati pintu dapur untuk melihat siapa yang membanting pintu. Lagi Rae Hee hanya melihat tanpa ekspresi dari balik pintu dapur. Rae Hee pun keluar dan hendak masuk ke dalam kamarnya yang hanya berjarak beberapa centi dari dapur tetapi dihentikan oleh sebuah tangan yang mencengkram lengannya dengan kuat.

“Lepaskan Heechul-ssi!!!” ujar Rae Hee dengan tenang namun tetap tidak mengurangi ketegasannya.

“Shireo!!! Kau tahu aku tidak suka diperintah??!!!” bentak Heechul membuat Rae Hee berbalik untuk menatap Heechul. Terlihat dari sorot mata Rae Hee kalau ia juga sama marahnya dengan Heechul oleh sikap Heechul padanya.

“Lalu siapa yang memerintahmu?!! Aku hanya memintamu melepaskan cengkraman tanganmu Heechul-ssi!!! Aku lelah jika harus berdebat denganmu!!” Rae Hee menekankan kata ‘meminta’ dan menghempaskan cengkraman Heechul yang mengendor karena ucapannya tadi. Rae Hee pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan segera ia memasuki kamarnya dan membanting pintu kamarnya tepat di hadapan Kim Heechul dan membuat Heechul tambah geram.

BLAAMMM

“YAK!! NYONYA KIM HEECHUL!!! Apa kau tidak sadar kalau kau sudah menjadi istriku? Kenapa kau yang harus marah? Seharusnya aku yang marah karena ISTRIKU DIANTAR PULANG OLEH SEORANG NAMJA YANG TAK LAIN ADALAH MANTAN KEKASIHNYA!!” Teriak Heechul dari luar pintu. Ia frustasi dan mengacak-acak rambutnya, yang sudah ia anggap sebagai mahkotanya. Sungguh ia seperti kehilangan wibawa sebagai seorang dictator dan seorang Yang Mulia Tuan Kim Heechul di hadapan istri yang teramat ia cintai. Tapi bukan seorang Kim Heechul namanya jika ia tidak bisa membuat istrinya tunduk patuh pada perintahnya.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Heechul dan Rae Hee adalah sepasang suami istri. Usia pernikahan mereka baru menginjak 10 bulan. Penikahan mereka awalnya dilandaskan atas dasar perjodohan dan disembunyikan oleh publik mengingat Heechul adalah seorang aktor ternama di Korea dan mempunyai banyak fans fanatik. Dan Rae Hee yang juga  notabene adalah fans dari Heechul sedikit beruntung dan tidak percaya diri dalam waktu bersamaan karena ia akan menikah juga karena ia merasa tidak pantas bersanading dengan seorang Kim Heechul.

Namun seiring berjalannya waktu hubungan mereka berjalan baik dan mesra. Tidak lagi berlandaskan perjodohan, tetapi cinta sampai hadirnya sosok Lee Donghae dikehidupan mereka yang merupakan mantan kekasih dari Choi Rae Hee. Sejak kedatangan Donghae pula, sikap Rae Hee benar-benar berubah. Apakah Rae Hee masih mencintai Donghae? Mungkin inilah yang Heechul pikirkan.

~oOo~

Rae Hee sedang berdandan di depan meja riasnya bersiap-siap untuk pergi ke tempat kerjanya, sebuah hotel berbintang lima di kawasan Seoul. Ia sendiri menjabat sebagai manajer operasional. Rae Hee menghentikan aktivitas memolesnya saat sepasang tangan melingkar di leher Rae Hee. Rae Hee hanya menatap siapa pemilik tangan tersebut dari pantulan cermin di hadapannya.

“Kau sudah mau bekerja chagi??” tanya Heechul lembut sembari mengecup pucuk rambut kepala istrinya – Rae Hee.

“Ne!!” Rae Hee menjawab singkat dan melepaskan lingkaran tangan Heechul. Ia beranjak dan mengambil tas yang tersampir indah di rak tas miliknya.

Heechul menghela nafas berat. Ia tidak mengerti tepatnya tidak tahu apa kesalahannya sampai membuat Rae Hee mengacuhkannya. Hal yang sangat ia benci.

“Rae Hee-ya…” panggil Heechul membuat Rae Hee yang hendak membuka pintu terhenti tanpa berbalik pada Heechul.

“Ada apa???” tanya Rae Hee singkat dan terdengar dingin.

“Akan aku an–“ belum sempat Heechul menyelesaikan kalimatnya, Rae Hee terlebih dahulu menyelanya.

“Tidak usah. Donghae oppa akan mengantarkanku dan apa kau lupa kalu pernikahan kita, public tidak mengetahuinya? Kalau kau ingat aku akan pergi. Aku tidak ingin dibuat repot oleh fans fanatikmu. Oh ya, sarapan sudah kusiapkan.” Rae Hee membuka pintu kamarnya dan meninggalkan Heechul yang berdiri mematung seperti kehilangan jiwa dalam raganya.

Kesadaran Heechul kembali saat ia mendengar deru mesin mobil berhenti di depan gerbang rumahnya. Heechul pun berjalan menghampiri jendela kamarnya yang memang terhubung dengan gerbang, rahangnya mengeras saat ia melihat Lee Donghae keluar dari mobil dan menghampiri Rae Hee yang menunggunya. Tangan Heechul juga mengenggam erat gorden kamarnya saat Donghae dengan nyamannya mencium pipi Rae Hee dan Rae Hee membalasnya dengan senyuman, senyuman yang tidak ia berikan pada Heechul seminggu ini.

~oOo~

“Apa kau sudah menghubungi yeojachingu-mu oppa?” tanya Rae Hee pada Donghae saat mereka berada di dalam mobil.

“Ne, kurasa dia akan membunuhku!!” Donghae  menghempaskan punggunya di sandaran kursi mobil.

“Mianhaeyo, oppa. Aku melibatkanmu.”

“Lalu kapan kau akan menyelesaikannya??” tanya Donghae yang tetap fokus menyetir. Rae Hee hanya tersenyum tanpa memberi jawaban apapun.

~oOo~

Seorang yeoja tengah berada di sebuah ruangan, senyuman tidak terlepas dari bibirnya walau pekerjaan sangatlah banyak yang harus ia selesaikan.

Yeoja itu juga sedang memegang sebuah kertas putih dan terus memastikan isinya. Isi yang membuat hidupnya akan berubah, isi yang membuat statusnya akan berbeda, mengubah warna menjadi lebih ceria dan juga mengubah hidup sesorang selain dirinya.

Kemudian yeoja itu memasukkan kertas tersebut ke dalam sebuah amplop coklat besar dan memencet tombol dial telepon untuk memanggil seseorang. Tidak berselang lama masuklah seorang yeoja lain berprawakan tinggi, ramping dengan rambut lurus dan sedikit ikal ke dalam ruangan tersebut.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Hyebin – yeoja yang masuk itu.

“Ne, Hyebin-ssi. Tolong antarkan amplop ini ke alamat yang sudah tertuju pada bagian depan amplop ini. Dan tolong waktu pengirimannya sesuaikan dengan tanggal tersebut.” Rae Hee – nama yeoja tersebut – menyerahkan amplop tersebut pada Hyebin yang menerimanya dengan pandangan keheranan.

“Mianhamnida manajer, bukannya ini – “

“Ne, lakukan saja.” Rae Hee menyela omongan Hyebin kemudian ia tersenyum. Hyebin mengangguk mengerti dan permisi keluar.

“Permainan baru saja dimulai,” batin Rae Hee  lalu ia mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya.

~oOo~

“CUT!!!! Apa-apaan kau Heechul-ssi!!” teriak seorang namja paruh baya saat melihat akting Heechul yang payah dan membuatnya geram. Heechul yang memang tidak suka diatur dan tidak suka dibentak hanya membalas teriakan sutradara itu dengan tatapan membunuh. JANGAN KAU BENTAK AKU!!!. Kira-kira begitulah arti tatapan Heechul.

Gerah dengan pikirannya sendiri dan suasana hatinya yang memang sudah tidak baik sejak pagi, Heechul seenaknya pergi meninggalkan tempat lokasi dan menghiraukan semua teriakan para kru juga sutradara yang memanggil namanya.

“YAK!! Heechul-ah, kau mau kemana??” tanya sang manajer – Leeteuk. Dan tetap Heechul hanya menghiraukannya.

Heechul melajukan porsche hitamnya dengan kecepatan diatas normal, ia merogoh ponselnya yang terdapat di kantung jas abu-abu yang ia pakai. Lama Heechul menunggu jawaban dari seseorang yang ia hubungi, tetapi hasilnya nihil, seseorang itu tidak menjawabnya atau lebih tepatnya mereject panggilan Heechul. Dengan penuh amarah Heechul melempar ponselnya ke belakang kursi mobilnya. Ia mengeratkan tangannya pada setir mobil dan menambah laju kecepatannya.

~oOo~

“Kenapa kau membawaku kemari Hee-ya?” tanya Donghae penasran yang memang sedari tadi tangannya ditarik oleh Rae Hee.

“Anniyo, aku hanya ingin kemari oppa…” dusta Rae Hee. Rae Hee mengajak Donghae ke sebuah coffee shop terkenal H&G dan ia juga menarik tangan Donghae menuju e sebuah tempat kenangannya dulu.

Tak berapa lama mereka duduk, tibalah seorang waitress membawa menu dan kemudian mencatat pesanan mereka.

~oOo~

Heechul mmarkirkan mobilnya dengan kasar ke sembarang tempat di depan sebuah coffee shop ternama di Korea. Handle & Gretel. Sebelum keluar Heechul memakai penyamarannya agar tidak diketahui oleh para fans-nya. Ia berjlan dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam kantong celana hitamnya. Matanya membulat sempurna, nafasnya tercekat, rahangnya mengeras saat ia melihat istrinya – Choi Rae Hee – duduk berdua dan bermesraan dengan Lee Donghae tepat saat ia membuka pintu coffee shop itu. Heechul mengambil dengan kasar sebuah gelas di nampan saat seorang waitress melewatinya. Heechul meminumnya dengan pandangan tetap terfokus pada Rae Hee dan Donghae. Amarah yang semula bisa ia tahan mendadak tidak bisa di kontrol, dengan kuat ia menggenggam gelas tersebut sampai hancur.

PRANG

Pecahan gelas berserakan di lantai dan mampu membuat semua pengunjung menatap Heechul dengan pandangan aneh dan ketidak mengertian atas apa yang dilakukan oleh Heechul. Rae Hee dan Donghae pun ikut terkejut dan memandang datar siapa orang yang ada di balik penyamaran itu. Pandangan mata Rae Hee dan Heechul pun beradu, tetapi Rae Hee tetap kembali mengacuhkan Heechul dan melanjutkan perbincangannya dengan Donghae. Heechul kalut. Tetapi ia tidak mungkin kemarahannya sampai membuat penyamarannya terbongkar. Dengan perasaan sakit, kecewa, marah, Heechul berbalik pergi meninggalkan H&G tanpa sepatah kata pun untuk Rae Hee. Heechul kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimum. Ia mengendarai dengan tangan kiri. Ia juga tidak peduli ketika banyak protes yang diajukan oleh pengendara lain padanya.

~oOo~

“Rae Hee-ya, apa kau yakin akan melanjutkan keputusanmu itu??” tanya Donghae saat mereka berada di mobil untuk perjalanan pulang ke rumah Rae Hee.

“Sudah kukatakan oppa, apapun yang terjadi aku akan tetap melanjutkannya. Aku tidak mau memberitahu begitu saja padanya.”

“Tapi kau lihat sendiri kan tadi Heechul hyung bagaimana?’

“Sudahlah oppa.. Harus berapa kali aku katakan?”

Donghae hanya menghela nafas saat Rae Hee tetap bersikukuh pada pendiriannya. Percuma beradu kata dengan Rae Hee jika akhirnya ia harus mengalah.

~oOo~

Rae Hee berjalan memasuki kamarnya. Ia menghempaskan dirinya ke bed  dan kembali duduk kemudian berniat melepaskan pakaiannya sampai ada seorang namja yang keluar dari kamar mandi di dalam kamarnya . Namja itu menatap tajam Rae Hee dan mengacuhkannya. Namja itu – Heechul – duduk di depan meja riasnya dan membalut tangan kanannya yang terluka. Sedangkan Rae Hee sendiri , ia mengambil handuk dan berjalan memasuki kamar mandi tanpa memperdulikan Heechul yang terluka.

~oOo~

Rae Hee berjalan gontai meninggalkan kamarnya. Air matanya menyeruak tanpa permisi. Beberapa menit yang lalu ia melihat sebuah adegan yang sukses membuatnya merasa sakit seperti tertusuk ribuan jarum.

Rae Hee masuk ke dalam lamborghini-nya, ia menstarter berniat keluar dari garasi rumahnya. Tak berapa lama setelah ia keluar, ia sudah menginjak gas dengan kasar sampai ada seorang namja yang berdiri dengan dan menatap tajam Rae Hee seperti berusaha menghentikannya. Namja itu Heechul, menatap Rae Hee seolah memohon.
“Kumohon keluar dan dengarkan penjelasanku!!” Rae Hee tidak peduli teriakan Heechul, ia tetap menangis dan semakin dalam menginjak gas dan rem secara bersamaan.
“Kalau kau tidak keluar, aku akan tetap berdiri di sini. Terserah kau mau menabrakku atau tidak!!” tambah Heechul dan memejamkan matanya, Rae Hee tetap mengacuhkannya.

Dengan perasaan hancur, Rae Hee memundurkan lamborghini-nya dan melajukan dengan cepat ke arah Heechul yang berdiri. Heechul sendiri ia tetap memejamkan matanya saat dirasakan hembusan angin dingin menerpa dirinya dan suara mesin lamborghini Rae Hee yang semakin dekat.
BRAKK!!

#FLASHBACK#

“Apa yang kalian lakukan di kamarku?” pekik Rae Hee tegas saat ia sudah memasuki kamarnya dan melihat Heechul suaminya tidur dengan seorang yeoja.
Heechul yang saat itu memang tidak sadar karena pengaruh wine yang dicampur vodka dengan kadar alkohol cukup tinggi terlonjak kaget dan mengerjap-ngerjapkan matanya saat dilihatnya sosok Rae Hee yang berdiri di hadapannya dengan kilatan mata marah dan air mata yang sudah mengambang di pelupuk matanya.

Kesadaran Heechul pun pulih, ia segera beringsut turun dari ranjangnya dan terhenti saat menyadari tubuhnya sudah half naked, sudut mata kirinya pun menangkap sesosok yeoja yang tengah tersedu dari balik selimut yang membalut tubuh yeoja tersebut. Heechul kalut, ia memutar kembali memori tentang apa yang terjadi semalam dengan yeoja di sampingnya itu. Nihil. Tak satupun potongan memori yang terlintas di otak Heechul, ia mengacak rambutnya frustasi dan berteriak tanda kekesalanya. Ia menatap Rae Hee takut, ia memejamkan matanya setelah ia melihat raut wajah Rae Hee yang terluka, sinar mata Rae Hee yang redup dan basah.

Rae Hee menangis. Sesuatu yang ia benci melihat seseorang yang ia cinta menangis terlebih lagi karena kesalahan yang ia sendiri bahkan merasa tidak melakukannya. Tunggu. Bukankah ia sudah melakukan kesalahan? Baik dalam keadaan sadar ataupun tidak ia tetap bersalah. Heechul benar-benar frustasi, diliriknya tajam yeoja tersebut seolah menuntut jawaban atas apa yang telah terjadi, tetapi yeoja itu tetap menangis.
“Berhenti menangis!! Katakan pada istriku kalau kita tidak melakukan apa-apa!! Bahkan aku pun tidak pernah bertemu denganmu!!” geram Heechul pada yeoja yang berada di sampingnya yang hanya dibalas dengan isak tangis.
“CEPAT KATAKAN BODOH!!” Heechul menggebrak ranjangnya yang membuat suara kayu dari ranjang tersebut seperti akan hancur.
“SUDAH CUKUP HENTIKAN!! Besok aku akan mengirimkan surat perceraian!!” pekik Rae Hee dan memandang Heechul tajam. Heechul melongo, ini kali pertamanya Rae Hee menatapnya tajam. Hatinya juga sakit saat mendengar kata perceraian. Haruskah pernikahannya berantakan karena sebuah alasan yang belum jelas?

Akankah besok dirinya menjadi sorotan publik dan namanya akan tercantum disebuah artikel seperti ini? ‘Benarkah Seorang Kim Heechul Mengkhianati Istrinya?’. Kalaupun itu benar terjadi dan ia harus kehilangan pamornya, ia rela daripada harus kehilangan Rae Hee. Selingkuh. Kata yang terus berputar di benaknya. Jika memang dirinya berselingkuh, bukankah impas? Rae Hee juga berselingkuh dengan Lee Donghae. Tapi apapun alasannya, tidak sepatutnya ia menyakiti Rae Hee, menyakiti orang yang sangat ia cinta.
Rae Hee pun pergi dan membanting pintu kamarnya. Setelah kepergian Rae Hee, Heechul bergegas dan memakai kemejanya yang sudah berserakan di lantai.
“Kau tunggu di sini!! Urusan kita belum selesai!” pekik Heechul pada yeoja tersebut. Sungguh ia tidak mengerti dengan ini semua. Yang ia tahu adalah, semalam ia memang minum alkohol itupun di rumah dan ia hanya sendiri, lalu yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana bisa yeoja itu masuk??
“CHOI RAE HEE!!” Teriak Heechul. Rae Hee yang memang mendengar teriakan Heechul, tidak menghentikan langkahnya, ia terus berjalan dan tidak memperdulikan Heechul.
Disela tangis dan langkahnya, ia mengambil ponsel di dalam tasnya dan mengetik sebuah pesan.

To: Nemo

Mission Completed!!^^

lalu di masukkannya kembali ponsel itu bersamaan dengan Heechul yang berhasil menahan tangannya. Heechul mendekap tubuh Rae Hee dari belakang, usaha yang bagus agar Rae Hee tidak pergi lagi.
“Besok aku benar-benar akan mengajukan surat perceraian! Jadi lepaskan aku!!” Heechul tidak bergeming, ia tetap mendekap Rae Hee.
“HUBUNGAN KITA AKAN BERAKHIR! KAU MENGERTI TIDAK DENGAN UCAPANKU? LEPASKAN AKU!” Heechul perlahan merenggangkan pelukannya. Rae Hee seperti ini berarti ia benar-benar melukai Rae Hee, mengkhianati janji pernikahan mereka. Ia memang seorang dictator, tapi untuk ini??
Heechul memandang nanar punggung Rae Hee yang sudah pergi dari pelukannya saat ia merenggangkan pelukannya dan menghilang dibalik pintu.

Heechul menangis, ia menghempaskan punggungnya ke dinding ruang tamu rumahnya dan jatuh terduduk.
Tidak, bukan saatnya ia duduk dan pasrah atas kejadian ini, ia harus menyusul Rae Hee dan menjelaskan semuanya, lagipula bukan Kim Heechul namanya jika ia menyerah.

#FLASHBACK END#

~oOo~
Napas Rae Hee memburu setelah ia menabrakkan lamborghini-nya ke sebuah pagar rumahnya. Tidak, ia tidak menabrak Heechul. Saat itu ia menyerongkan lamborghini-nya tanpa menyentuh Heechul setipis apapun jaraknya.
“Aww…” Rae Hee meraba dahinya yang sedikit berdarah.
“Bodoh!!” Rae Hee hanya tersenyum setelah mengucapkan kata itu pada dirinya sendiri.
Heechul pun membuka matanya saat ia mendengar suara keras dari arah belakangnya. Ia membelalakan matanya saat dilihat Rae Hee justru menabrak pagar rumahnya. Dengan langkah khawatir, ia menghampiri Rae Hee, ia juga membuka paksa pintu lamborghini Rae Hee dan melepaskan safety belt yang masih melingkar di tubuh Rae Hee.
“Kau tak apa?” ujar Heechul saat ia memapah Rae Hee dan Rae Hee meronta.
“YAK! Lepaskan aku Heechul-ssi!! Sakit bodoh!!” Heechul geram, ia tak bisa lagi menahan emosi.
“Kau lebih bodoh!! KAU! KENAPA KAU TIDAK MENABRAKKU SAJA HUH!!”
“Dan aku harus menghabiskan masa mudaku di dalam penjara?!” Rae Hee memalingkan wajahnya.
“Rae Hee-ya, tolong berikan aku waktu untuk menjelaskannya.” suara Heechul perlahan melembut.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan!! Aku lelah! Aku mau tidur!!” Rae Hee menatap tajam wajah Heechul yang berubah sendu. Heechul akan memeluk Rae Hee sampai Rae Hee menepis tangan Heechul.
“Jangan sentuh aku pengkhianat!!”

PENGKHIANAT!! Kata yang sekarang terngiang di telinga Heechul. Benarkah ia pengkhianat?
“ARRGGGHHHHH!!!” Heechul memukul dinding pagarnya saat Rae Hee kembali masuk ke rumahnya. Ia emosi benar-benar emosi.
1 jam Heechul melampiaskan emosinya dan baru teringat akan yeoja itu, kemana dia? Heechul pun bergegas masuk ke kamarnya dan memberikan pelajaran pada yeoja tersebut.
Ia sampai di depan pintu kamarnya, tetapi yang ia temukan hanya sosok tubuh Rae Hee yang tertidur pulas. Heechul pun melangkah menghampiri Rae Hee dan duduk di tepi ranjang memandang wajah cantik Rae Hee, tanpa aba-aba tangannya mengusap perlahan anak rambut Rae Hee yang menghalangi pandangannya. Kemudian ia meraba wajah Rae Hee dari dahi sampai bibir Rae Hee.
“Haruskah kita berpisah? Ini hanya kesalah pahaman chagi. Aku tidak bisa membayangkan jika hidupku tanpa hadirnya dirimu. Akankah aku bisa tetap bernapas? Sedangkan kau adalah oksigen untukku. Sejujurnya aku cemburu melihatmu dengan Donghae. Ingin sekali aku menghajar dia. Tapi, aku juga tidak boleh asal menghajar, aku percaya kau tidak akan menduakanku. Tapi nyatanya? Aku yang justru mengkhianatimu. Mianhae Rae Hee-ya. Mungkin sekarang aku bukan seperti Kim Heechul yang seorang dictator. Aku juga tidak mengenal perubahanku ini. Haha sejak kapan Kim Heechul berubah sendu seperti ini?” Dengan kepasrahan hati, Heechul merapikan selimut Rae Hee dan lelah lalu ia memilih untuk tidur di kamar tamu.

~oOo~

Heechul mengerjap-ngerjapkan matanya saat mendengar dering ponselnya yang nyaring. Tangannya ia julurkan ke meja di sebelah sisi kanannya berniat mengambil ponsel.
Plash
Heechul tersentak saat sebuah amplop coklat melayang dan terjatuh ke lantai. Tanpa mengetahui siapa yang menelepon ke ponselnya, Heechul justru mengambil amplop coklat tersebut. Jantungnya berdetak kencang.
“Haruskah secepat ini?” batin Heechul sembari membuka perlahan amplop coklat tersebut.
Tangisnya pecah saat membaca isi amplop itu.
“CHOI RAE HEE! DIMANA KAU!! MATI KAU DI TANGANKU!!” teriak Heechul dan ia bergegas keluar dari kamarnya.
BRAK
Heechul mencari Rae Hee di kamar mereka, tetapi hasilnya nihil, tidak ada Rae Hee. Kemana yeoja itu pergi?
Dengan rasa kesal, marah, dan bahagia, Heechul masuk ke kamarnya dan mencari Rae Hee sampai di kamar mandi. Tetap saja Rae Hee tak ada di tempat itu. Heechul menepuk dahinya, lalu ia bergegas mengambil mantel dan kunci ferrari-nya dengan masih membawa amplop coklatnya.
Tak butuh waktu lama Heechul untuk sampai di sebuah tempat. Taman. Tempat pertama kali ia tidak sengaja bertemu dengan Rae Hee. Tempat yang saat itu menjadi saksi bahwa Rae Hee orang pertama yang tidak mengenalnya.
Diedarkan pandangannya mencari sosok Rae Hee. Sungguh ia merasa khawatir. Bagaimana tidak? Ini sudah hampir pukul 12 A.M, tak ada satu orang pun yang berada di sini. Heechul berhenti dan duduk pada sebuah kursi kayu yang memanjang.
“CHOI RAE HEE!!” teriaknya lagi. Ia takut kalau Rae Hee diculik.
“KAU DI MANA BODOH! CHOI RAE HEE!!” napas Heechul tersengal-sengal setelah beberapa menit berlari.

Sungguh ia merutuki dirinya karena jarang berolahraga. Heechul menarik napas panjang tepat bersamaan dengan lampu-lampu kecil menyala menghiasi taman itu. Heechul terhenyak saat ada suara dari belakang tubuhnya. Suara seseorang yang ia cari beberapa menit lalu. Choi Rae Hee.
Heechul berbalik arah dan menatap tajam Rae Hee yang tersenyum tanpa dosa membawa sebuah kue tart dengan angka 30 di atasnya.
“Saengil chukkahamnida yeobo,” ujar Rae Hee sembari menyodorkan kue tart tersebut ke hadapan Heechul yang masih tetap menatap tajam dirinya.
“Make a wish atau ucapanku tadi siang menjadi nyata!!” ancam Rae Hee yang ternyata ampuh membuat Heechul memejamkan matanya tanda make a wish, Rae Hee sendiri hanya menahan tawa melihat tingkah suaminya itu.
Heechul meniup lilin tersebut setelah membuka matanya. Tanpa berniat berbicara panjang lebar, Heechul langsung bertanya apa yang sedari tadi membuatnya bingung.
“Katakan, maksud dari isi amplop ini apa?!” pekik Heechul sembari memperlihatkan amplop coklat tersebut pada Rae Hee. Rae Hee hanya tersenyum manis berbanding terbalik dengan senyuman-senyumannya kemarin pada Heechul menanggapi pertanyaan Heechul.
“Kau tahu sendiri bukan bahwa aku tidak suka dipermainkan??” tandasnya. Sebelum Rae Hee menjawab pertanyaan Heechul, ia menaruh kue tersebut di atas sebuah batu besar.
“Aku tidak mempermainkanmu, aku hanya–” belum sempat Rae Hee melanjutkan ucapannya, Heechul sudah menarik Rae Hee ke pelukannya.
“Gomawo karena kau telah mau menjadi tempat dari benihku. Calon eomma untuk calon anak kita. Asal kau tahu, saat itu aku frustasi kau kembali dengan Donghae. Aku takut kehilanganmu.” Heechul semakin mengeratkan pelukannya.
“Chakkaman, Donghae?!” Heechul melepaskan pelukannya dan kembali menatap tajam Rae Hee sebagai tanda menuntut jawaban atas apa yang terjadi dengannya dan Donghae. Rae Hee tidak bisa menahan tawanya lagi saat melihat wajah konyol Heechul setelah bertanya seperti itu.
“HUAHAHAHAHAHAHA…”
Pletak
Heechul menjitak kepala Rae Hee membuat Rae Hee mengerucutkan bibirnya.
“Apa yang kau tertawakan Nyonya Choi?” selidik Heechul.
“Tentu saja dirimu, oops!!” ujar Rae Hee keceplosan sembari menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat ekspresi Heechul yang benar-benar akan meluapkan emosinya.
“Annio, maksudku pertanyaanmu itu yeobo,” sergah Rae Hee dan Heechul hanya mengangkat sebelah alisnya. Mengerti dengan ekspresi Heechul, Rae Hee segera menjelaskan hubungannya dengan Donghae dan ia yakini, ia akan tertawa terbahak-bahak.
“Donghae oppa itu adalah…..” lanjut Rae Hee dengan membisikan kalimat terakhirnya pada Heechul membuat namja berwajah cantik itu bersemu merah menahan malu.

Benar dugaan Rae Hee, sekarang ia sudah tertawa terbahak-bahak.
CHU~
Heechul melumat bibir Rae Hee agar istrinya itu tidak lagi mentertawakannya. Tangannya ia arahkan untuk memegang pinggang Rae Hee, dan Rae Hee pun membalas lumatan tersebut sembari mengalungkan kedua tangannya di leher Heechul.

“Kau tahu hadiah ini lebih dari apapun,” gumam Heechul di sela lumatannya.

= = = = = = = = = = = = = = = = =

To: My King Kim Heechul

 

Kau tahu saat aku pertama melihatmu, sumpah demi apapun saat itu aku benar-benar seperti bermimpi bertemu dengan idolaku atau mungkin lebih dari sekedar idola untukku, aku sendiri tidak tagu perasaanku saat itu. Entahlah dan kumohon jangan dibahas!!! Saat tahu aku akan menikah denganmu, sumpah saat itu aku ingin sekali berteriak dan mengatakan pada dunia bahwa aku akan menjadi istri dari Kim Heechul. Dan saat ini aku lebih bersyukur kepada Tuhan untuk kepercayannya menitipkan sebuah benihmu dalam rahimku. Aku hamil, benihmu!!! SAENGIL CHUKKAE YEOB, MIANHAE AKU TAK BISA MEMBERIKANMU HADIAH INGAH.:’)

 

With  Love,

 

Choi Rae Hee

 

 

EPILOG

 

Rae Hee menggeliatkan badannya saat cahaya senja dengan indahnya memasui kamar Rae Hee. Dengan enggan ia mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Yeobo…” panggilnya pada suaminya – Kim Heechul – sembari meraba tempat di sampingnya. Tidak ada. Ia tidak menemukan Heechul. Ia baru ingat kalau Heechul sedang ada di luar kota untuk melakukan syuting drama. Dengan langkah gontai karena memang sekarang ia sedang pusing Re Hee berjalan ke kamar mandi.

“Hoek… hoek….” Rae Hee mual. Ia teringat kalau ia sudah telat datang bulan lalu ia tersenyum.

~oOo~

Kalimat dokter terus terngiang di telinga Rae Hee. Seperti ada hujan bunga yang turun menerpa wajahnya, Rae Hee tak henti-hentinya untuk tersenyum dan tidak memperdulikan tatapan aneh dari semua orang yang ada d koridor rumah sakit itu. Baginya tak ada rasa lain selain rasa bahagia yang menghinggapi gidupnya. Bagaimana tidak?? Ini vonis dokter yang menurutnya paling indah bahwa ia harus menjaga titipan Tuhan. Ia hamil. Segera ia ambil ponsel berniat untuk menghubungi Heechul, tapi kemudian niat itu ia urungkan mengingat seminggu lagi Heechul akan berulang tahun.

~oOo~

“Apa kau yakin akan melakukan ini Hee-ya??” Tanya Lee Donghae. Rae Hee membalasnya  hanya dengan senyuman dan meletakkan cup green tea-nya.

“Aku yakin, oppa….” Jawab Rae Hee dan kembali tersenyum seolah  yang dipertanyakan oleh Donghae adalah pertanyaan yang lucu dan tidak mesti dipertanyakan.

“Baiklah!!” ujar Donghae seraya menghembuskan nafas berat dan ia menghempaskan punggungnya di sandaran kursi.

“Mianhae oppa, aku melibatkanmu dalam sandiwara ini…”

“Gwenchana… anggap saja ini hadiah pernikahanmu karena oppa tidak dating pada pesta kalian. Kau juga yeodongsaeng oppa satu-satunya.”

“Gomawo oppa…”

~oOo~

“Oppa kau siap?? Sebentar lagi rumahku dan kuyakin Heechul oppa sedang menungguku.”

“Kau benar-benar gila Hee-ya.”

Lee Donghae berlari memutar untuk membukakan pintu penumpang dan munculah Rae Hee. Rae Hee tersenyum amat lembut dan manis pada Donghae.

“Gomawo oppa.” Rae Hee mengecup sekilas pipi Donghae.

“CHOI RAE HEE-ssi, APA URUSANMU DENGANNYA SUDAH SELESAI???” geram Heechul oleh tingkah dua manusia di hadapannya. Rae Hee memutar tubuhnya untuk menghadap Heechul, ia hanya tersenyum kecut pada Heechul. Rae Hee berlalu dan mengacuhkan tatapan mematikan oleh Heechul. Ia terus melangkah memasuki rumahnya meninggalkan dua namja yang sedang beradu tatapan membunuh. Setelah dipastikan Rae Hee sudah masuk, dengan santai Donghae berpamitan kepada Heechul dan memasuki mobilnya tanpa memperdulikan Heechul yang serasa ingin menumpahkan amarahnya.

Di balik pagar Rae Hee menatap punggung Heechul dengan sebuah senyuman.

“Mianhae yebo, aku melakukan ini,” desis Rae Hee lalu ia berlalu Memasuki rumahnya.

~oOo~

BLAAMMM

“YAK!! NYONYA KIM HEECHUL!!! Apa kau tidak sadar kalau kau sudah menjadi istriku? Kenapa kau yang harus marah? Seharusnya aku yang marah karena ISTRIKU DIANTAR PULANG OLEH SEORANG NAMJA YANG TAK LAIN ADALAH MANTAN KEKASIHNYA!!” Teriak Heechul dari luar pintu. Ia frustasi dan mengacak-acak rambutnya, yang sudah ia anggap sebagai mahkotanya. Sungguh ia seperti kehilangan wibawa sebagai seorang dictator dan seorang Yang Mulia Tuan Kim Heechul di hadapan istri yang teramat ia cintai. Tapi bukan seorang Kim Heechul namanya jika ia tidak bisa membuat istrinya tunduk patuh pada perintahnya.

Di dalam kamar Rae Hee mati-matian menahan tawa. Sungguh ia tidak menyangka Heechul kehilangan dictator-nya.

~oOo~

“Kenapa kau membawaku kemari Hee-ya?” tanya Donghae penasran yang memang sedari tadi tangannya ditarik oleh Rae Hee.

“Anniyo, aku hanya ingin kemari oppa…” dusta Rae Hee. Rae Hee mengajak Donghae ke sebuah coffee shop terkenal H&G dan ia juga menarik tangan Donghae menuju e sebuah tempat kenangannya dulu.

Tak berapa lama mereka duduk, tibalah seorang waitress membawa menu dan kemudian mencatat pesanan mereka.

“Oppa kau tahu, sebentar lagi Heechul oppa akan kemari.”

“MWO??!!! Aish jinjja!!!”

“Oppa kenalkan aku dengan teman wanitamu.”

“Untuk apa??”

“Saat hari itu, aku yakin jika Heechul oppa akan mabuk dan aku akan memanfaatkan itu.”

“Kau gila!!”

“Dengarkan dulu bodoh!! Aku juga tak rela jika suamiku disentuh yeoja lain. Saat ia bangun, aku akan marah padanya selah ia sudah berselingkuh, padahal kan itu rekayasaku.”

“Kau gila Hee-ya.” Rae Hee hanya tersenyum lebar.

~oOo~

Napas Rae Hee memburu setelah ia menabrakkan lamborghini-nya ke sebuah pagar rumahnya. Tidak, ia tidak menabrak Heechul. Saat itu ia menyerongkan lamborghini-nya tanpa menyentuh Heechul setipis apapun jaraknya.
“Aww…” Rae Hee meraba dahinya yang sedikit berdarah.
“Bodoh!!” Rae Hee hanya tersenyum setelah mengucapkan kata itu pada dirinya sendiri.
Heechul pun membuka matanya saat ia mendengar suara keras dari arah belakangnya. Ia membelalakan matanya saat dilihat Rae Hee justru menabrak pagar rumahnya.

“Demi apapun, ini di luar perkiraanku.” Rae Hee merutuki rencana yang ia buat.

~oOo~

THE END