Seorang gadis tengah duduk di hamparan rerumputan di sebuah taman kota. Gadis itu menengadahkan kepalanya menatap awan, punggungya ia sandarkan pada batang pohon.

Ia sedang mendengarkan musik terlihat dari sebuah headset yang menempel di kedua telinganya. Ia menoleh saat namanya dipanggil oleh sorang gadis lain memakai dress selutut berwarna kuning.

Choi Yera – nama gadis lain itu menghampiri sahabatnya – Lee Hyo Sun – yang tengah duduk di hamparan rumput. Setelah sampai Yera mengatur nafasnya yang tersengal-sengal dan meyambar air mineral yang akan diminum oleh Hyo Sun membuat Hyo Sun mendelik kearahnya dan Yera hanya membalasnya dengan senyuman tanpa dosa setelah ia menenggak habis air mineral itu.

“Kau kenapa??” Tanya Hyo Sun menatap wajah Yera dan menghempaskan tubuhnya di atas rumput.

“Aku BAHAGIAAAAAAAA……” teriak Yera sembari berdiri dan jingkrak-jingkrak yang justru mengundang pandangan aneh dari semua pengunjung taman. Hyo Sun yang sedang berbaring dengan terpaksa kembali duduk dan menarik pergelangan tangan Yera agar gadis itu tidak melakukan hal yang lebih memalukan seperti tadi.

“Kau gila Yera-ya!!!” cibir Hyo Sun tapi justru membuat Yera memeluknya dengan sangat erat.

“Ye… uhuk uhuk… rrraaa….” ujar Hyo Sun ketika pelukan Yera membuatnya hampir mati karena tercekik. Yera yang menyadari sahabatnya tercekik oleh ulahnya segera melepaskan pelukan dan tersenyum dengan wajah tanpa dosa. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya dan memejamkan mata, senyuman pun tidak terlepas dari bibir mungilnya,  gurat bahagia yang begitu jelas membuat Hyo Sun mendecak kesal karena ia sebagai korban ekspresi kebahagiaan Yera.

“Kau aneh sekali Yera-ya,” ujar Hyo Sun sembari ikut menghempaskan tubuhnya di atas rumput tepat di samping Yera.
“Hahahaha aku tidak peduli. Kau tahu Hyo Sun-ah, aku sudah dilamar oleh namjachingu-ku,” ujar Yera teramat senang sembari duduk dan memutar tubuhnya agar menghadap Hyo Sun yang tengah berbaring.
“Jinjja?! Hahaha kurasa namja itu sudah gila karena telah melamar gadis aneh macam dirimu Yera-ya,” ujar Hyo Sun sembari ikut duduk dan tepat saat ia memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Yera, Yera terlebih dahulu menoyor kepala Hyo Sun dan mencibirnya. Hyo Sun hanya mendelik, sungguh ia sangat kesal atas sikap Yera hari ini terhadapnya.
“Kau belum tahu, ralat kau sudah tahu namja itu siapa mengingat kau adalah ELF, tetapi kau belum mengenalnya secara langsung. Dan kupastikan kau akan patah hati olehnya,” papar Yera secara menggebu-gebu.
“Benarkah?? Ckckck,” tanya Hyo Sun dengan maksud mengejek.
“Aku berani bertaruh tentang itu,” ujar Yera memamerkan evil smirk-nya yang ia pelajari dari Cho Kyuhyun.
“Jika aku tidak patah hati, aku akan membunuhmu Yera-ya,” ujar Hyo Sun cekikikan.
“Boleh saja, tapi jika kau patah hati aku juga akan membunuhmu…”
“Dan sebelumnya aku akan membunuh calon suamimu itu,” tambah Hyo Sun menyela perkataan Yera dan kembali Yera menoyor kepala Hyo Sun.
“Aish!! Jinjja!!” pekik Hyo Sun, Yera hanya tertawa melihat ekspresi kesal Hyo Sun. Ia benar-benar senang, sampai-sampai ia menjahili sahabatnya yang terkenal dengan sifat dinginnya kepada semua orang, terkecuali dirinya.

 
Ya, Yera dan Hyo Sun adalah sahabat sejak mereka kecil dan rumah mereka yang bertetangga. Mereka terkenal di Universitas Seoul karena kepribadian yang unik dan bertolak belakang. Sifat Yera yang ‘terkadang-kadang’ mampu menyeimbangi sifat Hyo Sun yang misterius, dingin dan susah ditebak.

Dua hal yang unik diantara mereka. Pertama adalah saat salah satu akan melakukan suatu keinginannya harus mendapat persetujuan dari satu sama lain. Mau tidak mau harus dituruti. Kedua adalah walaupun mereka bersahabat, saat menginjak remaja, baik Yera maupun Hyo Sun mereka berjanji untuk tidak memberitahu siapa namjachingu mereka sampai mereka menikah nanti.

Yera memandang langit, sesekali ia tersenyum karena melukis wajah namjachingu-nya-Yesung- dengan jari telunjuknya di langit, lalu ia kembali menghempaskan tubuhnya. Sedangkan Hyo Sun ia kembali mendengarkan musik melalui ipad-nya.

 

“Kau tahu Hyo Sun-ah, apa yang membuatku bahagia selain aku akan menikah dengan orang kucinta?” ujar Yera sembari memejamkan matanya seolah sedang menerawang sesuatu.
“Hmm…” Hyo Sun menatap lekat wajah Yera menantikan apa yang akan dikatakan Yera selanjutnya.
“Hal yang paling membuatku bahagia di dunia ini adalah mempunyai sahabat sepertimu. Sahabat yang sudah kuanggap seperti saudara kembarku. Sahabat yang mampu membuatku merelakan apapun yang kupunya demi kebahagiaanya. Bagiku kau tetap menjadi nomor 1,” ujar Yera tetap memejamkan matanya dan membuat senyuman terlukis di bibir Hyo Sun.

 

“Walaupun terkadang kau menyebalkan dan misterius sehingga aku tak mampu menebak apa yang kau pikirkan, kau tetap sahabatku. Aku menyayangimu Hyo Sun-ah lebih dari aku menyayangi namjachingu-ku…” ujar Yera menggantung dan menarik nafas untuk melanjutkan ucapannya.
“Kalian adalah dua orang yang berarti dalam hidupku. Dan jika aku dengan kalian dalam posisi bahaya atau kita sedang tenggelam di samudra dan hanya ada satu perahu yang cukup untuk dua orang saja, aku ingin kalian lebih dahulu selamat. Walaupun aku mencintai namjachingu-ku dan tidak bisa bernafas tanpanya, tetapi aku jauh tidak bisa bernafas lagi tanpamu. Pokoknya apapun yang terjadi, kau tetap sahabatku dan aku akan selalu memaafkanmu jika kau melakukan kesalahan.” Yera menggenggam kalung yang berbandul cincin pemberian Yesung.

 

Ia benar-benar bahagia seakan ia hanya orang yang ada di dunia ini sendiri. Ia ingin meluapkan semua rasa bahagia itu. Hyo Sun, ia terharu. Sungguh ia juga bahagia mempunyai sahabat seperti Yera. Mereka terus bercengkerama di taman itu. Tak jarang pula mereka saling meneriaki satu sama lain, menjitak dan menyentil dahi. Tidak memperdulikan pandangan aneh dari pengunjung taman.
“Hyo Sun-ah,” panggil Yera sembari memamerkan senyum jahilnya.
“Ne, waeyo?” tanya Hyo Sun dengan hati-hati karena melihat senyuman Yera.
Satu kelemahan dalam diri Hyo Sun, dengan sifatnya yang misterius, ia selalu menjadi korban keusilan Yera tanpa mampu membalasnya.

 

“Kkajja! Kita pergi kencan,” ujar Yera cekikikan sembari berdiri dan menyeret Hyo Sun.
“YAK! YAK! Lepaskan aku! Kau pikir aku namja, huh?!” pekik Hyo Sun sembari meronta melepaskan diri.

 

Yera menyipitkan matanya dan melihat Hyo Sun dari atas sampai bawah, ia mendecak tidak percaya bahwa Hyo Sun bukanlah seorang namja.
“Ye, kau bukan yeoja! Lihatlah penampilanmu! Kau memakai jeans dengan kaos longgar seperti namja dirangkap dengan kemeja namja juga, dan lihatlah rambut panjangmu justru kau tutup dengan topi,” cibir Yera sembari membuka topi dan membiarkan rambut Hyo Sun tergerai tertiup angin.
“Apa dulu kau juga tidak seperti ini, huh?! Kau bahkan sering berkelahi dengan beberapa namja sekaligus. Kemarikan topiku!!” sungut Hyo Sun sembari mengambil topi dari tangan Yera.
“Yak! Itu sebelum aku mengenal cinta. Dan sekarang aku sudah berubah!!” ujar Yera membela diri sembari menyeret kembali Hyo Sun.
“Aish! Kau jangan menyeretku seperti ini!! Aku bisa sendiri!!” dengus Hyo Sun.

 

Mereka terus melempar cacian saat mereka berjalan menjauhi tempat yang mereka duduki tadi sampai pandangan mata Hyo Sun tertuju pada dua namja yang salah satunya namja yang ia cintai.
“OPPAAA…” teriak Hyo Sun sambil berlari menghampiri namja itu yang akan memasuki sebuah mobil mewah.

Yera pun ikut berlari menyusul Hyo Sun. Ketika sampai di tempat, Yera terkejut siapa kedua namja itu, kedua namja yang kini sudah melajukan mobilnya, membuat hati Hyo Sun mencelos. Hyo Sun menangis, sesuatu yang tidak biasa baginya juga bagi Yera yang melihatnya. Yera mengusap air mata Hyo Sun dan memeluknya.

 

“Kita pulani aku akan mengantarmu,” ajak Yera lembut.
“Anniyo, aku bisa pulang sendiri Yera-ya,” tolak Hyo Sun dengan nada tinggi sembari melepaskan pelukan Yera.
“Arra.. Kau pulangnya hati-hati.” Yera khawatir dengan keadaan Hyo Sun. Ia ingin mengantarkan Hyo Sun pulang, ia takut terjadi sesuatu yang buruk padanya. Tapi, Yera juga mengerti niat baiknya tidak akan diindahkan oleh Hyo Sun.
Ya, semenjak Hyo Sun pindah rumah, tinggal di apartement sendiri dan tidak lagi bertetangga dengannya, Hyo Sun seperti menutup diri. Hyo Sun tidak suka jika siapapun berkunjung ke apartement-nya termasuk Yera yang notabene adalah sahabatnya. Yera menghela nafas ketika Hyo Sun berjalan tertatih meninggalkan dirinya.

 

Benar-benar bukan Hyo Sun yang ia kenal.
Yera merogoh ponsel di tas miliknya. Ia memencet tombol dial seperti ingin menghubungi seseorang.

 

 

~oOo~

 
Secret person POV

 

 

Aku berjalan terus tanpa henti, tidak perduli pandangan aneh dari semua orang, ingin sekali aku mengejarnya mengejar cintaku.
Tapi apa mungkin? Dia tidak pernah memandangku.

 

Tidak pernah menganggapku lebih. Hatiku sakit, teramat sakit. Aku benar-benar mencintainya, mencintainya lebih dari apapun. Semua akan kuberikan termasuk nyawaku jika ia memintanya.
Bodoh. Aku memang bodoh karena terlalu mencintainya. Menyesal? Hahaha aku tidak akan menyesal untuk mencintainya.

 

Apapun yang terjadi dia harus menjadi milikku!!

 

Tak terasa aku telah sampai di pintu apartement-ku, aku tekan tombol angka kelahirannya sebagai password apartement. Kulihat apartement-ku kacau seperti tak terurus. Aku hanya tersenyum kecut, aku terus melangkah menuju kamarku tanpa berniat untuk membersihkannya.

 

CKLEK

 

Kini aku masuk ke kamarku, kamar bernuansa biru gelap. Pandanganku tertuju pada semua foto seorang namja, namja yang membuatku gila karenanya. Kembali. Aku menitihkan air mata, air mata sakit. Bukan, mungkin bukan air mata cinta.

 

Aku mendekat pada sebuah foto berukuran besar, aku menciuminya layaknya aku mencium namja itu secara langsung. Aku menjilatinya. Detik kemudian aku hancurkan semua benda yang ada. Aku berteriak histeris dan menangis. Aku terduduk dengan melipat kakiku sebagai penyangga tubuhku.
Aku melihat ada sebilah pisau yang tergeletak begitu saja di kamarku. Dengan mata masih berat karena tangisan aku mengambilnya. Lalu aku berdiri lagi dan menatap intens foto namja itu.

 

Kugoreskan huruf demi huruf membentuk sebuah nama, nama cintaku di lengan tangan kiriku. Sakit. Tentu saja terasa sakit, tapi hatiku lebih sakit. Cinta yang tak pernah terbalas.
“KAU LIHAT INI APA?! INI NAMAMU OPPA!!” teriakku pada fotonya.
“Aku mencintaimu, bisakah kau membalasnya? Aku tidak peduli sakitnya seperti apa. Aku benar-benar mencintaimu,” lirihku dengan menancapkan pisau itu di dinding kamarku. Tetesan darahku pada pisau itu, aku menjilatinya. Lengan tanganku pun aku menjilatnya.

Aku keluar menuju dapur, dan kuambil segenggam garam dan kembali lagi untuk menunjukkannya pada namja itu. Aku taburi luka pada lenganku ini. Perih. Tentu saja.
“HAHAHAHAHAHAHAHAHA.” Aku tertawa ironis. Tiba-tiba tubuhku oleng, aku terjatuh dan semuanya menjadi gelap.

 
~oOo~

 

 

One Week letter

 

 

Author POV

 

 

Seorang yeoja tengah berbaring di sebuah ranjang. Matanya terpejam dengan suhu badan cukup tinggi.
Yeoja itu dengan tidak sadar menarik sprei. Keringat bercucuran dari dahinya. Tubuhnya ia arahkan ke kanan dan ke kiri secara kasar.

 

“Opppaaaaaa…..” teriak Yera-yeoja itu-membuat seorang namja bertubuh kekar menghampirinya dengan begitu khawatir.
“Yera-ya! chagi! Kau kenapa?” tanya Siwon panik dan memnagmbilkan air mineral yang ia ambil dari sisi tempat tidur Yera lalu meminumkannya. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Siwon, ia justru memeluk tubuh Siwon dan menumpahkan tangisannya pada pelukan Siwon. Siwon mengerti, ia pun membelai rambut Yera dengan lembut. Ia tidak akan memaksa Yera untuk menceritakan apa yang Yera mimpikan sampai Yera sendiri yang mau bercerita kepadanya.
“Oppa…” panggil Yera disela tangisnya.
“Ne…” jawab Siwon masih membelai rambut Yera.
“Ak…aku….aku…” ujar Yera terbata dan masih terisak.
“Sudahlah chagi, kalau kau belum tenang, jangan cerita dulu,” ujar Siwon dengan lembut.

 

“Anniyo, aku… tadi…aku….bermimpi buruk oppa. Yesung oppa…dia….dia….dia meninggalkanku untuk selamanya oppa… Aku takut.” Tangis Yera kembali pecah.
“Sudahlah chagi, Yesung hyung tidak akan meninggalkanmu, ia begitu mencintaimu. Kau percaya padanya kan? Kalau kau percaya padanya, kau pasti yakin ia tak akan meninggalkanmu. Itu hanya bunga tidur saja. Kau kembalilah tidur,” ujar Siwon lembut sembari membelai rambut Yera.
“Oppa temani aku tidur, aku takut sendiri.” Yera masih sesenggukan dan mencoba berbaring sambil tetap memegang erat tangan Siwon.
“Ne, oppa akan menemanimu chagi,” ujar Siwon.
Kiranya Yera sudah terlelap, Siwon dengan hati-hati melepaskan genggaman Yera, ia menyelimuti Yera dan mencium keningnya kemudian ia beranjak pergi dari kamar Yera dan masuk ke kamarnya.
Diambilnya ponsel yang berada di sisi ranjangnya dan langsung menghubungi seseorang.
“Yeobseyo..”

 

“…”
“Hyung, Yera bermimpi buruk lagi, dan ini sudah ketiga kalinya ia bermimpi yang sama secara terus menerus.”

 
“…”
“Dia sudah istirahat kembali, tetapi tubuhnya masih lemah.”
“…”
“Kau tahu sendiri kan kalau anak itu anti terhadap obat. Sekalinya ia minum obat, ia hampir over dosis. Sepertinya ia mau minum obat jika kau sudah memarahinya.”
“…”
“Ne hyung.”

 

Siwon memutuskan sambungan teleponnya. Ia menghela nafas berat. Ia teringat saat sebelum Yera jatuh sakit. Yera bercerita kalau sahabatnya tidak bisa dihubungi sampai-sampai ia sakit karena kekhawatirannya pada sahabatnya itu. Sungguh Siwon tidak mengerti jalan pikiran Yera. Siwon menyandarkan punggungnya di headboard. Semenjak Yera sakit, ia harus menemani dan menjaganya. Bersyukur Yesung selaku tunangan Yera juga ikut menjaga Yera.

 
~oOo~

 

 

Sore itu Yesung tengah bersiap-siap akan menemui Yera. Setelah ia mengisi sebuah acara, ia kembali ke dorm dan mengganti pakaiannya dengan lebih casual. Saat hendak memutar knop pintu keluar dorm, ia menoleh saat seorang namja berbadan kecil menghampirinya yang menenteng sebuah bingkisan.
“Hyung… Kau tidak berniat melupakan ini bukan??” namja itu menyerahkan bingkisan tersebut.
“Ah ne, gomawo Wook-ah. Joa, rasa buburnya bagaimana?”
“Menyedihkan hyung,” sambar Kyuhyun yang tetap fokus memainkan PSP-nya.
“Annio, rasanya enak. Apakah Yera mau memakan bubur? Ehm, maksudku bukannya ia tak suka bubur hyung?”
“Ne, tapi hari ini aku akan memaksanya. Kalau tidak mau makan bubur, dia mau makan apa? Nasi atau kimchi saja ia tak nafsu.”
“Betul hyung, dia memang aneh.”
“Dia aneh sepertimu hyung!” tambah Kyuhyun yang masih bermain PSP di sofa.
“Diam kau setan kecil!!” Yesung melemparkan sepatu yang ada di dekatnya kepada Kyuhyun, dan Kyuhyun hanya mendengus kesal setelah sebuah sepatu mendarat sukses di kepalanya.
“Wook-ah, gomawo.” Yesung pun berlalu dari dorm.

 
~oOo~

 

 

Di perjalanan Yesung menyempatkan untuk menghubungi Yera sampai-sampai ia kehilangan fokus menyetir.

 
CIITT

 
Yesung mengerem mendadak saat ia merasa akan menabrak seorang yeoja. Yeoja itu terjatuh karena tersentak. Yesung segera keluar untuk melihat keadaan yeoja tersebut.
“Ahgassi, neo gwenchana?” tanya Yesung sembari membantu yeoja itu berdiri.
“Gwencha…” ucapan yeoja itu terputus saat matanya memandang sosok Yesung.
“Oppa… Yesung oppa…” ujar yeoja itu dengan mata masih memandang lekat wajah Yesung. Pandangan aneh menurut Yesung, pandangan ingin memiliki, pandangan terluka. Ia segera membalik badan setelah ia membungkukan badannya pada yeoja itu. Dengan cepat Yesung melajukan mobilnya. Di dalam mobil, sesekali Yesung melihat yeoja itu dari kaca spion, yeoja tersebut masih terpaku.

 

~oOo~

 
Seorang gadis kembali mengukir sebuah nama di lengan tangan kanannya dengan sebuah silet.
Gadis itu duduk di pojok ruangan kamarnya sembari menangis tersedu-sedu. Detik kemudian gadis itu menghapus air matanya dan menatap lurus dengan tajam sebuah foto seorang namja. Pandangan penuh cinta dan juga penuh kebencian. Seulas senyuman sinis terlukis di bibirnya. Kemudian ia tertawa begitu lirih dan berteriak.

 

Darah yang bercucuran tidak membuat gadis itu merasa jijik, ia justru kembali menjilatnya. Gadis itu juga mengacak rambutnya sendiri. Mata yang bengkak menambah penampilannya seperti orang gila.
“KENAPA KAU MENGACUHKANKU BEGITU SAJA?! TIDAKKAH KAU LIHAT BAHWA AKU SANGAT SENANG BERTEMU DENGANMU?! APAKAH KAU TAKUT MELIHATKU, HUH?! HAHAHAHAHAHAHAHA..” gadis itu dengan indah memukul tangannya pada sebuah cermin yang terletak di samping kanannya.

 

 

~oOo~

 

Yesung telah sampai di apartement Yera, ia ingin segera menemui Yera, tetapi langkahnya terhenti saat Siwon memanggilnya.
“Hyung!!” Yesung pun menoleh.
“Yera tidak ada di kamarnya, dia sedang menikmati semilir angin sore di taman belakang apartement ini,” ujar Siwon sembari duduk di sebuah sofa.

 

Yesung melangkah menuju sebuah taman. Taman bunga dengan berbagai macam bunga, baik dari Korea maupun dari negara lain, semua menjadi satu di taman ini. Taman yang sengaja diciptakan oleh keluarga Choi sebagai hadiah ulang tahun putrinya Choi Yera yang ke-17 tahun. Taman yang terletak di belakang apartement Yera.

 

Di sebelah kanan terlihat rumah kaca untuk macam bunga yang tidak cocok dengan cuaca Korea. Di tengah-tengah ada sebuah ayunan, di depan ayunan tersebut ada sebuah air mancur dengan desain yang indah. Di sebelah kiri terdapat kumpulan pohon yang rindang. Semuanya beralaskan rumput hijau dan terawat.

 

Yesung terus melangkah sampai ia terhenti di belakang sebuah ayunan yang tengah diduduki oleh Yera. Sedangkan Yera sendiri duduk dengan mata terpejam menikmati hembusan angin. Ia tidak tahu kalau Yesung sudah ada di belakangnya sampai Yesung mengalungkan tangan kanannya pada leher Yera sedangkan tangan kirinya membawa sebuah bingkisan. Yera terlonjak, ia memutar kepalanya menatap siapa pemilik tangan itu. Ia tersenyum manakala pemilik tangan itu memutar kearahnya dan duduk tepat di sampingnya.

 

“Sedang apa kau di sini??” tanya Yesung sembari membuka bingkisan yang ia bawa.

“Melihat langit…”

“Makan ini,” Yera menoleh kemudian ia mengernyit.

“Kau tak suka???” tanya Yesung dengn wajah murung yang dibuat-buat.

“Anniyo, suapi…..” rengek Yera manja. Yesung pun menyuapi Yera, ia tahu kalau Yera tak suka bubur, namun tetap dipaksakan.

“Habis ini minum obat.” perintah Yesung berhasil membuat Yera membulatkan matanya.

“Akuuuuu……”

“Kau tak suka???  Walau ini permintaan oppa??”

“Baiklah, mana obatnya?” Yera pasrah.

“Ini obatnya chagiiiii,” sambar Siwon.

Yera menghela nafas berat. Sungguh ia tak suka minum obat. Yera memulai meminumnya, sedangkan Yesung dan Siwon hanya tersenyum geli ketika Yera hampir memuntahkannya kembali. Keadaan cuup membaik dengan tahu diri(?) Siwon meninggalkan mereka berdua.

Lama mereka menikmati senja di taman itu. Keadaan Yera yang memang kurang baik membuatnya mengacuhkan tingkah Yesung. Yesung yang menyadari sikap Yera itu, segera membalikkan badan Yera agar menghadapnya.

“Kau kenpa?” tanya Yesung membuat Yera menangis seketika. Walau ia tahu kenapa Yera sampai menangis , ia terenyuh.

“Uljimaa….” Yesung merengkuh tubuh Yera ke pelukannya dn mengelus lembut punggung Yera.

“Aku takut oppa….. Aku sangat takut. Takut kehilanganmu, takut jika kau meninggalkanku selamanya,” papar Yera disela tangisnya membuat Yesung melepaskan pelukannya.

“Kau tidak percaya oppa??” tanya Yesung membuat Yera menundukkan kepalanya.

“Jika kau percaya oppa, tanamkan dalam hatimu bahwa oppa tidak akan pernah meninggalkanmu, walau itu sebatas mimpi pun oppa tidak akan pernah meninggalkanmu. Satu menit, satu hari atau bahkan selamanya oppa akan selalu ada di sampingmu. Seumur hidup oppa, oppa akan selalu mencintaimu. Jikalau oppa pergi, tunggulah di taman ini, oppa pasti akan kembali untuk menemuimu.” Ucapan Yesung seketika seperti menghipnotis Yera untuk berhenti menangis.

“Kau janji oppa?? Kau tidak akan berbohong padaku??” Yesung hanya tersenyum. Senyuman begitu lembut.

“KKajja, kita masuk ke dalam, nanti kau masuk angin,” ujar Yesung dengan tiba-tiba menggendong tubuh Yera.

 

~oOo~

 

 

Seminggu telah berlalu, kini Yera sudah kembali ceria. Ia dan Yesung hari ini pula akan pergi ke toko butik untuk mencoba pakaian pengantin mereka.

“Neomu kyeopta,” ujar Yesung tanpa sadar ketika Yera keluar dari kamar ganti memakai gaun pengantin berwarna putih yang elegan dan terlihat sangat polos. Mata Yesung pun tidak sekalipun berkedip saat Yera dengan anggun ber jalan menghampirinya.

“Gomawo oppa,” bisik Yera tepat saat ia telah sampai di samping Yesung yang memakai setelan tuxedo putih.

“Ahgassi, bisa bantu potret kami sebantar??” tanya Yesung pada penjaga butik.

“Ye.” penjaga butik itu memotret Yesung dan Yera yang berpose sangat indah dan alami.

Yesung menatap lembut manik mata Yera, begitupun Yera. Pandangan mereka yang penuh dengan cinta seakan ingin menghentikkan waktu untuk sementara.